PENGANTAR: Tulisan ini merupakan pidato KH. Ali Ma’shum yang dimuat pada Dirasah Islamiyah Diniyah : Majalah Bangkit, Edisi Nomor 33 TH. III, Jumadil Ula 1403 / Pebruari 1983. Ditulis ulang oleh Muhammad ‘Ainun Na’iim, Santri Krapyak Yogyakarta pada 10 November 2024.
Ulama Kita (KH Ali Ma’shum)
PADA malam hari ini kita sedang menyelenggarakan peringatan 1.000 hari dari wafat Almaghfurlah Almarhum KH Bisyri Sansoeri, salah seorang tokoh besar Nahdlatul Ulama dan Orde Baru. Oleh karena itu amat patutlah jika yang menghadliri acara Khidmah kali ini tampak dari berbagai golongan Masyarakat kita. Ada dan banyak yang NU, bukan NU, para pejabat dan juga rakyat jelata. Hal ini menunjukkan bahwa yang merasa memiliki Almarhum adalah bukan hanya kaum Nahdliyin saja, tapi almarhum adalah milik seluruh bangsa Indonesia.
Dan memang Kyai Bisyri Sansoeri adalah salah satu contoh orang NU yang telah dipersembahkan untuk berbakti demi kepentingan bangsa Indonesia seluruhnya. Karena sesuai dengan makna Nahdlatul Ulama, maka pembinaan kemanusiaan yang dilakukan dalam NU adalah membentuk manusia utuh yang di samping bermanfaat untuk kepentingan NU sendiri juga mencakup seluruh kepentingan bangsa Indonesia yang tengah membangun ini. Dan memang demikianlah sesungguhnya yang ada dalam NU selama ini.
Adapun jika misalnya terdapat pengertian sementara orang bahwa NU itu selalu ekstrim dan beroperasi serta tak bisa diajak kompromi, maka hal ini jelas merupakan kebohongan besar ynag timbul dari sifat dengki serta i’tikad buruk. Dan tidak mustahil justru hal ini muncul dari mereka yang berindikasi Orla dalam rangka mengganggu lajunya pembangunan kita ini. Oleh karena itu, lewat mimbar ini selaku Rois Aam atau bukan kami mengajak sekali lagi untuk meningkatkan kewaspadaan kita. Dan menegaskan sekali lagi, bahwa NU adalah merupakan kumpulan orang-orang yang selalu siap untuk kerjasama dan membantu dalam segala usaha yang menuju ke arah kemajuan bangsa yang berbudi luhur, kemakmuran yang merata serta keadilan yang benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat bangsa Indonesia tercinta ini.
Para hadirin sekalian….
Adapun tentang peringatan seribu hari pada malam ini, sesungguhnya ada berbagai faidah dan fungsinya. Di samping di sini kita dapat bersilaturrahmi, bertemu muka dengan para kyai, para ulama, bertemu muka dengan para pejabat, bahkan sekaligus bertemu muka antara ulama dan umara dalam suasana dzikrul maut, ingat akan mati, karena kita sedang memperingati wafat Almarhum Kyai Bisyri Sansoeri.
Di samping kita bisa bertemu muka, mendengarkan fatwa ulama, membaca dzikir, tahlil berjama’ah bersama, semacam majlis ini, seperti haul adalah salah satu sarana komunikasi yang efektif. Komunikasi, timbal balik yang amat penting artinya bagi da’wah Islam, syi’ar Islam dan perkembangan Islam. Alhasil, amat banyaklah manfaatnya.
Yang penting lagi dalam memperingati wafatnya Almaghfurlah Kyai Bisyri Sansoeri, seorang tokoh ulama, sesungguhnya tak dapat dipisahkan dengan berbicara tentang ulama itu sendiri.
Nah, perkenankanlah di sini kami akan mengkaji sedikit tentang siapa itu sebetulnya ulama. Ulama adalah seperti yang difirmankan Allah dalam Al Qur’an:
اِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهٖٓ اِذَا يُتْلٰى عَلَيْهِمْ يَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ سُجَّدًاۙ وَّيَقُوْلُوْنَ سُبْحٰنَ رَبِّنَآ اِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُوْلًا وَيَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعًا
“sesungguhnya mereka yang dianugerahi ilmu sebelumnya, apabila kepada mereka Al-Qur’an dibaca, maka mereka akan menyungkur bersujud. Merekapun berkata: Maha suci Tuhan Kami, dan sesungguhnya janji-Nya pasti dipenuhi. Wajah merekapun bersujud sambil menangis dan bertambah khusyu.”
Menurut ayat ini, paling tidak terdapat tiga macam sifat ulama, yaitu:
- Tunduk sepenuhnya terhadap Al Qur’an
يَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ سُجَّدًاۙ
Di sini, ulama selalu tunduk terhadap keadilan dan haq dari sisi Allah. Oleh karena itu, dasar pertimbangan ulama di dalam bersikap adalah tuntunan Allah dan Rasulullah. Ulama tidak pernah mencari tipu daya dan berbagai alasan untuk kepentingan diri sendiri. Tapi kalau memang ulama benar-benar, maka orang itu selalu menerima dengan puas terhadap keputusan yang berdasar agama, dengan segala macam akibatnya. Kalau misalnya ada orang yang dianggap ulama tetapi ternyata gemar mencari alasan-alasan untuk keuntungan diri sendiri, maka itu adalah bukan ulama.
- Menyadari bahwa janji Tuhan pasti terjadi
وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُوْلًا…..
Apabila orang benar-benar sadar akan hal ini, maka benar-benar tampak stabilitas kehidupan sehari-hari. Tidak membuat kericuhan tetapi ketenteraman. Tidak membuat urusan orang lain, tapi justru membantu. Juga tidak sembarangan dalam berbuat segala sesuatu, lebih-lebih dalam perbuatan yang menyangkut keperluan orang banyak. Dengan sifat ini pula, maka ulama akan selalu mengingat segala amanat yang menjadi tanggungjawabnya. Kalau kebetulan ia juga menjadi pemimpin umat atau tokoh masyarakat, maka lebih memperhatikan kewajiban dirinya daripada hak yang mesti ia peroleh.
- Selalu merasa dirinya kecil dan lemah
يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعًا
Sifat ini akan membuat ulama bersedia sabar dan sengsara, ia tidak sombong dan tidak menipu daya. Ia merasa lebih patut menghormati daripada dihormati, dan demikian seterusnya.
Para hadirin sekalian …
Oleh karena itulah, maka dalam rangka menyebut sifat ulama ini, sahabat Ibnu Mas’ud menyebutkan suatu ayat:
اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ
“hanya ulama sajalah, di antara para hamba yang selalu takut kepada Allah”
Dan untuk orang bukan Ulama, beliau mensinyalir dengan mengemukakan ayat lain, yaitu:
كَلَّآ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰىٓ ۙ
Demikianlah perbedaan antara ulama dan bukan. Oleh karena itu jika kita melihat orang dikatakan ulama atau kyai tapi ternyata tidak tunduk kepeda Keputusan Syari’at, maka itu bukanlah ulama.
Para hadlirin sekalian …
Melihat tiga sifat ulama tersebut di atas, dapat kita tarik suatu prinsip Tunggal, yaitu bahwa keterikatan ulama adalah kepada petunjuk agama, bukan kepada suatu kepentingan tertentu. Oleh karenanya, ulama itu satu sama lainnya selalu searah, dan dengan begitu tidak pernah berbenturan satu sama lainnya, kalau toh misalnya terdapat perbedaan pendapat, itupun dalam batas-batas yang wajar saja. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran lain, yaitu bahwa penyimpangan dari suatu keputusan mayoritas ulama adalah merupakan langkah yang tidak dapat dibenarkan. Sebab dengan penyimpangan ini, berarti telah mengambil keterikatan yang dipakai ulama. Karena kalau saja keterikatannya sama, sudah barang tentu tidak mungkin terjadi penyimpangan, tapi paling banter adalah sekedar perbedaan pendapat.
Para hadlirin sekalian…
Terakhir sekali, marilah kita tingkatkan lebih jauh lagi kerukunan kita sesama warga NU, sesama umat Islam dan sesama bangsa Indonesia. Lebih-lebih menjelang diselenggarakannya sidang umum MPR bulan Maret mendatang.
Hal ini kami tekankan terus menerus di mana-mana, sebab selaku umat Islam dan khususnya warga NU sudah barang tentu merasa sangat berkompeten untuk suksesnya sidang MPR tersebut. Justru demikian, karena dilandasi harapan agar sidang tersebut dapat membuahkan beberapa keputusan yang menunjang semaraknya da’wah Islam. Dan diharapkan pula, agar keputusan-keputusan tersebut akan mampu menciptakan situasi nasional yang lebih sejuk bagi umat Islam dan khususnya warga NU.
Demikianlah harapan kami yang mencuat dari lubuk hati setiap ulama.
Akhir kata mudah-mudahan sambutan kami ini bermanfaat. Dan kurang lebihnya kami minta maaf. (*)








