Kisah Karomahnya Kiai As’ad dan Kisah Taman Makam Pahlawan

Kisah Karomah Kiai As'ad Jelang Istrinya Akan Wafat

Kisah Karomahnya Kiai As’ad dan Kisah Taman Makam Pahlawan Bondowoso.

Kiai As’ad Syamsul Arifin, Sukorejo Asembagus Situbondo. Selain fokus mengasuh Pesantren Salafiyyah Syafi’iyyah Sukorejo, beliau adalah pejuang kemerdekaan yang gigih melawan Belanda. Kiai As’ad juga seorang pendekar, ahli kanuragan. Banyak preman dan penjahat takluk di bawah kewibawaan Kiai As’ad, sehingga akhirnya menjadi taubat dan bahkan jadi santrinya Kiai As’ad.

Kiai As’ad punya pasukan pejuang bernama “Pelopor”. Ini pasukan khusus yang siap bergerak kapan saja untuk melawan penjajah. Suatu hari, Kiai As’ad melihat gerak pasukan “Pelopor” yang menyusup ke markas Belanda. Pasukan “Pelopor” keluar dari markas Belanda dengan membawa 70 pucuk senapan dan 3 peti peluru.

Singkat cerita, berperanglah Kiai As’ad Samsul Arifin secara bergerilya (antara Situbondo-Jember-Bondowoso). Saat itu, ada seorang pasukan “Pelopor” yang terkena peluru Belanda dan gugur sebagai syuhada.

“Jek ghendem, kebeh pekol! (jangan di kubur, bawa dengan dipikul),” ucap Kiai As’ad Syamsul Arifin.

Beberapa pasukan “Pelopor” bertanya-tanya heran dalam hatinya: mengapa tidak langsung dikubur saja?

Setelah berjalan jauh melewati lembah, sungai, naik turun gunung beberapa kali sambil menggotong mayat, berhentilah Kiai As’ad Syamsul Arifin di suatu tempat dan berkata: “Kuburlah di sini, kelak di sini akan menjadi kuburan para pejuang pembela negara…”

Subhanallah, dengan takdir Allah. Tempat tersebut sekarang menjadi “Taman Makam Pahlawan Bondowoso” atas ucapan Kiai As’ad Syamsul Arifin. Kisah ini diceritakan oleh panglima pelopor Bindere Miskun semasa hidupnya.

(Abu Umar/Bangkitmedia.com)

_________________

Semoga artikel Kisah Karomahnya Kiai As’ad dan Kisah Taman Makam Pahlawan Bondowoso ini memberikan manfaat dan barokah untuk kita semua, amiin..

BONUS ARTIKEL TAMBAHAN

Kisah Abu Bakar Dihina Orang Badui

Pada suatu hari Rasulullah SAW bertamu ke rumah sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq, Ketika sedang ngobrol dengan Rasulullah, tiba-tiba datang seorang Arab Badui menemui Abu Bakar Ash shiddiq dan langsung mencela Abu Bakar. Makian kata-kata kotor keluar dari mulut orang itu. Namun, Abu Bakar Ash Shiddiq sama sekali tidak menghiraukannya, terus beliau melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah SAW. Melihat hal ini, Rasulullah tersenyum.

Kemudian, orang Arab Badui tersebut kembali memaki Abu Bakar, kali ini, makian dan hinaannya lebih kasar. Namun dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya, Abu Bakar masih tetap membiarkan orang tersebut dan tidak sedikit pun membalas caciannya. Rasulullah pun kembali tersenyum.

Untuk ketiga kalinya, dia mencerca Abu Bakar dengan celaan yang lebih menyakitkan dari sebelumnya. Kali ini, selaku manusia biasa yang juga memiliki hawa nafsu, Abu Bakar tidak dapat menahan amarahnya, beliau membalas makian orang Arab Badui itu. Seketika Rasulullah beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Abu Bakar.

Melihat hal ini, Abu Bakar bingung dan dikejarlah Rasulullah, Kemudian Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulullah, janganlah biarkan aku dalam kebingungan yang sangat. Jika aku berbuat kesalahan, jelaskan kesalahanku!, ketika aku sedang dihina engkau malah tersenyum, ketika aku membalasnya mengapa engkau pergi meninggalkanku.”

Rasulullah menjawab: “Sewaktu ada seorang Arab Badui datang dengan membawa kemarahan serta fitnahan lalu mencelamu, kulihat engkau diam dan tidak membalas, aku bangga melihat engkau orang yang kuat mengahadapi fitnah, hinaan dan cacian, dan aku tersenyum karena ribuan para malaikat di sekelilingmu mendoakan dan memohonkan ampun kepada Allah untukmu. Begitu pun yang kedua kali, ketika orang tersebut mencelamu, dan engkau tetap membiarkannya, maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum. Namun, ketika kali ketiga dia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu, dan ketika itu hadirlah iblis di sisimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengan kamu dan aku tidak ingin berdekatan dengannya.”

Setelah itu menangislah Abu Bakar ketika diberitahu tentang rahasia kesabaran bahwa itu adalah kemuliaan yang tersembunyi. yang mana kita tidak menyadarinya. Oleh karena itu bersabarlah atas setiap musibah, celaan dan lain sebagainya.

Demikian Kisah Abu Bakar Dihina Orang Badui, semoga bermanfaat

14 juli 2020

Penulis: Ahmad Hasan Mashuri

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *