Kisah Sang Kolonel yang Salah Mondokkan Putranya

Kisah Sang Kolonel yang Salah Mondokkan Putranya

Diposting pada

Kisah Sang Kolonel yang Salah Mondokkan Putranya.

Sore jelang Maghrib kemarin, datang seorang tamu bermasker dengan kain loreng, beliau adalah Sang Kolonel. Karena sekitar setengah jam dari waktu Maghrib, maka pembicaraan belum bisa gayeng. Sekalipun demikian, ada poin penting yang saya ingat dari pembicaraan singkat tersebut berupa kisah bagaimana dulu putranya mau mondok.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Saat itu, sang putra mencari informasi di internet, ketemulah pondok yang promosinya menarik minatnya. Pondok yang berada di daerah Malang tersebut tampak dari tampilannya soft atau moderat dan terbuka menerima semua kalangan.

Setelah daftar mondok dan anak diantar ke pondok, mulanya kegiatannya berjalan biasa, apalagi saat pembukaan juga mengundang beberapa tokoh NU setempat. Namun kemudian ada ‘keanehan’ di pondok itu semisal tidak ada kegiatan istighosah, tahlilan atau tradisi tradisi ala pesantren yang umum berlaku di mayoritas pesantren di Indonesia.

Saat Sang Kolonel mulai mencium hal tersebut, beliau tidak langsung menarik putranya dari pondok itu, namun menunggu perkembangan lebih lanjut. Lalu muncullah peristiwa lain, yakni tidak ada upacara bendera. Ada juga kegiatan ekstra kurikuler menembak pakai senapan angin, memanah dan aktivitas lain seperti diajari merayap, berguling dan rolling. Tentu bagi seorang tentara, hal tersebut dianggap kegiatan semi kemiliteran.

Keanehan lain lagi adalah kegiatan kepanduan yang tidak pernah menggunakan baju pramuka atau hasduk merah-putih, dan sama, diajari semi militer. Sering ada kumandang doktrin jihad kontemporer, seperti persiapkan dirimu untuk jihad membela saudara-saudara kita di Palestina.

Satu hal lagi yang tidak bisa dipahami adalah ketika santri yang masih remaja (setingkat SMP dan SMA) yang harusnya belajar, malah diajak demo dengan alasan ghiroh membela Islam (kasus Ahok). Mereka mendapatkan fasilitas penuh mulai transportasi ke Surabaya dan konsumsi dari lembaga. Sementara di saat pembayaran SPP telat (sewaktu mid-semester, ortu lupa transfer karena ada tugas di luar pulau) si santri tidak boleh ikut ujian. Setelah ditransfer baru diperbolehkan masuk. Padahal selama ini tidak pernah telat.

Baca Juga >  Hukum, Santri, dan Cerutu

Hal lain yang membuat trenyuh adalah ketika pulang liburan Romadon, pada waktu itu ibunya berdoa buka puasa dengan “Allahumma laka sumtu…..” ternyata disalahkan. Sang anak juga bilang makan yang sunnah pakai jari tiga.

Melihat realitas seperti itu, maka anaknya dipindah mondok. Akhirnya dibawa ke Pesantren Amanatul Ummah, Mojokerto.

***

Sang Kolonel juga cerita plus sedikit wawancara singkat. Beliau sedang menulis tesis di Universitas Pertahanan. Tesisnya mengambil tema tentang NKRI Bersyariah. Semoga sukses dan lancar.

****

Sang Kolonel lewat japrian menulis ini:

1. Lembaga pendidikan berbasis agama seharusnya menjadi kawah candradimuka untuk memperkuat akhlak, bukan malah digelorakan doktrin jihad yang potensial mengarah kepada penyiapan bibit dan kader radikal.

2. Pendidikan nasional harus mengedepankan serta memperkuat nasionalisme, bukan militansi dan jihad kontemporer

3. “Toleransi sosial” dengan memberikan kesempatan anak didik memperoleh hak belajar, bukan malah diajak turun demo dengan alasan ghiroh Islam.

19 Juli 2020.

Penulis: Dr KH Ainur Rofiq Al Amin, Pesantren Tambakberas Jombang.