sumber: merdeka.com

Kolom Gus Hilmy: Belajar Dari Cara Nabi Muhammad Bertutur Kata

Posted on

Oleh : KH. Dr. Hilmy Muhammad, M.A, Wakil Rais Syuriah PWNU DIY dan Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta

Dalam surat Al-Ahzab ayat 21 disebutkan bahwa “laqod kaana lakum fii Rosulillahi uswatun hasanah”, yang terkandung pada ayat tersebut bahwa Nabi Muhammad SAW patut menjadi uswah hasanah, teladan kita, panutan kita, karena nabi itu adalah sebaik-baiknya makhluk Allah yang ada dimuka bumi ini. Apa pun yang pernah dilakukan nabi bisa menjadi uswah, pedoman kita semua, termasuk adalah bagaimana ketika rosul berkata-kata. Jadi, apa yang menjadi karakteristik pengendikane kanjeng nabi?

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Seperti yang kita ketahui kalau ucapan itu sesuatu yang penting, yang mana kita dianggap hidup kalau kita bisa ngomong, kalau kita gak bisa ngomong ya kita gak hidup. Dan omongan kita ini adalah omongan yang harus dijaga, yang harus diingati “man kaana yuminu billahi wal yaumil akhiri falyaqul khoiron au liyashmut.”

Disini, ada 2 faktor mengapa kanjeng Nabi Muhammad SAW itu Afsahul kalam, yang pertama itu anugerah, karena kanjeng Nabi lahir dan hidup di lingkungan yang terhormat, oleh karena itu kita perlu bersama dengan orang yang terhormat, karena mereka tau tata cara, dan itu lah yang ada pada nabi, seperti ucapan beliau “addabana robbi faahsana tadibi,”. Faktor yang kedua karena Al-Quran, karena Al-Quran diturunkan kepada kanjeng Nabi dan beliau belajar langsung kepada Al-Quran.

Apabila kanjeng nabi berbicara, bicaranya dengan pelan-pelan, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lamban, bicara dengan jelas, mulutnya terbuka lebar, dan berbicara hanya hal-hal yang penting saja, jika tidak penting maka tidak akan berbicara.

Ketika beliau tertawa, tertawanya adalah senyum jadi kalau kanjeng nabi ketawa paling terbahak-bahaknya itu kelihatan gigi gerahamnya, jadi tidak sampai mangap-mangap kalau ketawa seperti kita. Demikian juga ketika sedih, ketika nangis, ya mulutnya mingkem, ini adalah nangisnya kanjeng nabi sama dengan tertawanya kanjeng nabi.

Nah, cara beliau menyampaikan suatu cara yang memperlakukan atau me-manage mulut beliau sedemikian rupa dan itu memberi cerminan bagaimana sosok kanjeng nabi Muhammad SAW. Coba siapa sosok yang tidak pernah tertawa terbahak-bahak? Berarti ini adalah sosok yang senantiasa serius. Nah kalau orang serius tidak boleh cengengesan. Kalau nabi cengengesan bahaya, jadi nabi itu harus serius, yang diomongan pasti sesuatu yang dtunggu-tunggu, karena itu nabi jarang berbicara, dan yang dibicarakannya itu adalah sesuatu yang penting dan ditunggu-tunggu, kalau kita ini banyak ngomong, “halah paling yang diomongin itu lagi.”

Jadi omongannya Nabi itu sangat dinanti-nanti dan jelas ucapannya, kalau yang diucapkannya kurang jelas, maka nabi akan mengulang sampai 3x, ini kanjeng nabi, profil bahwa beliau itu berarti orang yang serius, bukan orang yang kakean guyon, cengengesan, ini gak boleh.

Nabi pernah ngendikan “ittaqillaha haitsu ma kunta” takutlah kalian dimana pun kalian berada “wa atbiis sayyiatal hasanata tamkhuha wa kholiqinnasi bi khuluqin hasanin,” Ini cara nabi memberi panduan hidup. Anda itu takutlah kepada Allah dimanapun anda berada, kapan pun, aktivitas apa yang anda lakukan, perang apapun, yang penting anda bertakwa, anda sebagai pedagang bertakwalah anda, anda sebagai petani bertakwalah anda, anda sebagai politisi bertakwalah anda, sebab yang penting untuk menjadi orang suci itu tidak harus menjadi kiai. Karena apa, intinya bertakwa, takut kepada Allah.

Baca Juga >  Apa Jalan Terbaik dan Cara Tercepat Menuju Surga?

Meskipun anda hidup menjadi pedagang, politisi, bisa menjadi orang suci, asal anda bertakwa. Betapa kasihannya orang kalau ingin menjadi orang suci harus gundul, ada itu agama yang kalau anda ingin menjadi orang suci anda harus gundul, untuk menjadi orang suci anda gak boleh kawin, ini berarti agama tidak mutu karena tidak sesuai dengan kepentingan kita masing-masing, yang mereka sesuai dengan keinginan kita namanya agama yang fitrah, ini pengendikane nabi yang luar biasa, bukan hanya kata-kata mutiara tapi juga doanya.

Intinya, kita ini belajar pengendikane kanjeng nabi. Apa isinya? Isinya atau ciri khas ucapannya kanjeng nabi ada tiga. Yang pertama, cirinya ringkas (ijaz), seperti hadist-hadist itu pendek, tapi meskipun pendek, kandungan maknanya, luar basa dalam, ini namanya ringkas. Kedua, kata-kata yang digunakan adalah kata-kata yang mudah, tidak sulit dipahami, dan artinya jelas. Jadi yang diucapkankan kanjeng nabi itu kata-katanya tidak sulit, seperti “min husni islamil mari tarkuhu ma laa yanihi.”, “siapa yang harus saya hormati pertama kali wahai kanjeng nabi? ummuka, ummuka, ummuka” jelas, tidak sulit.

Kalau anda disuruh pidato, anda jangan terlalu lama, yang dimongkan harus sesuatu yang jelas, yang bisa dipahami, jangan sampai omongan anda sesuatu yang sulit. Dan yang ketiga, Muwafaqotu murodi mukhottob (sesuai dengan yang diajak bicara) kemauan yang diajak bicara, nabi itu bicaranya sesuai, apabila berbicara kepada pemuda, maka menggunakan bahasa pemuda,begitu seterusnya sesuai orang yang diajak bicara. Ini cirinya kanjeng nabi, ucapannya intinya tiga itu. Berarti ini harus jadi inspirasi kita, berbicara kepada siapapun, dimanapun, usahakan 3 hal ini, kalau anda bisa menggunakan ini semua, yang menjadi ciri ucapan kita akan diperhatikan dan senantiasa ucapan kita ini akan ditunggu-tunggu seperti pengendikane kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Kalau anda sudah paham, mari sama-sama kita ajarkan kepada orang lain yang belum tahu agar mereka bisa meniru yang baik-baik juga.

*Tulisan ini disarikan dari ceramah KH. Hilmy Muhammad dalam acara pengajian peringatan maulid nabi di Masjid Krapyak, 14 Desember 2017. Pentranskip Ayu Ismatul Maula, santri Pondok Pesantren al-Munawwir Komplek Q.