kiai zainal krapyak

Kiai Zainal Abidin Munawwir dan Amplop di Atas Meja

Posted on

Suatu ketika ada seseorang yang bertamu di kediaman Mbah Yai Zainal di Krapyak. Tak lama setelah tujuannya terpenuhi tamu tersebut berpamitan untuk pulang.

Tapi setelah kepulangan tamu tersebut ada sesuatu yang janggal di ruang tamu. Terlihat sebuah amplop yang sengaja ditinggal diatas meja. Kontan Ibu Nyai yang mendapati hal tersebut langsung curiga pada tamu yang baru saja undur diri.

Ibu Nyai melaporkan apa yang beliau temui diatas meja itu kepada Mbah Yai. Setelah dibuka ternyata amplop tersebut berisi uang yang tidak sedikit nominalnya.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Lalu Mbah Yai menyuruh istrinya sendiri itu untuk mencari tahu siapa sebenarnya tamu itu, dimana alamatnya, dan dengan maksud apa amplop itu ditinggal.

Akhirnya alamat yang dicaripun ditemukan. Tamu itu tinggal di kawasan Ibu Kota Jakarta. Sejurus kemudian Mbah Yai mengutus Ibu Nyai untuk bersiap pergi ke Jakarta guna mengembalikan uang itu.

Mbah Yai memang sudah masyhur dengan sifat wirainya. Beliau tidak akan mau memakan uang syubhat apalagi haram. Termasuk uang dalam amplop tersebut.

Beliau menganggap hal itu bukanlah urusan yang sepele karena memang terkait dengan uang yang tidak sedikit nominalnya. Sampai-sampai beliau mengutus istrinya sendiri untuk menyelesaikan urusan itu.

Jika tidak begitu wirainya beliau maka pasti uang tersebut akan langsung saja dipergunakan untuk berbagai keperluan. Toh, uang yang ditinggal dengan sengaja itu pastilah orangnya sudah ikhlas. Begitulah pemikiran yang lumrah pada umumnya. Tapi hal itu sama sekali tak berlaku bagi beliau.

Baca Juga >  Percakapan Santri dalam Telpon dengan Kiai Sahal Mahfudh

Kemudian Ibu Nyai menunaikan tugas yang diamanahkan oleh suaminya. Beliau pergi ke Jakarta dengan biaya transport yang diambilkan dari sebagian kecil uang dari amplop tersebut.

Sesampainya di rumah yang dicari beliau bertemu orang yang sebelumnya bertamu di kediamannya dan mengutarakan maksud kedatangannya. Bahwa beliau diutus oleh Mbah Yai Zainal untuk memastikan maksud dan tujuan amplop tersebut ditinggal.

Jika amplop itu ditinggal untuk diberikan dengan adanya pamrih semisal supaya bisa menang dalam pemilu, karena waktu itu memang musim pemilu maka uang tersebut akan dikembalikan. Tapi jika diberikan semata-mata hanya untuk mengharap pahala dari Allah SWT maka akan diterima.

Orang tersebut menjawab bahwa uang itu diberikan ikhlas lillahi ta’ala dan tulus tanpa ada pamrih sedikitpun dari Mbah Yai Zainal beserta keluarga.

Dan akhirnya uang itu diterima oleh Ibu Nyai selaku utusan Mbah Yai Zainal dan dibawa kembali pulang ke bumi Krapyak.

Semoga kita bisa “kecipratan” berkah beliau meski kita tidak bisa sewirai beliau Alm. KH. Zainal Abidin Munawwir. Amiin..

Wa lahu Al Fatihah..

Penulis: M Zakky Mubarok.