Menjadikan Film Sebagai Media Dakwah

Oleh: Arina Rahmatika, Mahasiswi Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Islam sebagai agama dakwah sekarang ini dihadapkan dengan berbagai tantangan dan problematika yang semakin kompleks. Pesatnya perkembangan alat informasi dan komunikasi membuat dakwah harus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Apalagi mad’u (objek dakwah) sekarang ini adalah “anak zaman now” yang tentu berbeda dengan zaman dulu. Terlebih lagi berbagai media berkembang sebagai sarana dakwah, salah satunya melalui film.

Bacaan Lainnya

Masyarakat Indonesia tentu tidak akan heran jika film berjudul “Pengabdi Setan” berhasil memecahkan rekor film terlaris di tahun 2017, dengan jumlah penonton mencapai 4,1 juta. Tentu akan mengejutkan jika film yang bertema religi dan berbau dakwah mencapai rekor tersebut. Tetapi, mungkinkah? Dengan penduduk Indonesia mayoritas Islam.

Nilai Guna Film

Film atau sinema (menurut KBBI Edisi Kelima daring) berarti karya seni budaya yang merupakan pranata sosial dan media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan kaidah sinematografi dengan atau tanpa suara dan dapat dipertunjukkan. Ini soalnya adalah tentang bagaimana kita berpikir dan menyikapi dakwah di tengah kehidupan “zaman now”.

Membahas mengenai film, tentu tidak semua film bisa dijadikan sebagai sarana dakwah. Hanya film yang memberikan nilai-nilai Islam, yang dapat disebut sebagai film dakwah. Nilai-nilai Islam ini sangat perlu agar pembuatan film lebih terfokus, terarah dan sesuai dengan Islam. Beberapa film yang mengusung tema dakwah adalah film Sang Kyai, Kiamat Sudah Dekat, Kun Fa Yakun dan lain-lain.

Mengapa film perlu dikembangkan menjadi media dakwah? Ada beberapa sebab. Pertama, to inform. Film sebagai media dakwah berfungsi untuk menyampaikan dakwah melalui informasi-informasi positif tentang Islam yang meliputi beberapa materi seperti akidah, syari’ah maupun akhlak.

Kedua, to educate. Film berfungsi untuk mendidik penonton melalui pesan-pesan Islam yang disampaikan secara halus, sehingga akan menimbulkan kesan tidak menggurui sehingga dapat diterima oleh penonton. Ketiga, to influence. Film dalam dakwah juga digunakan sebagai alat untuk mempengaruhi pandangan masyarakat mengenai ajaran Islam yang disampaikan melalui film tersebut.

Keempat, to entertaint. Melalui film, kegiatan dakwah dilakukan dengan bervariasi dan tidak monoton. Sehingga penerima dakwah (mad’u) akan terhibur dan akan diterima sebagai sesuatu yang menarik dan sayang untuk ditinggalkan.

Dari nilai guna diatas, dapat dilihat bahwa film sebagai media komunikasi massa juga menjadi peluang untuk memberikan efek nilai-nilai Islam dalam diri penonton. Nilai-nilai Islam itu dapat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, misalnya mu’amalah, ibadah maupun akhlak dan akidah.

Selain itu, untuk menghasilkan film dakwah yang digemari penonton, film perlu dikemas dalam cerita-cerita yang menarik dan memasukkan nilai-nilai Islam yang dapat dipahami oleh masyarakat. Sehingga nilai-nilai Islam menjadi cerminan pemahaman masyarakat dan bentuk pengekspresian serta gambaran tentang kehidupan masyarakat sehari-hari.

Dengan representasi kehidupan masyarakat tersebut, maka diharapakan film dapat mencerminkan puncak nilai Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin, sehingga dapat menghasilkan ajaran kebenaran, ajaran keadilan, ajaran keseimbangan, ajaran universal ataupun ajaran kemerdekaan dengan bentuk menghargai hak asasi manusia.

Hambatan

Melihat perkembangan film sebagai sarana dakwah, penulis mencoba merumuskan beberapa hambatan-hambatan dalam pembuatan film Islam dari beberapa kasus yang ada, seperti permasalahan dana, benturan budaya, agama dan politik, kurangnya SDM serta kurangnya solidaritas sesama muslim.

Selain faktor eksternal, kurangnya solidaritas dikalangan uma muslim menjadi faktor internal yang turut andil dalam memperlihatkan eksistensi film Islam. Beberapa film Islam yang ditayangkan pun beberapa kali kurang berhasil menjaring penonton. Selain itu juga kurangnya dukungan moral ataupun materiil terhadap dakwah melalui film ini, turut mempengaruhi produksi film.

Terlepas dari beberapa hambatan-hambatan dalam pembuatan film bernuansa dakwah, arah perfilman Islam di Indonesia semakin diminati dan berkembang tiap tahunnya. Terbukti beberapa film yang telah direalise sebelumnya berhasil membuat arus perfilman Indonesia melirik film bernuansa Islam. Tak hanya itu, beberapa produser pun sekarang lebih berani menampilkan sisi Islam dalam filmnya serta peran aktor dalam film Islam semakin banyak diminati.

Untuk itu, sudah saatnya dakwah melalui film dikembangkan. Terlebih dakwah dengan mad’u yang notabene “zaman now”, sehingga dakwah bisa masuk ke seluruh unsur kehidupan secara fleksibel dan inklusif.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *