KH Ahsin Syifa ‘Aqil, pribadi yang sangat penakut pada Rabb-Nya. Bagi santri Ponpes KHAS Kempek Cirebon, nama Kyai Ahsin bukanlah nama yang asing walaupun beliau sudah wafat lima tahun silam.
Beliau adalah putra ke empat dari lima bersaudara, pasangan suami istri KH ‘Aqil Siraj dan Nyai ‘Afifah Harun. Keseharian beliau lebih banyak disibukkan dengan mengelola pesantren, yakni mengajar kitab klasik dan Al-Quran.
Beliau juga pribadi yang paling dekat dengan santri, maka santri yang sudah pulang ke rumah ketika main ke pesantren selalu menyempatkan diri sowan ke beliau.
Di samping itu, beliau juga adalah sosok yang sangat ta’at atau patuh serta penakut terhadap Rabb-Nya. Tanggal 10 April 2015 (dua hari sebelum wafat) di hari Jumat pagi, beliau menyempatkan menengok jemuran padi miliknya di GOR Pesantren yang jaraknya sekitar 500 dari kediaman Beliau dengan berjalan kaki. Pulang dari GOR sekitar pukul 09.30, beliau merasakan dadanya sakit. Kemudian sambil menunggu datangnya waktu sholat Jumat, beliau berbaring di kasur. Beberapa saat kemudian istrinya datang untuk menanyakan perihal sakit apa yang sedang dirasakan.
Ketika menjelang waktu sholat Jumat, istrinya menyarankan tidak usah ikut sholat Jumat karena melihat kondisi sakit yang diderita oleh sang suami.
“Wis istirahat bae, Kang Ahsin. Jarene dadane lagi lara. Ora usah melu sholat Jumat (sudahlah istirahat saja Kang Ahsin. Katanya tadi dadanya sedang sakit. Tidak usah ikut sholat jumat),” kata sang istri.
Akan tetapi Kyai Ahsin malah bersikeras untuk tetap beragkat sholat Jumat di Masjid Jami’ yang jaraknya sekitar 500 meter ke arah barat kediamannya.
“Isin ah ning Pangeran, niliki pari ning GOR bisa masa iya sholat Jum’at bli bisa” (Malu dong pada Tuhan / Allah, menengok padi di GOR bisa mengapa sholat jumat tidak bisa).”
Akhirnya sang istri tidak bisa mencegah keinginan sang suami yang bersikeras untuk tetap sholat Jum’at.
Kyai Ahsin merasa malu kalau untuk urusan dunia menengok padi di GOR saja bisa, mengapa untuk urusan akhirat malah ditinggalkan.
Sakit beliau bertambah parah, pucaknya ketika hari Ahad, 23 Jumadil akhir 1436 / 12 April 2015 sebelum masuk waktu subuh Beliau menghembuskan nafas terakhir dengan tenang.
Penulis: Abd Majid, tinggal di Cirebon.








