gus baha' ngaji

Ngaji Gus Baha’: Jadi “Bodoh” Atas Perintah Allah Itu Ilmu Tertinggi

Posted on

Manusia seringkali ingin terlihat pintar di hadapan sesamanya. Apalagi kalau menjelaskan ajaran Allah, seolah ia paling faham atas tafsirnya. Tentu saja itu bagus, tapi tidak selamanya itu menjadi sangat bagus. Dalam konteks yang lain, untuk menjalani syariat Allah, manusia justru harus jadi “orang bodoh” yang taat apa adanya atas syariat yang dijalani.

Gus Baha’ punya penjelasan unik terkait hal ini. Bagi Gus Baha’,¬†ajaran agama itu sifatnya ubudiyah. Pokoknya kalau Allah memberi perintah harus sami’na wa ato’na.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

“Makanya, saya dimana-mana berkali kali berkata. Kamu jangan menerka pikiran Allah, karena Allah itu butuhnya nurut bukan benar,” tegas Gus Baha’.

Gus Baha’ juga menegaskan bahwa “bodoh” itu ilmu tertinggi.

“Karenanya, saya itu, jika ada santri “bodoh” yang tidak tahu alasan Allah memberi perintah, itu ilmu tertinggi di atas ilmu fikih. Maqomnya sangat tinggi, karena tahu perintah Allah tanpa tahu alasannya. Tapi kalau agama di ajarkan oleh orang bodoh ya rusak, karena dimana-mana orang bodoh itu ya merusak, tapi sok pintar juga merusak,” lanjut Gus Baha’.

“Akhirnya, ulama itu kadang terlihat pintar kadang terlihat “bodoh” jadi tidak jelas karena itu tadi,” katanya lagi.

Gus Baha’ memberikan penjelasan terkait sujud dalam shalat.

“Kamu kalau sujud pada Allah, sujud yang paling resmi itu berapa anggota tubuh yang sujud? Yaitu, dahi, dua tangan, dua lutut, dan dua kaki, berarti tujuh anggota. Di Mazhab Syafi’i, semua sepakat dengan itu. Tapi di bagian Mazhab Syafi’i yang lain, ada yang berkeyakinan bahwa sujud sah asal wajah sampai nempel tanah meskipun lutut terangkat,” kata Gus Baha’.

Baca Juga >  Ngaji Burdah 13, Rambutnya telah Beruban Memasuki Fase Kedewasaan

Dalam hal sedekah, misalnya, lanjut Gus Baha’, yang penting itu kamu ikhlasnya, bukan kamu berikan kepada siapa. Demikian juga dalam sujud, Gus Baha’ menekankan kita untuk selalu ikhlas sujudnya. Pokoe manut sama perintah Allah.

Dalam hal ibadah ini juga, Gus Baha’ juga mengisahkan Imam Malik bin Anas dan muridnya, Imam Asy-Syafi’ie.

“Dalam suatu “gojlokan” Imam Malik dengan Imam Syafi’ yang sangat masyhur. Imam Malik sebagai senior berkata pada Imam Syafi’i. “Kamu Syafi’i mempunyai pembantu, terus kamu suruh membongkar sebuah batu besar yang di bawahnya ada emas, kalau pembantu yang loyal, di bawah batu itu ada emas atau tidak, jika diperintah ia akan langsung membongkar tanpa protes banyak alasan. Pokoknya sami’na wa atho’na. Kemudian ada lagi pembantu yang diperintah karena mengetahui keberadaan emas itu, ia nurut karena logis. Membongkar batu yang di bawahnya ada emas. Suatu saat pembantu yang kedua tersebut diberi tugas tanpa alasan dia bisa melawan, “kenapa ada tugas seperti ini, kalau tidak urgen jangan dong”. Nah menjengkelkan tidak, pembantu model seperti itu?”

Begitulah Gus Baha’ mengajari kita untuk jadi “bodoh” dalalam menjalani syariat Allah. Belajar jadi bodoh tentu tidak mudah, karena sejak kecil kita diajari jadi orang sok pintar. (Abu Umar/Bangkitmedia.com)