Bahaya Orang Terlalu Cerdas di Mata Sayyidina Umar bin Khattab.
Terlalu cerdas, bisa membuat orang jumawa dan ingin menipu mengakali orang lain, itu ndak baik; di cela dan pelakunya di caci.
Dulu, Sayyidina Umar bin Khatthab pernah membuat keputusan “nganeh-nganehi” dengan mengutus Sahabat Abu Hasan al-Asy’ari untuk mencopot Sahabat Ziyaad dari jabatannya.
Penasaran. Sahabat Ziyaad bertanya: “Ya, Amiral Mukminin. Apakah aku ada kesalahan atau berkhianat?”
“Tidak keduanya! Tapi Aku khawatir dengan kelebihan akalmu, Aku akan mengakali masyarakat.”
Keputusan ini, wah! jadi perdebatan sengit antar para ulama. Sebab secara hadis, Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallampun pernah bersabda: “Manusia terbaik adalah yang paling cerdas akalnya”, dan hadis tentang keutamaan akal lainnya. Namun, rata-rata para ulama menitik beratkan tindakan Sayyidina Umar dengan potensi buruk akibat kelebihan cerdas. Seperti terlalu berani menjadi ngawur, terlalu dermawan menjadi berlebih foya-foya.
Hingga ahli hikmah mengarahkan orang-orang yang cerdasnya ngadi-ngadi dengan: “Jadikan kecerdasanmu sebagai hal yang menghantarkanmu pada jalan petunjuk (Yakni Qur’an atau hidayah Allah Ta’ala).”
Dan dengan luwesnya, para ahli bahasa berkata: “Sedikit —akal— tapi mencukupi, lebih baik daripada banyak —akal—, namun menindas, mengakali.”
Wallahu A’lam bis-Shawaab.
(Kisah tentang Bahaya Orang Terlalu Cerdas di Mata Sayyidina Umar bin Khattab ada dalam Adabud-Dunya waddin Imam Mawardi 28-29 Darul-Fikr)
Bisa dikatakan status ini adalah penghibur diri, sebab dari dulu, belajar, otak ndak mudah nyantol ![]()
![]()
![]()
Tapi yang jelas, berbahagialah bagi yang punya kecerdasan berlebih, asal tidak mengakali. Dan bagi yang telah babak bundas belajar namun ndak cerdas-cerdas seperti hamba, muga ilmu setitik ini bisa membuat jiwa semakin mantab meniti jalan petunjukNya.
Penulis: Gus Robert Azmi, Nganjuk.








