Di zaman akhir ini menemukan seorang muda yang alim dan santai dalam membabar ilmu agama tetapi bobotnya luar biasa sangatlah langka.
Adalah Gus Baha, salah satu murid kinasih Mbah Moen, putra Mbah Yai Nursalim merupakan satu diantara yang langka itu. Sosok penuh kesederhanaan itu mampu membawa agama begitu menyenangkan, riang gembira, penuh canda tawa tanpa kehilangan keluasan, dan kedalaman ruh agama itu sendiri.
Kecerdasannya membabar sesuatu yang sulit jadi terasa ringan serta piawai menempatkan sebuah iktibar dalam berbagai kasus kehidupan menjadikan ilmu agama begitu sangat menyenangkan, ngayemke coro wong Jowo.
Yang menarik, kajian agamanya bagi beliau sendiri adalah hal lumrah di kalangan para orang alim sebab itu sudah jamaknya. Kita saja yang kurang tamasya ilmu jadi kaget dan terkagum-kagum. Tetapi kita pun akan bersepakat jika beliau memang mengagetkan dan mengagumkan, bukan?
“Wong ibadah kok digawe sangu nyalah-nyalahno wong liyo.”
“Dunyo iki kabeh mungkin, maka jangan gampang-gampang nyalah-nyalahno wong liyo. Iso ae yang kamu anggap kafir besok beriman dan sebaliknya.”
“Ojo khusyu’-khusyu’ marahi ngerusak agama wae mergo sing wani mrotes kanjeng nabi yo wong-wong sing khusyu’ iku,” dan seterusnya.
Ungkapan-ungkapan di atas merupakan sedikit contoh dari banyaknya ungkapan yang pernah Gus Baha sampaikan dalam setiap pengajiannya ketika menjelaskan sebuah ilmu dengan hujjah yang kaya dan kuat secara naqliyah maupun aqliyah.
Di hadapan Gus Baha semua orang berpotensi masuk surga. Di poin ini setiap orang yang ikut majelisnya jadi mendapat pembelaan atas ubudiyahnya yang masih ambyar hingga mampu memunculkan semangat beragama, optimisme terhadap kebaikan dan berhusnudhon kepada Allah.
Hari ini Allah menggerakkan banyak hati untuk mencintainya dan menggerakkan banyak langkah untuk mendatangi majelisnya serta menggerakkan banyak tangan untuk menyerbu akun YouTube yang mengaploadnya.
Ada yang nyiyir ah, nggak semua orang suka Gus Baha, ya jelas, toh Kanjeng Nabi yang mulia saja banyak yang tak menyukai bahkan memusuhi apalagi hanya seorang Gus Baha, paham?! Nek gak paham neroko sampeyan (gaya guyon Gus Baha), hahaha.
Penulis: Cak Udin, Ketua Lesbumi DIY.








