Hati Suhita, Menyibak Misteri Pernikahan dalam Budaya Pesantren

Posted on

Membaca novel Hati Suhita karya Hilma Anis ini, mengingatkan saya pada satu kesimpulan yang telah dikemukakan oleh salah seorang sastrawan terkemuka Indonesia, Eka Kurniawan. Dalam sebuah buku kumpulan esainnya; Senyap yang Lebih Nyaring ia mengemukakan; jika kesusastraan bisa dibagi dua, barangkali hanya ada dua kategori 1) yang menjadikan pernikahan sebagai tujuan kebahagiaan, 2) yang menjadikan pernikahan sebagai sumber penderitaan.

Kesimpulan tersebut bukanlah satu hal yang mengada-ada. Eka mendasari kesimpulan tersebut dari pembacaannya terhadap beberapa karya sastra; Romeo and Juliet, Anna Karenina, Siti Noerbaja, Madame Bovary dll. Ada tema besar dalam karya-karya itu yang bisa ditarik menurut Eka, yaitu; pernikahan, meskipun antara satu dan lain hal, apa yang diperbincangkan dalam karya-karya tersebut berbeda.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Romeo and Juliet, misalnya, pernikahan dibicarakan sebagai tragedi. Cerita Romeo dan Juliet berakhir tragis lantaran mereka ingin ‘memaksakan kehendak’ untuk menikah. Sedangkan Siti Noerbaja berlainan. Novel itu tidak mencoba membicarakan pernikahan sebagai tujuan sebagaimana Romeo and Juliet. Akan tetapi, mengisahkan perihal aspek buruk pernikahan yang tidak dikehendaki oleh sang tokoh; pernikahan yang tidak diidamkan.

Jika kita pernah membaca Kesialan Orang Lajang karya Franz Kafka pun agaknya juga menyimpulkan demikian. Dalam buku kumpulan fiksi mininya itu ia sebenarnya sedang membicarakan pernikahan pula. Kafka membicarakan pernikahan sebagai ironi. Alih-alih membicarakan ‘kesialan-kesialan’ orang lajang, pada dasarnya apa yang sedang ia bicarakan dalam buku tersebut adalah soal nasib orang yang tidak menikah. Lajang adalah sebentuk ironi bagi orang yang mengharap pernikahan.

Pula apa yang dikisahkan oleh Nawal el Saadawi dalam bukunya Women at Point Zero sebenarnya pun juga perihal pernikahan. Novel tersebut melalui tokohnya Firdaus, menyampaikan sebentuk protes terhadap ‘perbudakan’ dalam ikatan pernikahan.

Ada benang merah yang dapat ditarik atas seluruh karya-karya tersebut. Tujuan utama dari semua itu tidak lain hanyalah membicarakan satu hal, sebagaimana apa yang telah disimpulkan oleh Eka Kurniawan; pernikahan. Ada yang berakhir bahagia, ada pula yang terlampau sedih.

Hati Suhita termasuk salah satu karya sastra yang turut masuk dalam salah satu kategori tersebut. Hati Suhita mengisahkan duka lara seorang tokoh perempuan bernama Alina Suhita yang dijodohkan dengan Abu Raihan Al-Birruni, seorang putra tunggal Kiai Hannan. Pasangan hasil perjodohan tersebut kemudian banyak menyembunyikan kepalsuan; di luar terlihat mesra, romantis, baik-baik saja, akan tetapi di dalam bilik kamarnya, justru saling diam, bahkan pisah ranjang sejak ijab kabul.

Saya kira, apa yang dikisahkan Khilma dalam karyanya Hati Suhita ini menguatkan atas kesimpulan Eka Kurniawan di atas, yaitu kecenderungan untuk memperbincangkan pernikahan. Khilma memperbincangkan pernikahan di dalam karyanya sebagai ‘perang’ batin; pergulatan antara memperoleh hak sebagai wanita juga kewajibannya sebagai seorang istri.

Lalu yang menjadi pertanyaan dari mana bermulanya perbincangan perihal pernikahan itu muncul dalam karya sastra?

Perbincangan atas pernikahan dalam karya sastra pada dasarnya merupakan hal yang wajar dan juga bukan satu hal yang tak beralasan. Sigmund Freud, mengemukakan bahwa seluruh aktivitas manusia tak lain merupakan dorongan dari seks. Dorongan seks menjadi energi psikis yang penting dalam aktivitas manusia.

Berkaitan dengan seks, teori Freud menyatakan bahwa satu-satunya hal yang mendorong kehidupan manusia adalah dorongan libido. Dalam libido seksualitas, seseorang berusaha mempertahankan eksistensinya; Karena manusia akan segera mengetahui dia tidak abadi, sehingga satu-satunya cara untuk mempertahankan kehidupan adalah dengan melanjutkan generasi. Itulah mengapa Freud mengambil kesimpulan bahwa pusat energi dasar manusia (Id) berada pada (libido) sex.

Baca Juga >  Budaya Sebar Apem: Mengenang Dakwah Islam Ki Ageng Gribig

Karena itu pula barangkali mengapa “pernikahan” kerap bersarang di kepala para pengarang. ‘Seks’ selalu mendominasi dalam segala aktivitas pengarang, termasuk untuk membicarakannya, bahkan oleh pengarang yang berlatarbelakang Islami sekalipun.

Seturut itu, dalam Hati Suhita, kita bisa membaca bahwa seks adalah tujuan dari pernikahan tokoh utama; Suhita untuk melanjutkan keabadian pesantren dan melanjutkan keturunan seorang gus. Hal tersebut dapat dilihat atas rasa bahagia yang merangsek masuk dalam diri Suhita saat telah melepas ikhlas kesuciannya kepada Gus Birru yang seiring waktu luluh dan keduanya saling mencintai. Untuk mengekspresikan momen bahagia Suhita, Khilma melarutkan pembacanya lewat deskripsi erotis.

“Air mataku menitik menanggung haru. Mas Birru memberikan seluruh kehangatan yang dia punya untuk menebus kebekuan kami selama ini. Dia mengajakku terbang ke surga. Pelan dan semakin dalam. Suamiku ini memberi kenikmatan tiada tara. Semakin lama semakin indah. Kami berdua mereguk kenikmatan paripurna… Kami bermandi peluh di tengah udara yang begitu dingin” (hlm. 377-378).

Suhita pula merasakan kesedihan mendalam saat ‘penyerahan’ akan dirinya ditolak mentah-mentah oleh Gus Birru “Kamu gak perlu susah payah begini. Aku belum tahu kapan.” (hlm. 27)

Dari deskripsi tersebut, betapa kita mafhum atas kesimpulan Eka Kurniawan di satu sisi dan pemikiran Sigmund Freud di sisi lain, bahwa betapa seks adalah puncak kebahagiaan dari pernikahan yang dikisahkan dalam Hati Suhita. Melihat demikian, rasanya kita tidak lagi perlu untuk memperdebatkan soal Sastra Wangi, sebab barangkali tidak ada karya yang tidak membicarakan seks. Semuanya pada dasarnya memperbincangannya meski dalam bentuk yang berbeda-beda.

Namun, meski demikian, di sisi lain yang menarik dari kisah pernikahan Suhita —yang sebenarnya klise, sederhana dan mudah ditebak– Penulis; Khilma, tidak menyajikan kisah tersebut secara datar, akan tetapi dibumbui secara apik dengan cerita tentang perempuan, kepesantrenan dan filsafat jawa. Tiga variabel itu saling bertautan dalam kisah pergolakan Hati Suhita.

Sebagaimana Amba karya Laksmi Pamuntjak yang menautkan antara legenda Mahabharata; Dewi Amba, Khilma juga mencoba menautkan tokoh dalam karyanya dengan Dewi Suhita; salah seorang pemimpim kerajaan Majapahit. Hal ini yang kiranya membuat karya Khilma Anis menjadi menarik, serupa karya Orhan Pamuk The Red-Haired Woman yang menyatukan antara legenda barat (Yunani) Oedipus Rex dan timur (Persia) Rostam dan Sohrab.

Orhan Pamuk yang terlahir di antara garis batas Timur dan Barat (Turki), ia menggali kebudayaannya ‘sendiri’. Pun begitu pula dengan Khilma Anis yang terlahir sebagai santri Jawa, ia pula menggali kebudayaannya sendiri; budaya pesantren dan jawa. Dalam mengisahkan pernikahan Suhita, Khilma tidak saja memperbincangkan pernikahan semata, namun pula melimpah ruahkan budaya pesantren dan filsafat jawa di dalamnya.

Penulis: Moch Royyan Habibie