Islam di Andalusia, Sejarah Peradaban yang Cemerlang

Sejarah Islam di Andalusia Peradaban yang Cemerlang

Posted on

Sejarah Islam di Andalusia Peradaban yang Cemerlang. Sekedar mengenang masa lalu yang indah. Sejarah adalah sumber Pengetahuan.

Andalusia, Spanyol adalah salah satu kota terkenal di Eropa. Ia pernah menjadi salah satu pusat pemerintahan Islam yang besar. Di sanalah Abdurrahman al-Dakhil, (kepada siapa Kyai Wahid Hasyim mengambil nama untuk anak pertamanya), mengakhiri pelariannya dari kejaran pasukan tentara imperium Abbasiah yang dendam kesumat.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Di tempat ini dia mendirikan pemerintahan yang besar bahkan dalam waktu singkat berhasil menandingi kejayaan dan kebesaran Dinasti Abbasiah di Baghdad, yang menjadi lawan politiknya. Ialah Dinasti Umayyah.

Andalusia selalu saja menarik untuk dikaji kembali.

Kehadiran Islam di Andalusia telah mengakhiri kekuasaan politik monoreligi (satu agama) yang dipaksakan penguasa sebelumnya. Islam hadir untuk menawarkan konsep politik multi agama. Pemerintahan Islam di negeri ini menciptakan masyarakat Spanyol yang pluralistik. Para pemeluk agama yang berbeda-beda dapat hidup berdampingan secara damai, aman dan saling bekerjasama membangun negara dan peradaban Spanyol yang besar.

Melalui proses akulturasi kebudayaan ini Islam kemudian maju pesat. Andalusia Islam menjadi pusat peradaban dunia yang cemerlang. Di sini ada Al-Hamra, istana indah bercat merah yang terletak di sebuah bukit kecil di kota Granada. Ada Kordoba yang pernah menjadi pusat pengembangan dan pergulatan intelektual dunia. Ada kota kuno, Seville, yang eksotik. Disana ada istana Alcazar yang megah, anggun dan memukau.

Di dinding istana ini ada kaligrafi indah bertuliskan “La ghalib ill bi Allah”, “Tiada ada kekuatan kecuali karena Allah”.

Dulu, pada abad pertengahan, di desa-desa di Andalusi hampir semua disiplin ilmu pengetahuan manusia: kedokteran, matematika, filsafat, sastra, musik, arsitektur dan lain-lain, di samping ilmu-ilmu keagamaan, dikaji dengan intensif dan produktif. Dari kota ini lahir sejumlah pemikir Islam berkaliber dunia dan menjadi legendaris.

Beberapa di antaranya adalah Ibnu Hazm, Ibnu Thufail, Ibnu Rusyd, Ibnu Arabi, Ibnu Bajah, Ibnu Malik, dan Al-Syathibi. Ini hanya untuk menyebut beberapa nama saja dari sekian banyak cendikiawan lain, dan hanya untuk disiplin humaniora belaka dari sekian banyak disiplin ilmu pengetahuan, fisika, filsafat dan metafisika.

Pikiran-pikiran mereka masih terus dibaca dan dijadikan rujukan sampai hari ini. Kepiawaian ilmiyah mereka diperoleh melalui pergumulan dan dialektika intelektual yang ketat, kritikal, dinamis dan bergetar dengan beragam tradisi dan kebudayaan, terutama kebudayaan Helenistik-Yunani berikut para tokoh-tokoh besarnya, semacam Pytagoras, Socrates, Plato, Aristo, Galenus, dan lain-lain. Nama-nama cendikiawan, filosof, dan sufi muslim di atas dan karya-karya intelektual mereka terus dibicarakan dan dibaca bangsa-bangsa di dunia, terutama Eropa, selama berabad-abad.

Melalui para ilmuan, filosof dan bijak bestari muslim di atas, dunia Barat mengenal ilmu pengetahuan, filsafat dan sebagainya. Cerita di atas dikemukakan sama sekali bukan dalam kerangka appologia, membanggakan masa lampau, melainkan sekedar untuk mengingatkan, menyadarkan dan membangunkan kita dari tidur nyenyak yang panjang, sekaligus membangkitkan gairah masyarakat muslim hari ini guna menemukan kembali prestasi yang hilang sebagai tanggungjawab masa depan peradaban manusia.

Kisah itu dalam waktu yang sama memperlihatkan kepada kita betapa masyarakat muslim awal bisa bekerjasama dengan orang lain (the others), menghargai kebudayaan dan peradaban manusia, siapapun dan dari manapun sekaligus mengapresiasi dengan sungguh-sungguh ilmu pengetahuan manusia termasuk “Ulum al-Awa-il” (ilmu-ilmu pengetahuan klasik pra Islam/Yunani, Persia, India, Cina).

Semua ilmu pengetahuan yang baik dan bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan adalah anugerah Tuhan. Dia memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. “Yu’ti al-Hikmah Man Yasya. Wa Man Yu’ta al-Hikmah Faqad Utiya Khairan Katsira” (Dia menganugerahi pengetahuan yang tinggi dan kebijaksanaan kepada siapa saja Yang dikehendaki-Nya.Dan mereka yang dianugerahinya, mereka memperoleh kebaikan yang berlimpah).

Sayyed Hossein Nasr, cendekiawan muslim kontemporer dari Iran yang terkenal mengatakan:

Baca Juga >  Kisah Mbah Hasyim Menolak Bintang Kehormatan Ratu Wilhelmina

“Islam menjadi ahli waris khazanah kecendikiaan semua peradaban besar dunia sebelumnya, kecuali peradaban besar Timur Jauh, serta menjadi sebuah tempat berlindung di sebuah jagat ruhani baru”.

Kita tak bisa mengatakan kecuali bahwa Islam memang hadir untuk semua manusia dan menjunjungtinggi semua peradaban dan semua kebudayaan manusia. Islam adalah agama terbuka, inklusif dan secara normatif menjadi anugerah keindahan bagi semesta (Rahmatan lil ‘Alamin).

Mohammad Iqbal, filsuf dan sastrawan besar dari Pakistan, menyampaikan pesan kepada manusia muslim:

Wahai, kau yang lahir di bumi seindah mawar
Yang lahir dari rahim pribadi
Jangan ingkar akan pribadimu
Berpeganglah padanya
Jadilah setitik air dan reguk samudra ini
Sang pribadi yang berkilauan itulah sifatmu
Perkokoh pribadimu
kau kekal selamanya
Kau punya wujud,
tapi takutkah kau jika tak berwujud?

Di tempat lain, dia bilang :

Bukalah matamu, pandang dunia, bintang dan angkasa raya

Lihatlah sang mentari terbit di Timur dengan riang gembira

Lihatlah semesta raya tak berkudung itu bertaburkan cahaya

Kenangkan rindu dendam hari perpisahan Tapi, jangan kau lelah melangkah

Pandang perjuangan dalam harap dan cemas

Seisi alam semesta ini adalah milikmu Kuasailah mereka.

Demikian Sejarah Islam di Andalusia Peradaban yang Cemerlang

Penulis: Dr KH Husein Muhammad, salah satu pengasuh Pesantren Dar At-Tauhid Arjawinangun Cirebon Jawa Barat.

Artikel terkait baca di sini

Tonton vidio terkait makam keturunan Nabi di Pakistan. Tonton di sini