Gus Mus Membaca Puisi

Nazar Ibu di Karbala, Puisi Gus Mus untuk Sayyidina Husein

Posted on

Tanggal 10 Muharram; tiba-tiba aku teringat pernah sempat –bersama para penyair kita (Sutardji Calzoum Bachri; Abdul Hadi WM; Taufiq Ismail; Alm. Leon Agusta; dan Alm. Hamid Jabbar) ziarah ke makam Sayyidina Husein di Karbala. Bahkan aku sempat buat ‘sajak’ ini:

Nazar Ibu di Karbala

Oleh: Gus Mus

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Pantulan mentari

Senja dari kubah keemasan

Mesjid dan makam sang cucu nabi

Makin melembut

Pada genangan

Airmata ibu tua

Bergulir-gulir

Berkilat-kilat

Seolah dijaga pelupuk

Agar tak jatuh

Indah warnanya

Menghibur bocah berkaki satu

dalam gendongannya

Tapi jatuh juga akhirnya

Manik-manik bening berkilauan

Menitik pecah

Pada pipi manis kemerahan

Puteranya

“Ibu menangis ya, kenapa?”

Meski kehilangan satu kaki

Bukankah ananda selamat kini

Seperti yang ibu pinta?”

“Airmata bahagia, anakku

Kerena permohonan kita dikabulkan

Kita ziarah kemari hari ini

Memenuhi nazar ibumu.”

Cahaya lembut masih memantul-mantul

Dari kedua matanya

Ketika sang ibu tiba-tiba brenti

Berdiri tegak di pintu makam

Menggumamkan salam:

“Assalamu ‘alaika ya sibtha rasulillah

Salam bagimu, wahai cucu rasul

Baca Juga >  Gibt Niemals Auf dan Hilangnya Filosofi Permainan Jerman

Salam bagimu, wahai permata zahra.”

Lalu dengan permatanya sendiri

dalam gendongannya

Hati-hati maju selangkah-selangkah

Menyibak para peziarah

yang begitu meriah

Disentuhnya dinding makam seperti tak sengaja

dan pelan-pelan dihadapkannya wajahnya ke kiblat

Membisik munajat:

“Terimakasih, tuhanku

dalam galau perang yang tak menentu

Engkau hanya mengujiku

Sebatas ketahananku

Engkau hanya mengambil suami

Gubuk kami

dan sebelah kaki

Anakku

Tak seberapa

Dibanding cobamu

Terhadap cucu rasulmu ini

Engkau masih menjaga

Kejernihan pikiran

dan kebeningan hati

Tuhan,

Kalau aku boleh meminta ganti

Gantilah suami, gubuk, dan kaki anakku

dengan kepasrahan yang utuh

dan semangat yang penuh

untuk terus melangkah

pada jalan lurusmu

dan sadarkanlah manusia

Agar tak terus menumpahkan darah

Mereka sendiri sia-sia

Tuhan,

Inilah nazarku

Terimalah.”

Karbala, 1409