piyungan

Mbah Rohani, Seorang Guru Tarekat dari Piyungan

Posted on

Mbah Rohani adalah guru tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah-Syathariyah, yang tinggal di Draman, Piyungan, Bantul, tempat beliau dilahirkan. Ayahnya bernama Bpk. Muhammad Mursyidan, anak dari Bpk. Ihsan Asror. Rumah ayahnya ini sering dijadikan tempat ngaji KH. Marjuned dari Jejeran (bukan Mbah Junaid (Kanggotan), sebulan sekali.

Pada waktu masih kecil, Mbah Rohani ngaji membaca Al-Qur’an di Draman, yang saat itu kyainya adalah Kyai. Masyhud (dan Kyai Ali Imron). Beliau mengajar ngaji di Musholla, di rumahnya. Mbah Masyhud adalah guru pertama Mbah Rohani, sebagaimana anak-anak Draman pada zaman itu.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Menginjak remaja, Mbah Rohani dengan beberapa anak dari Draman, ngaji kepada KH. Nawawi, Jejeran (matarantai sanad tarekat Syathariyah dari Syaikh Abdurro’uf dari Syaikh Asya’ri Kaliwungu). Di pesantren KH. Nawawi ini, seminggu sekali Mbah Rohani pulang, dengan jalan kaki dari Jejeran ke Draman, yang jaraknya cukup jauh. Tapi menurut ceritanya, memang pada saat itu, kebiasaan santri yang jauh, pulang berjalan kaki, dan belum ada sepeda onthel.

Setelah dari Jejeran selama kira-kira 3 tahun, Mbah Rohani pulang, dan kembali mengembara ke Jawa Timur Kediri, di Plumpung Rejo, di pesantren yang diasuh. KH. Mujahid dan 2 adiknya. Adik yang terakhir akrab dengan Mbah Rohani. Kakek Mbah Rohani, juga pernah nyantri di Plumpung Rejo.

Suatu ketika, Mbah Rohani pulang ke Draman, dan ditanya kekeknya tentang pohon kelapa di Plumpung Rerjo, di suatu tempat yang ditunjuk kakeknya, apakah masih ada. Dijawab Mbah Rohani bahwa pohon-pohon kelapa itu masih ada. Kakek Mbah Rohani itu, kemudian bercerita kalau dulu di Plumpung Rejo itu, ikut menanam pohon-pohon kelapa. Ketika mondok di Jawa Timur ini, sistem bertahan hidup di Pondok, menurut cerita Mbah Rohani, mencari makan dengan bekerja di sawah orang-orang yang punya sawah, dengan ngasak atau sejenisnya.

Setelah dari Plumpungpung Rejo, Mbah Rohani kembali ke Draman; dan dari Draman, dikirim ayahnya untuk nyantri ke Pabelan Magelang. Sistem bertahan hidup waktu mondok di Pabelan, sudah dengan menggunakan sangu, misalnya sangu beras dari rumah dan dimasak sendiri. Di Pabelan ini, 3 bulan sekali pulang ke Draman, ketika sangunya habis. Perjalanan ditempuh dengan naik kereta api, dari Stasiun Tugu ke Magelang. Ketika mondok di Magelang, gurunya adalah KH. Asror Pabelan.

KH. Asror Pabelan dikenal sebagai pengasuh PP Pabelan, yang mengajarkan ilmu alat dan tatabahasa Arab; dan merupakan generasi kedua pondok Pabelan. Pada waktu itu Pondok Pabelan dihidupkan kembali pada tahun 1900-an oleh KH. Anwar, dan dilanjutkan KH. Asror. Sebelumnya Pondok Pabelan ini dirintis KH. Mohammad Ali pada tahun 1800-an, dan dikosongkan cukup lama setelah pergolakan Perang Jawa. Pondok Pabelan berhenti ketika KH. Asror wafat, sampai dihidupkan kembali oleh keturunan pendiri Pondok Pabelan, bernam KH. Hamam Dja’far.

Di Pabelan, Mbah Rohani belajar ilmu alat dan bahasa Arab, beserta kitab-kitab lainnya kepada KH. Arsor. Pada masa di Pabelan ini, Mbah Rohani pernah pulang ke Jogja dengan berjalanan kaki bersama seorang sahabatnya dari Pabelan Magelang, menyusuri Kali Progo terus ke Selatan, berbelok ke Timur, sampai tembus di daerah Jejeran, dan kemudian ke timur lagi, lalu berjalan ke arah utara menuju wilayah Draman. Hal ini ditempuh sebagai laku prihatin, dan juga keadaan saat itu, karena Belanda datang di Yogyakarta, dan perjalanan tidak aman.

Tidak lama di rumah, Mbah Rohani nyantri lagi dan kembali ke Jawa Timur, di Plumpung Rejo, kepada Mbah KH. Mujahid dan kedua adiknya. Sekitat 3-4 tahun kemudian mendapat pesan dari rumah untuk pulang. Dan ketika pamitan pulang, sang guru memberinya korek dengan gambar putri, tergambar dalam korek itu. Mbah Rohani membatin bahwa memang pesan dari rumah, dia mau dinikahkan. Akhirnya tanda korek dari gurunya itu, memberikan pengertian bahwa dia akan dinikahkan di Yogyakarta oleh orang tuanya.

Baca Juga >  Saat Kiai Sahal Mahfudh Dapat Telpon dari Istana Negara

Di Yogyakarta, ketika telah menikah, Mbah Rohani ikut ngaji kitab Minhajul Abidin karangan al-Ghozali yang dilakukan KH. Kholil Harun Segoroyoso, dengan mengambil tempat pengajian di daerah Klenggotan (bukan Kanggotan). Posisi Klenggotan ada di barat Draman. Tidak lama kemudian, salah seorang sahabatnya ketika nyantri, yang umurnya lebih tua sedikit, bernama Mbah Hayat, telah bersama KH. Madhan Abdul Manan Purwodadi, ngaji tarekat dan mengembangkan jamaah tarekat. Tarekat ini dikenal dengan nama Qodiriyah-Naqsyabandiyah-Syathoriyah. Mbah Rohani kemudian ikut dan diajak Mabah Hayat untuk sowan ke Purwodadi dan ngaji tarekat.

Ketika awal bertemu dengan Mbah Madhan Abdul Manan, Mbah Rohani diajak salaman dan ditegaskan, dengan kata-kata: “Mugo-mugo cocok, cocok, lan cocok.” Sampai pada perjalanan pengembangan tarekat ini, yang mengambil tempat di Draman, akhirnya Mbah Rohani dijadikan sebagai wakilnya untuk menggarap pengembangan tarekat ini di Piyungan. Akan tetapi karena tarekat ini amalannya cukup berat, dan ketika kesehatannya sudah menuntut untuk hanya tinggal di rumah, jamaah tarekat ini semakin kecil dan kecil. Tarekat ini tidak diminati anak-anak muda.

Tentang KH. Kholil Harun, ada sebuah cerita Mbah Rohani dari Mbah KH. Madhan Abdul Manan yang sudah wafat. Bahwa KH. Kholil Harun Segoroyoso, yang pernah ngaji Minhajul Abidin di Klenggotan itu, pernah mukim di Mekkah agak lama, dan namanya termasuk yang masuk daftar incaran orang-orang Wahhabi yang baru Jaya di Mekkah. Akhirnya KH. Kholil Harun segera pulang ke tanah air, dan kemudian mendidik masyarakat di sekitar Segoroyoso, dan menjadi salah satu punjernya Aswaja di Segoroyoso dan sekitar Gunung Salatan, tempat Datuk Kusumo dimakamkan.

Selain itu, saya sendiri memperoleh cerita dari Kyai Mardini Ngablak, yang pernah belajar kepada KH. Kholil Harun, bahwa di antara ijazah amalan yang diamalkan Kyai Mardini dari KH. Kholil Harun adalah Doa Nurbuat, dengan dipungkasi sholawat Munjiyat 10 x.

Kembali kepada Mbah Rohani, saya mengenal tarekat ini dari Mbah Rohani pada saat tarekat ini hanya tinggal beberapa orang saja; dan beberapa anggota sudah berumur sepuh. Para anggota tarekat bertemu setiap Sabtu Kliwon, di rumah Haji Hayat, untuk berdzikir bersama, mulai jam 10 pagi sampai selesai, dengan dzikir pager pengamal tarekat. Dzikir pager bersifat jama’i, sedangkan wadzifah harian bersifat fardi, diamalkan sendiri-sendiri. Meski begitu, kalau tidak memungkinkan berkumpul, dzikir pager itu bisa dibaca sendiri, semampunya.

Draman, sebagai pusat tarekat ini, berada di Piyungan, dinisbahkan kepada pendiri kampung ini, yang menurut Mbah Rohani dari cerita orang-orang tua Draman, bernama Sayyid Abdurrahman. Makamnya ada di tengah-tengah makam kampung. Dari mana asal dari Sayyid Abdurrahman, tidak banyak diketahui. Wallohu a’lam.

(Nur Khalik Ridwan, Pengajar STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta)