Makna Fitrah Menurut Pakar Al-Quran Prof Quraish Shihab

Makna Fitrah Menurut Pakar Al-Quran Prof Quraish Shihab

Posted on

QS Ar-Rum ayat 30, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Fitrah, kata Prof. Quraish Shihab, ialah hal-hal prinsipil yang melekat pada segala penciptaan, termasuk manusia, sebagai ketetapanNya. Segala penyimpangan terhadap fitrah akan menimbulkan kegoncangan pada kualitas hidup itu sendiri. Segala penegakan kepada fitrah, buahnya selaras dengan kelurusan, kejernihan, dan kebaikan.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Contoh sederhana ialah jika anda melanggar fitrah ngonekke orang lain, misal Pak Luhut, maka adanya desir ketidaknyamanan di dalam hati dan pikiran, yang itu diawali oleh tetesan-tetesan fitrah ke dalam akal yang murni, itulah sinyalnya. Dan sebagainya.

Jadi, jika ingin tentram, berjalanlah lurus sesuai fitrah. Adanya ketidaktraman dalam diri, itu isyarat bagi telah terlanggarnya suatu fitrah.

Memang jika fitrah semakin sering dilanggar, lama-lama pelakunya akan mengebal dr sentihan tetes-tetes ilham akal tadi. Desir tak nyaman mungkin masih ada, namun semakin kecil bunyinya. Dan, sebaliknya.

Di antara contoh fitrah ialah berusahalah jika ingin berhasil. Sapa obah, mamah. Sapa nandur, panen.

Tetapi, tepat seketika, seharusnya kita pun memahami dan meyakini fitrah Allah itu sendiri. Allah punya fitrah? Ya, fitrahNya ialah Yang Maha Kuasa. Itu satu-satunya fitrahNya yang paling mungkin dan mudah kita pahami sebagai Fitrah Teragung yang mengatasi segala fitrah.

Logikanya, fitrah kita yang manusia pasti tunduk dalam fitrah KemahabesaranNya itu. Bahkan, pada ayat-ayat yang menerangkan perihal fitrah terlogis buat kita, misal “Allah takkan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu mengubah nasibnya sendiri” dan “orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”, itu tetap berada di bawah garis Fitrah Allah Swt yang Maha Memiliki segala karunia dan Maha Menentukan.

Baca Juga >  PCNU Bantul Songsong Kebangkitan

Maka, jan-jannya, segala perjuangan kita seyigianya dipahami dalam kedudukan begitu saja. Ia suatu otoritas di bawah Otoritas. Nekani otoritas pertama adalah kepantasan logis yang seharusnya diambil, selain sebagai pemenuhan atas titahNya, tetapi di detik yang sama ia tak usah dilambungkan sebagai Otoritas Puncak. Elingo sellalu ada asas awl tadi. Selesai.

Ini semua menjadi tak selesai karena kita sendiri tak selesai secara batin dan pikir ihwal fitrah itu. Akibatnya, saat kita nekani fitrah berjuang tadi, kita bagai memandang dengan satu mata saja, yakni mata “Allah takkan mengubah nasib suatu kaum….” dan lupa pada fitrahNya sebagai Sang Penentu Keputusan. Walhasil, kita gampang tersedak, gagu, bahka kroak saat kenyataan tak sesuai harapan. Gampangnya sowak ini sederhana saja untuk dipahami sebagai akibat dari pelanggaran kiya sendiri kepada fitrah itu.

Penulis: KH Dr Edi Mulyono, wakil ketua LTN PWNU DIY.