Mendapat Cinta dan Asmara Sebening Embun Pagi, Selamanya

  • Whatsapp
Mendapat Cinta dan Asmara Sebening Embun Pagi, Selamanya

Mendapat Cinta dan Asmara Sebening Embun Pagi, Selamanya.

Ketika Syaikh Yahya di tanya apakah cinta sejati/al-Hubb itu? Beliau menjawab: “Yang tidak bertambah sebab kebaikan, dan tak berkurang sebab kekerasan hatinya”

Dulu, pernah ada pemuda kasmaran yang melihat si jelita pujaan hatinya. Tiba-tiba terlihat dadanya terguncang hebat, lalu pingsan!

Ndilalah, ada beberapa peneliti yang melihatnya. Kalau sekarang ada kejadian apapun di vidieokan lalu viral 😀 Dan apakah dikisah itu pemuda tersebut di tolong dulu, lalu di bahas, atau masih semaput dijalan langsung di Bahtsul masaa-il. Tidak diterangkan.

“Apa yang terjadi padanya?” tanya salah satu mereka.

“O, gegara melihat wanita yang dicintainya, lalu hatinya mendadak terbuka. Dan itu menjalar ketubuh hingga membuat raganya bergetar hebat sebab koneksi jantung” jawab salah satu mereka serius manggut-manggut.

“Lhoh, aneh sekali. Kalau itu masalah hati, bukankah dinamakan cinta? sedang kecintaan saya pada keluarga tak sampai seperti itu kok!” timpal lainnya.

“Itu cinta yang masih bertendensi akal. Lha ini tidak! Ini cinta yang urusannya dengan ruh!” bantah lainnya sengit.

Lalu ada yang menengahi:

“Gini lho Bapak-bapak sekalian. Itu Isyq, kasmaran. Nah! Kasmaran ini bisa juga dinamakan cinta, namun cinta tidak selalu bernama kasmaran, karena kasmaran nama dari cinta berlebih, cinta luar biasa. Yah seperti dermawan berlebih dinamakan menghamburkan uang. Terlalu hemat dinamakan kikir. Saking hati-hatinya menjaga segalanya dinamakan penakut. Dan terlalu berani dikatakan nekat seperti suara angin yang mencabut segala perintangnya.”

(Nihayatul Arab 2/125-133 Syamilah)

***

Hehehe, Kok jadi teringat masa-masa indah itu. Melihatnya, hati berbunga. Ketika bertatap mata, jantung laksana ombak samudra. Jedag-jedug jedag-jedug. Sering membicarakannya, walau kadang dikemas dengan bahasa tidak suka, tapi sering, bahkan sangat sering mengulasnya. Kok sejauh itu, baru melihat pintu rumahnya saja seakan kaki ingin lari menyapanya, padahal tak ada apa-siapa.

Padahal, ada kecamuk antar akal dan hati. “Lhaiya, yang lebih indah darinya, banyak kan?! Yang lebih semampai, lebih cerdas, lebih mumpuni agama. Tapi kenapa Tung Jantung, kamu selalu berdetak keras ketika menjumpainya. Apakah ini yang namanya panah asmara?!” Sambil garuk-garuk kepala, mbatin,

“Duh, Gustiiiihh. Kok bisa?!”.

Akhirnya, menempuh jalan terakhir, yakni, ketika sujud shalat, setelah membaca tasbih hati menjerit. “Gustiiii, Jika dia adalah jodohku dunia akhirat, jangan hilangkan perasaan ini. Enak kok Gusti, hehe. Tapi, andai ia bukan belahan hatiku sampai pintu syurga, hilangkan Gusti, hilangkaannn!!! Oh! Jangan biarkan hambamu yang lemah ini berlarut dengan asmara, sakit Gusti, Sakiittt.”

Dan alhamdulillah, perasaan aneh itu hilang sendirinya, walau kemudian, ketika mendengar ia dipelaminan, di bawah pohon bambu, ditengah malam, tak terasa habis rokok puluhan batang sambil mata menatap jauh kedepan. Behahaha.

Asmara adalah rahmat, adalah nikmat, sekaligus kadang ujian, siapapun bisa mengenainya, tak perduli wajah dan usia. Tak elok jika terlalu menghakimi manusia lain. Karena entah siapa lagi yang kelak terkena panah asmara.

Semoga mendapat cinta dan asmara sebening embun pagi, selamanya ❤️💕😬

Penulis: Robert Azmi, Nganjuk.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *