Mengapa Buka Puasa Disegerakan dan Makan Sahur Diakhirkan

Mengapa Buka Puasa Disegerakan dan Makan Sahur Diakhirkan?

Posted on

Di antara bukti Islam rahmatan lil Alamin (rahmat bagi alam semesta), adalah kemudahan dan keringanan dalam menjalankan syariat/hukum Islam.

Perintah Allah Swt bukan untuk memberatkan dan menyiksa manusia, namun justru berdampak kebaikan dan kemaslahatan baginya.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Termasuk ibadah puasa. Dalam Islam, dilarang puasa Wishal/bersambung berhari-hari tanpa makan minum.
Nabi SAW bersabda:

لاتواصلوا

“Jangan kalian menyambung puasa” (HR Muslim)”.

Buka puasa dianjurkan untuk disegerakan saat maghrib tiba. Bukan ditunda-tunda. Inilah yang dinamakan ta’jil. (menyegerakan). Berasal dari kata “Ajjala Yu’ajjilu Ta’jiilan”.

Hanya saja di negeri kita Indonesia, terkadang istilah ta’jil dikesankan bermakna makanan buka puasa. “Sedia ta’jil puasa.” Begitu tulis pedagang penjual makanan buka puasa.

Ta’jil atau menyegerakan berbuka termasuk sunnah Nabi yang dianjurkan.
Nabi bersabda:

لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر

Artinya: Orang yang berpuasa senantiasa berada dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka (HR Bukhari Muslim).

Abu Athiyyah bercerita: Masruq pernah bertanya kepada Aisyah RA: Ada 2 orang sahabat Nabi. Yang satu menyegerakan berbuka puasa saat maghrib tiba. Dan yang lain menunda buka puasa. Aisyah bertanya: Siapa yang menyegerakan berbuka?Dijawab: Abdullah Bin Mas’ud. Aisyah menjawab:

Baca Juga >  7 Cara Praktis Menjadi Santri Penulis

هكذا كان رسول الله صلعم يصنع

Seperti itulah (Ibnu Mas’ud), Rasulullah SAW lakukan saat puasa (HR Muslim).

Adapun makan sahur, dianjurkan oleh Nabi SAW untuk diakhirkan..

Zaid bin Tsabit bercerita:

تسحرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم قمنا الى الصلاة. قيل كم كان بينهما قال خمسون اية.

“Kami pernah makan sahur bersama Nabi, lalu lanjut shalat shubuh berjamaah. Ada yang bertanya: Berapa waktu antara waktu sahur Nabi dan shalat Subuh? Zaid menjawab: seperti bacaan 50 ayat.(HR Bukhari Muslim).

Dari hadits tersebut,bisa dipahami bahwa bacaan 50 ayat Al Qur’an diperkirakan sekitar 10 menit. Jelas bahwa kebiasaan Nabi adalah mengakhirkan sahur hingga jelang waktu subuh.

Penulis: Dr Moh. Wahib Abdul Aziz, alumnus Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, sekarang jadi Wakil Dekan Fakultas Syariah di IAIN Fattahul Muluk Jayapura Papua.