Menengok Kurikulum Kitab Kuning di Pesantren Al-Imdad Bantul

  • Whatsapp
Menengok Kurikulum Kitab Kuning di Pesantren Al-Imdad Bantul

Menengok Kurikulum Kitab Kuning di Pesantren Al-Imdad Bantul.

Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua yang ada dalam sejarah Indonesia. Pondok pesantren sudah ada di Indonesia sejak abad ke 14 Masehi sampai dengan 17 Masehi. Makanya tidak heran, pendidikan di pondok pesantren punya ciri khas kemandiriannya. Tidak bergantung kepada pemerintah, mendiri dengan keunikannya.

Salah pesantren yang ada di Bantul adalah Pesantren Al-Imdad. Pesantren Al-Imdad ini memiliki Madrasah Diniyah (MADIN) yang dijalankan dengan menerapkan kurikulum secara mandiri. Artinya kurikulum tersebut tidak menginduk kepada kurikulum yang dibuat oleh pemerintah. Kurikulum tersebut disusun oleh bagian pendidikan PP-Al Imdad putra dan putri. Kurikulum tersebut bertujuan agar menjadi patokan perkembangan setiap santri dan santriwati PP Al-Imdad, sehingga perkembangan santri dapat dipantau dengan jelas dan baik.

Menurut Nur Muhammad Husen, staf bagian pendidikan di PP Al-Imdad Putra bahwa kurikulum di PP Al-Imdad dibuat supaya capaian pembelajaran para santri menjadi jelas dan terukur. Banyak pondok pesantren yang tidak menerapkan kurikulum yang meliputi: jadwal kegiatan belajar mengajar, absen santri dan santriwati, absensi para ustadz dan ustadzah, silabus pelajaran dan lainnya.

Kebanyakan pondok pesantren mengadakan kegiatan belajar mengajar secara mengalir saja tanpa memberi ukuran dan kriteria yang jelas. Sehingga ada santri yang sudah bertahun-tahun mondok, tapi tidak lancar. Bahkan banyak yang belum bisa membaca kitab kuning. Hal ini menjadi ironis, karena mondok bertujuan supaya santri bisa belajar membaca dan mengaji kitab kuning secara lancar guna memahami ajaran Islam lainnya yang tersebar di kitab kuning.

Melihat hal itu dan juga atas dawuh Pengasuh Pondok Pesantren Al Imdad, Dr. KH M Habib Abdussyakur M.Ag, Pesantren Al Imdad membuat kurikulum pendidikan madrasahnya secara mandiri. Tujuannya agar para santri dapat menguasai kitab kuning dengan cepat dan bisa diukur perkembangannya seara jelas.

Menanggapi hal tersebut, Fahmi Totu, staff kordinator bagian pendidikan di Pesantren Al-Imdad putra, bersama seluruh bagian pendidikan di PP Al Imdad Putra membuat kurikulum sendiri. Kurikulum disusun dengan tujuan yang jelas dan arah yang jelas. Kurikulum tersebut disusun dan digunakan untuk mencapai kompetensi inti yang sesuai dengan tujuan besar pembelajaran di PP Al-Imdad Putra.

Dari situ lahirlah berbagai invovasi untuk Madin Al-Imdad seperti pembagian kelas, pembagian mata pelajaran perkelas, beban belajar atau waktu belajar dan penerapan sistem pembelajaran per semester dirumuskan dan digodok.

“Tapi kompetensi paling dasar yang harus dicapai adalah ketika para santri dapat membaca kitab kuning dan menguasainya,” jelas Fahmi, pengurus Al-Imdad bagian pendidikan.

Hal itu bisa terjadi karena PP Al-Imdad merupakan pondok pesantren yang memiliki metode membaca kitab kuning dengan cepat. Metode tersebut dicetak dalam sebuah buku yang berjudul Metode 33 dan Buku Cara Cepat Baca Kitab. Kedua buku tersebut merupakan karya dari Pengasuh Pondok Al Imdad. Buku itu menjadi acuan bagaimana para santri dipacu untuk bisa menguasai kitab kuning dengan cepat dan tepat.

Dengan kurikulum yang ada, dan metode pembelajaran yang efektif menggunakan kedua buku tersebut, tidak heran jika para santri ketika mengikuti lomba Musabaqoh Qiratil Kutub (MQK) sering mendapat juara, baik di tingkat nasional maupun provinsi. Hal tersebut dinilai banyak pihak sebagai kunci rahasia kesuksesan PP Al-Imdad dalam pengajaran kepada para santrinya tentang penguasaan kitab kuning secara cepat dan tepat.

Selain itu, diadakan juga rutinan di PP Al-Imdad. Waktu rutinan mujahadah diadakan sebulan sekali, yaitu ketika wali santri diperbolehkan menjenguk para putra putrinya. Sebelum masa pandemi, waktu ini selalu diisi dengan unjuk kebolehan membaca kitab kuning di depan para wali santri. Khususnya kepada para santri yang baru berada dua bulan di pondok pesantren.

Biasanya, ketika selesai mujahadah para santri yang ditunjuk oleh pengasuh maju ke depan. Di depan sudah disediakan tempat dan proyektor yang menampilkan penggalan kalimat kitab kuning berbahasa arab tanpa harakat atau arab gundul. Di situ  para santri baru itu akan membacakan keseluruh kalimat dan menyebutkan kata mana yang menjadi fiil, isim dan huruf. Dengan cara sepeti itu, perkembangan membaca kitab para santri menjadi kebangganan tersendiri. Karena mereka adalah santri baru dan dapat membaca kitab kuning dengan lancar dan relatif cepat.

Penulis: Afi Muhammad Noor Ma’arif, Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *