Gus Dur

Kursi Gus Dur dan Orang Papua

Posted on

Suatu hari datanglah para tetua adat Papua ke Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Mereka meminta izin untuk masuk ke ruangan Gus Dur. Ruangan Gus Dur di PBNU masih sama seperti dulu. Masih sama seperti biasanya. Di sana, masih ada kursi yang selalu digunakan oleh Gus Dur.

Para tetua adat Papua itu lalu duduk di samping kursi Gus Dur. Mereka mulai berbicara kepada kursi kosong itu. Seakan-akan berbicara kepada Gus Dur. Mereka berkeluh kesah. Mereka meratapi operasi militer yang saat itu terjadi di pedalaman Papua. Operasi militer tersebut menelan korban. Mereka merasa hanya Gus Dur lah yang mengerti dan membela mereka

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

“Bapak, walaupun sudah tidak ada, kami percaya leluhur kami tetap menjaga kami. Dan Bapak termasuk leluhur kami,” kata mereka

Dalam kisah lain, pada acara seribuan orang papua, Pak Taha al Hamid, tokoh Muslim Papua bercerita,

Pemerintah sekarang (waktu itu presiden sebelum Jokowi), menghabiskan banyak uang tapi tidak pernah menghargai kami (orang Papua-red). Kami hanya dihargai oleh sosok Gus Dur yang saat itu jadi presiden. Saat itu Gus Dur adalah presiden pertama yang mengijinkan orang Papua masuk ke istana presiden dan berbicara langsung dengan Gus Dur.

Kami saat itu berlima diterima oleh Gus Dur. Lalu Gus Dur berkata, sebagai pejuang hak asasi manusia, saya menghargai gerakan-gerakan di Irian Jaya. Tapi sebagai Presiden Indonesia, saya harus mempertahankan Indonesia. Di Aceh ada gerakan ingin merdeka, di Irian jaya juga ada. Tugas saya adalah menjaga negara ini tetap utuh! Mari kita bicara. Apa yang harus pemerintah lakukan untuk saudara-saudara di Irian Jaya. Apa yang kalian minta? Asal jangan meminta merdeka!

Baca Juga >  Menggetarkan, Ini Surat KH Ali Maksum untuk Santrinya yang Belajar di Bagdad

Itu kata Gus Dur kepada orang-orang Papua yang bertemu dengannya di Istana Presiden. Tidak semua politisi bisa melakukan seperti itu.

Lalu mereka (orang Papua-red) berkata lagi, bagaimana kami bisa percaya orang Jakarta akan memikirkan nasib kami? Sementara kami dipaksa melupakan dan meninggalkan jati diri kami bertahun-tahun lamanya. Bagaimana kami bisa percaya? Untuk menjadi diri sendiri saja kami tidak bisa. Kami disuruh meninggalkan jati diri kami. Kami orang Papua tapi disuruh menjadi orang Irian Jaya. Dipaksa melakukan.

Mendengar keluh kesah itu, dan dengan sederhana sekali, Gus Dur berkata, kalau memang itu jati diri dan harkat martabat orang-orang Papua, kita kembalikan nama Papua. Sejak itulah nama Irian Jaya menjadi artefak sejarah dan diganti jadi Papua.

Gus Dur tidak perlu meminta persetujuan parlemen. Gus Dur tidak takut dikucilkan dan sebagainya. Yang ada di pikiran Gus Dur hanya menegakkan keadilan dan kemanusiaan. Dan begitulah menjadi Indonesia!

Diceritakan oleh putri pertama Gus Dur, Alissa Wahid saat memberikan sambutan pada acara Peringatan Haul Sewindu Gus Dur di Masjid UIN Sunan Kalijaga, Sabtu 20 Januari 2018. (Rokhim)