Kisah Sang Penumpas PKI tentang Santri, Hizbullah, DI/TII dan PKI

Kisah Sang Penumpas PKI tentang Santri, Hizbullah, DI/TII dan PKI

Posted on

Kisah Sang Penumpas PKI tentang Santri, Hizbullah, DI/TII dan PKI.

Salah satu nama penumpas PKI adalah KH. Ahid Sambas (lahir tahun 1936). Pada tahun 1965-1966, beliau kesohor di sekitar Nganjuk bahkan Jawa Timur. Tentu masih banyak tokoh lain yang juga berperan melawan PKI di Nganjuk, baca FB saya: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=513639629433466&id=100023623007183

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Selain sebagai penumpas PKI, beliau yang hingga detik ini masih tahes dan tongseng juga dikenal sebagai penggembleng.

Di bawah ini adalah cerita lain dari KH. Ahid tentang Santri, Hizbullah, DI/TII dan PKI yang bersumber dari para misanan dan ipar beliau, juga dari pengalaman beliau sendiri.

Waktu itu di Jawa Barat, para santri banyak bertempur melawan penjajah dengan berafiliasi ke pasukan Hizbullah. Hizbullah inilah yang gigih dan gagah berani melawan Belanda dan merampas senjata penjajah.

Tokoh-tokoh Pasukan Hizbullah di seputaran daerah Kiai Ahid banyak berasal dari famili beliau. Mereka mempunyai berbagai keahlian. Abahnya KH Ahid yang bernama KH. Ilyas Abdulah adalah pengasuh pesantren di Cidadap Ceribon. Beliau terkenal sebagai penggembleng pejuang melawan penjajah. Pada awal Orde Baru, beberapa kali dikunjungi jenderal tentara dan meminum air sumur di pondok itu.

Famili Kiai Ahid yang lain semisal Kang Junaidi adalah ahli kanuragan. Kang Junaidi kalau diberondong peluru oleh Belanda, akan ditadahi (dihadang) dengan serban. Setelah peluru terkumpul banyak di serban, maka serban itu dikibaskan oleh Kang Junaidi ke arah Belanda sebagai psywar.

Adapun misanan Kiai Ahid yang bernama Kang Abu Hafsin adalah ahli nyirep. Sedang Kang Hasyim menjadi pimpinan pasukan bersenjata tajam. Keluarga mereka adalah pemegang hizib warisan Sunan Gunung Jati. Paman misan beliau yang bernama Mayor Mastur adalah salah satu komandan yang dikirim ke Madiun untuk menumpas pemberontakan PKI 1948.

Pernah suatu saat di Pabrik Gula Sindang laut Ceribon yang dijaga Belanda dikepung oleh pasukan Hizbullah. Kang Abu Hafsin bertugas menyirep pasukan Belanda. Setelah tersirep, Kang Hasyim yang brewokan dan tinggi besar bergerak dengan pasukan senjata tajamnya guna menghabisi penjajah dan anteknya yang terlelap tersirep. Setelah itu semua senjata diangkut.

Akhirnya Hizbullah mempunyai banyak senjata rampasan yang disimpan dengan dipendam di hampir tiap musholla, masjid dan pondok.

****

DI/TII asalnya juga banyak yang dari Hizbullah. Versi Kiai Ahid berdasar info yang beliau terima bahwa adanya DI/TII karena mereka tidak diterima atau tidak direkrut menjadi tentara reguler disebabkan tidak memenuhi persyaratan. Semisal ada yang tidak punya ijazah atau kebanyakan mengaku ikut berjuang tapi tidak tahu siapa yang memimpin saat berperang di lapangan. Jumlah anggota DI/TII di Jawa Barat adalah ribuan.

Mendekati tahun 1960, pemerintah menyerukan agar DI/TII menyerah. DI TII mau menyerah asal yang menjemput adalah para tentara yang muslim dan para santri.

Baca Juga >  Menhan Prabowo dan Kisah Gaji Gus Dur - Mbah Maimoen

Benar, akhirnya kata Kiai Ahid, yang menjemput adalah Brigjen Ibrahim Aji yang juga awalnya dari pasukan Hizbullah (Saya mencoba melihat di internet siapa Ibrahim Aji, ternyata beliau pernah menjadi pangdam Siliwangi).

Semua santri ikut menjemput termasuk Kiai Ahid. Kiai Ahid menyaksikan ribuan DI/TII yang asli (bukan yang didirikan oleh PKI) menyerah turun gunung. Pasukan perempuan DI/TII berkerudung putih, baju hijau dan tapih (kain bawahan) batik dengan menenteng senjata. Semuanya berseragam.

Berseragamnya pasukan DI TII ini menurut Kiai Ahid bisa jadi karena waktu di desa Plered Ceribon Barat ada beberapa usaha batik dan diantara pemiliknya adalah simpatisan Hizbullah yang saat di antara pasukan Hizbullah ada yang “nyempal” ikut DI/TII, maka pengusaha batik ikut menyumbangkan kain. Tentu ini semua karena ikatan mereka di bawah panji Hizbullah sudah lama sehingga adanya perubahan pasukan tidak begitu diperhatikan oleh para pengusaha batik.

Setelah menyerah, pemerintah mengakui jasa para mantan pengikut DI/TII. Tapi tidak digaji.

Dalam pandangan Kiai Ahid, Kartosuwiryo bukan dari pejuang yang berasal dari kalangan santri. Kartosuwiryo terpengaruh dengan DI yang dari PKI.

****

Lalu apa kaitan DI/TII dengan PKI?
Seperti dijelaskan di atas, Hizbullah mempunyai banyak senjata rampasan. Termasuk Hizbullah yang tidak terekrut menjadi tentara reguler juga banyak menyimpan senjata. Hizbullah dari kelompok yang tidak direkrut inilah yang akhirnya mendirikan DI/TII. Jumlah mereka ribuan.

PKI melihat peluang bisa memperoleh senjata dari mereka. Maka PKI mendirikan DI/TII agar bisa membaur dengan DI/TII yang asli (Kiai Ahid membedakan DI/TII yang asli dan yang bentukan PKI).

Kata Kiai Ahid, model PKI yang “membo-membo” ini juga terjadi di Banten. Di sana didirikan BTI yang disebarkan kepanjangannya sebagai Barisan Tani Islam. Akhirnya banyak umat yang masuk BTI.

***

Ada pelajaran lain yang penting. Di sela Kiai Ahid berkisah, beliau teringat meninggalnya Kang Junaidi sang penadah peluru Belanda. Suatu saat, emaknya menyuruhnya ngentasi gabah (jemuran padi di halaman rumah). Sewaktu belum kelar pekerjaan ngentasi padi, ada serangan dari Belanda. Sebagai pasukan Hizbullah secara refleks Kang Junaidi langsung bergegas mencari suara serangan untuk dihadapi. Tapi ternyata malah akhirnya Kang Junaidi malah hilang dan sampai saat ini tidak diketahui kemana hilangnya.

Kiai Ahid menekankan bahwa kepatuhan kepada ibu adalah penting sekali walau dia sakti. Selesai berkisah, Kiai Ahid menangisi Kang Junaidi. Pria yang andap asor dan teguh melawan PKI pada tahun 1965 ternyata bisa menangis.

Demikian Kisah Sang Penumpas PKI tentang Santri, Hizbullah, DI/TII dan PKI, semoga manfaat.

Penulis: Dr KH Ainur Rofiq Al Amin, Tambakberas Jombang.