Kisah Abu Dujanah Yang Membuat Rasulullah Berderai Air Mata

Kisah Abu Dujanah Yang Membuat Rasulullah Berderai Air Mata

Posted on

Kisah Abu Dujanah yang Membuat Rasulullah Berderai Air mata

Dalam kitab I’anatuth Thalibin Bab Luqatah karya Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyati (wafat 1302 H). Diceritakan dulu pada masa Rasulullah SAW, terdapat seorang sahabat bernama Abu Dujanah. Setiap usai menjalankan ibadah shalat berjamaah shubuh bersama Baginda Nabi, Abu Dujanah selalu tidak sabar. Ia terburu-buru pulang tanpa menunggu pembacaan doa yang dipanjatkan Rasulullah selesai.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Pada suatu kesempatan, Rasulullah mencoba meminta klarifikasi:

“Wahai Abu dujanah, apakah kamu ini tidak punya permintaan yang perlu kamu sampaikan pada Allah sehingga kamu tidak pernah menungguku selesai berdoa. Kenapa kamu buru-buru pulang?

“Ada apa?” tanya Nabi.

Abu Dujanah menjawab: “Begini Yaa Rasulullah, kami punya suatu alasan.”

“Apa alasanmu? Coba kamu utarakan!” pinta Baginda Nabi.

“Begini,”

kata Abu Dujanah memulai menguraikan jawabannya:

“Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Nah, di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku tersebut saling berjatuhan, mendarat di rumah kami.”

“Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anakku sering kelaparan, kurang makan. Saat anak-anak kami bangun, apa pun yang didapat, mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai shalat, kami bergegas segera pulang sebelum anak-anak kami tersebut terbangun dari tidurnya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami tersebut yang berceceran di rumah, lalu kami haturkan kepada pemiliknya.

Suatu saat, kami agak terlambat pulang. Ada anakku yang sudah terlanjur makan kurma hasil temuan. Mata kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya. Ia habis memungut kurma yang telah jatuh di rumah kami semalam. Mengetahui itu, lalu jari-jari tangan kami masukkan ke mulut anakku itu. Kami keluarkan apa pun yang ada di sana.

Kami katakan: “Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak. Anakku menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan.”

Wahai Baginda Nabi, kami katakan kembali kepada anakku itu:

“Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu.”

Pandangan mata Rasulullah SAW sontak berkaca-kaca, lalu butiran air mata mulianya berderai begitu deras. Baginda Rasulullah SAW. Mencoba mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud.

Abu Dujanah pun kemudian menjelaskan: “pohon kurma tersebut adalah milik seorang laki-laki munafik.”

Baca Juga >  Kisah Kecerdikan Kiai Menyadarkan Santri Ahli Hacker Mesin ATM

Tanpa basa-basi, Baginda Nabi mengundang pemilik pohon kurma. Rasul lalu mengatakan:

“Bisakah jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu?. Aku akan membelinya sepuluh kali lipat dengan pohon kurma dari syurga. Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada.” Begitu tawar Rasulullah SAW.

Pria yang dikenal sebagai orang munafik ini lantas menjawab dengan tegas:

“Saya tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji kapan-kapan.”

Tiba-tiba Abu Bakar as-Shiddiq RA. datang seraya berkata:

“Hai Fulan, kubeli pohon kormamu dengan 10 pohon kurma terbaikku di kota Madinah.”

Mendengar penawaran yang menguntungkan itu, si munafik tetangga Abu Dujanah itu menyetujuinya. Sayyidina Abu Bakar berhasil membelinya, lalu memberikannya kepada Abu Dujanah.

Rasulullah SAW. kemudian berkata:

“Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.” Mendengar sabda Nabi ini, Abu Bakar bergembira bukan main Begitu pula Abu Dujanah.

Sedangkan si munafik berlalu, ia berjalan mendatangi istrinya. Lalu menceritakan yang baru saja terjadi:

“Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit pun.”

Malamnya, saat si munafik tidur, dan bangun di pagi harinya, tiba-tiba pohon kurma yang ia miliki berpindah posisi, menjadi berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Dan seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon tersebut tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah. Ia keheranan tiada tara.

Dalam kisah ini, dapat kita ambil pelajaran, betapa hati-hatinya sahabat Rasulullah tersebut dalam menjaga diri serta keluarganya dari makanan dan harta haram serta bukan haknya. Sesulit apa pun hidup, seberat apa pun hidup, seseorang tidak boleh memberikan makanan untuk dirinya sendiri dan keluarganya dari barang haram.

Demikian Kisah Abu Dujanah Yang Membuat Rasulullah Berderai Air Mata.

7/8/2020

Penulis: Ahmad Hasan Mashuri