Momen Kritis Peradaban Modern di Tengah Corona.
Sudah lebih tiga bulan Corona bersama kita. Dibanding masa awal wabah, kini peta pandemi telah berubah wajah.
Pada Januari lalu, Corona memusat di Asia, khususnya Asia Timur. Tiga negara, yaitu Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan, mengalami malam kelam Corona yang menguras energi mereka secara lahir dan batin.
Sekarang kondisinya sudah jauh berubah. Tiongkok sudah menggenggam kemenangan mutlak dalam peperangan melawan Corona. Setelah sebelumnya dipersekusi dunia karena menciptakan penyakit baru dan menyebarkannya, Tiongkok sekarang dipuji-puji sebagai negara kuat yang baik hati, yang rela mengulurkan bantuan untuk mengatasi Corona di negara-negara lain. Tiongkok bahkan menolong musuh dagangnya yang paling ngotot: Amerika.
Berkat kualitas manajemen kesehatan yg dipadukan dengan kedisiplinan rakyatnya, Korea Selatan juga relatif berhasil meredam amukan Corona. Negara tersebut telah melewati masa perjuangan yang berat.
Tapi, Tiongkok dan Korea Selatan masih harus mewaspadai serangan Corona gelombang berikutnya. Sebelum mayoritas negara di era global ini sembuh dari pandemi, “ksatria hitam” Corona yang tangguh diprediksi bakal memukul balik lawan yang pernah mengalahkannya. Dibutuhkan gotong royong global untuk mengganyang Corona.
Dan yang paling membutuhkan gotong royong global itu adalah negara-negara yang secara historis menjadi tonggak peradaban modern, yaitu Spanyol, Italia, Perancis, Jerman, dan Amerika. Inilah lima negara yang kini palng kronis terjangkit Corona.
Secara global, mereka menyumbang lebih dari 62 % pasien positif Corona yang terdeteksi dan terlaporkan. Kita tahu, di negara mana pun, angka positif Corona yang dilaporkan hanyalah penampakan dari puncak gunung es. Karena berbagai faktor, masih banyak korban yang tak terdeteksi atau bahkan sengaja dirahasiakan dari telinga publik.
Namun demikian, statistik yang dilaporkan sudah memberikan informasi yang lumayan memancing refleksi. Kini (05/04) Amerika berada di tangga teratas negara yang paling terinfeksi, dengan pasien positif sebanyak 311.357 orang. Jumlah ini meliputi 25,9 % dari jumlah kasus positif secara global, yaitu 1.201.963 pasien. Betapa berat beban yang ditanggung Amerika saat ini.
Peringkat kedua diduduki Spanyol. Tercatat 126.168 pasien positif Corona di tanah matador itu. Di tempat ketiga, ada Italia (124.632). Kampung halaman pujangga Goethe, Jerman, menempati peringkat keempat dengan jumlah kasus sebanyak 96.092 pasien. Perancis berada di urutan kelima (89.953).
Berapa jumlah kasus di Tiongkok yang kini berada di peringkat ke-6? Hanya 81.669, jauh sekali jarak nominalnya dari jumlah kasus positif di Amerika.
“Mengapa Amerika, Spanyol, Italia, Jerman, dan Perancis bisa terinfeksi parah?” adalah pertanyaan yang menarik diperbincangkan dan perlu dijawab. Tapi, dalam catatan ini, saya ingin mengajak Anda memandang realitas dari angle yang lain. Kelima negara itu adalah tonggak hostoris modernitas.
Italia, Perancis, Jerman, dan Amerika memang merupakan simbol modernitas, tapi apakah Spanyol juga menandakan modernitas? Spanyol bukan hanya surga bagi sepak bola–sebuah cabang olah raga modern–indah yang dibalut kompetisi yang menggelinjangkan adrenalin. Spanyol bukan hanya rumah bagi klub Barcelona dan Real Madrid. Spanyol termasuk titik mula dari mana peradaban modern dilahirkan.
Pada Abad Pertengahan, Spanyol pernah menjadi pelabuhan transit bagi filsafat, sains, dan seni level adiluhung. Hal itu terjadi sebelum pencapaian umat manusia tersebut menyeberang ke daratan Eropa lainnya dan ke benua Amerika.
Semasa kekuasaan Dinasti Abbasyiah, Spanyol adalah pusat ilmu pengetahuan dunia. Andalusia, Kordoba, Grenada, dan Sevilla, adalah mercusuar peradaban yang bangkit setelah Islam berhasil secara kreatif mensistesiskan agama di satu sisi dan filsafat/sains di sisi lain.
Spanyol identik dengan para raksasa keilmuan Abad Pertengahan. Kendati lahir di Maroko, Ibnu Rusyd (Averoes) berkarir dan mengajar di Kordoba. Muridnya yang beragama Yahudi, Moses Maimonides, berkelana malang melintang di jagad keilmuan Spanyol. Dan jangan lupa, Ibnu Arabi, filosof + mistikus agung itu, lahir di Spanyol, tepatnya di daerah Murcia. Pendeknya, Spanyol menjadi magnet bagi para pencari ilmu Eropa.
Jauh setelah masa keemasan intelektual di Spanyol, Italia berkembang sebagai pusat kebudayaan yang merintis jalan menuju modernitas. Di sana, muncul barisan kaum humanis yang mencari dan meneliti naskah-naskah tua dengan semangat tinggi.
Merekalah yang mengalihkan orbit peradaban Eropa dari teosentrisme ke antroposentrisme. Merekalah yang pada akhirnya membebaskan Eropa dari abad kegelapan, setelah mengadakan konfrontasi berdarah-darah melawan otoritas geraja. Di antara “mereka” ini adalah Giordano Bruno, Nicolaus Copernicus, Galileo Galilei, dan Leonardo da Vinci.
Sejak kurun transisi tersebut, laju gerakan modernitas tak terbendung lagi. Spirit modernitas menjalar ke negara-negara lain di seantero Eropa, lalu juga ke daratan Amerika. Tonggak keilmuan modernitas adalah Renaissance di Perancis, Aufklarung di Jerman, dan Enlightenment di Inggris, kemudian merambat ke Amerika dalam bentuk filsafat pragmatisme dan liberalisme.
Bersamaan dengan itu, terjadi pula revolusi politik yang berimplikasi ganda. Di satu pihak, ia meruntuhkan sistem monarki bertopangkan doktrin agama. Di lain pihak, ia melahirkan negara bangsa, nasionalisme, dan sekularisme.
Dari segi perekonomian, tonggak modernitas adalah terjadinya revolusi industri yang mendorong revolusi transportasi, memantik inovasi teknologi komunikssi, menjayakan kapitalisme, serta mengintensifkan dan mengekspansikan kolonialisme.
Tapi, revolusi industri itu pula yang mengilhami Karl Marx mengarang Das Kapital dan menyusun Manifesto Komunis. Hikayat krisis iklim yang kita rasakan saat ini juga merupakan dampak dari revolusi industri yang menggelembungkan keserakahan kelas kapitalis.
Tatkala keserakahan tersebut disokong, dipadukan, dan dilegitimasi ideologi antroposentrisme yang diusung modernitas, maka lempanglah jalan bagi manusia untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi alam secara hampir tanpa kendali. Selain secara eksistensial memisahkan manusia dari alam dan mengkonfrontasikan keduanya, antroposentrisme-saintisme juga memupuk sifat angkuh manusia di hadapan alam.
Hidden ideology ini juga melenyapkan kesakralan alam di mata manusia. Padahal, kharisma kesakralan itulah yang selama ini melindungi alam dari pengrusakan dan penjarahan yang dilakukan tangan-tangan serakah.
Kita sudah menyaksikan dampak krisis iklim yang nyaris bernuansa apokalipstik. Suhu bumi meningkat hingga derajat yang membahayakan. Terjadi gejala pemanasan global. Lapisan es di kedua kutub perlahan mencair. Permukaan air laut naik. Negara pulau berukuran kecil terancam tenggelam. Banjir bandang datang bersusulan. Badai memporak-porandakan bangunan di perkotaan.
Kebakaran hutan menggerogoti paru-paru dunia, merusak habitat, dan mengacaukan ekosistem. Tumbuhan langka mulai punah satu demi satu. Hewan-hewan liar, yang kehilangan habitat dan sumber makanan, mengembara ke pemukiman manusia, sekadar mencari makan dan aman.
Konsekuensinya, frekuensi interaksi manusia dan binatang kian rapat, menciptakan sarana bagi virus-virus asing untuk melompat dari hewan ke manusia. Setelah mengalami mutasi sedemikian rupa, virus-virus itu pun bermigrasi dari manusia ke manusia secara amat cepat. Menunggangi globalisasi transportasi yang dibangun selaras dengan peta pertumbuhan ekonomi global, virus-virus tersebut menyebar dari negara ke negara.
Selain merupakan simbol modernitas, Amerika, Perancis, Jerman, Italia, dan Spanyol adalah simpul-simpul penting dalam jaringan ekonomi global yang tampaknya terbentuk secara mantap sejak pasca-Perang Dunia Kedua. Bekerja sama dengan Indonesia, Arab Saudi, dan sejumlah negara di Benua Afrika, Tiongkok berupaya menantang dan melemahkan jaringan “monopoli” ekonomi “Barat” tersebut dengan mengkonsolidasikan jaringan ekonomi alternatif. Demikianlah deskripsi simplistis latar drama perang dagang Tiongkok versus Amerika yang tiba-tiba diinterupsi pandemi Corona.
Akhirnya, Corona-lah yang agaknya akan memutuskan siapa pemenang dalam perang dagang tersebut. Dihajar Corona, Amerika cs bukan hanya terjungkal dalam krisis kesehatan. Ekonomi mereka pun terdampak fatal.
Di kubu lawan, setelah berjibaku bertarung melawan Corona, ekonomi Tiongkok menggeliat bangkit. Ia memimpin gerakan kewirausahaan sosial berskala global. Bila selama ini ekonomi enggan bergandengan tangan dengan kemanusiaan, Tiongkok belajar mengintegrasikan keduanya. Corona membuka bukan hanya celah, melainkan juga pintu gerbang bagi Tiongkok untuk melakukan penetrasi dan ekspansi lebih jauh ke dalam pasar global.
Bagi Tiongkok, Corona menjadi malam wabah yang menerbitkan fajar berkah. Corona menciptakan peluang-peluang ekonomi baru yang minim kompetitor dengan medan tempuh yang mulus.
Sementara itu, bagi negara-negara penyangga peradaban modern, di antaranya Amerika, Spanyol, Italia, Perancis, dan Jerman, pandemi Corona barangkali menandai krisis modernitas. Dikatakan secara lebih halus dan lunak, pandemi Corona barangkali menjadi momen kritis bagi peradaban modern serta keseluruhan penopang ekonominya. Satu lagi barangkali: pandemi Corona boleh jadi merupakan prolog terjadinya pergeseran peradaban (shifting civilization), setidaknya pergeseran pemimpin peradaban global dari tangan Barat kembali ke tangan Timur.
Apapun yang akan terjadi, semua spekulasi tersebut hanyalah kebarangkalian. Waktulah yang akan membuktikan apakah kebarangkalian-kebarangkalian tersebut sesuai dengan realitas ataukah hanya imajinasi iseng belaka.
Penulis: Lev Widodo, alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta








