KH Majid Kamil Maimoen Zubair, Sang Pengkaji Shahih Bukhari yang Sangat Teliti

KH Majid Kamil Maimoen Zubair, Sang Pengkaji Shahih Bukhari yang Sangat Teliti

Posted on

KH Majid Kamil Maimoen Zubair, Sang Pengkaji Shahih Bukhari yang Sangat Teliti.

Kemarin, malam senin tanggal 21 Dzul Qa’dah, Indonesia dan dunia Islam kembali kehilangan putra terbaiknya. Sosok yang dengan Ikhlas berkhidmah untuk ilmu agama, bangsa dan negara. Sosok yang low profil. Selalu Tawādhu’ dan mengajarkannya melalui prilaku beliau sebelum melalui ucapan dan kata-kata. Ya, kita kehilangan sosok mulia, beliau adalah Allahu Yarham Syaikhuna Abuya KH. Majid Kamil Maimoen.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Menurut saya pribadi – santri-santri yang lain bisa berbeda tentunya – kenangan paling berkesan dan membekas dengan beliau adalah saat mengkaji kitab Shahīh Bukhari di Mushalla Utama Pon-Pes Al-Anwar Sarang, setiap bakda Maghrib. Saya melihat beliau benar-benar menikmati saat momen-momen ngaji tersebut. Nampak rasa nyaman dari gestur tangan beliau menjelaskan. Sangat nampak sekali beliau Asyik bercengkrama dengan Hadits-hadits Nabawiyah yang dikumpulkan oleh Imam Bukhari dalam buku babon tersebut. Ya, akhirnya kami para santri yang ikut mengkaji pun terbawa keasyikan beliau itu.

Bagi sebagian santri, mungkin ada rasa bahwa ngaji dengan Abuya Majid Kamil ini membosankan. Terlebih lagi, lama tidak khatam-khatam. Dan omongan seperti itu, benar-benar pernah saya dengar sendiri keluar dari mulut salah satu santri. Dan saya bisa menebak bahwa keinginannya ya hanya ikut khataman kitab dan dapat makna saja. Bukan mengkaji materi kitab tersebut.

Tapi bagi santri-santri yang benar-benar ingin mengkaji Shahīh Bukhari, “Sanadan wa Matnan was Fiqhan”, maka majlis Abuya Kamil adalah majlis yang tepat. Kita tidak hanya disuguhi makna perkata dari redaksi Hadits Nabawi, tapi juga analisa-analisa ala Ahlul Hadits yang sangat-sangat menarik. Dan dalam tulisan ini, saya akan menuturkan beberapa contoh catatan-catatan saya dulu, saat Talaqqi Hadits Bukhari pada beliau.

1. Bab Permulaan Wahyu.

Saat kajian Shahīh Bukhari sampai pada Hadits ke-3 dari Bab ke-1, yakni Bab “Kayfa Kāna Bad-ul Wahyi”. Tepatnya pada kisah pertemuan pertama Baginda Nabi Muhammad Saw dengan Malaikat Jibril As. Yang mana dalam Shahīh Bukhari, Hadits ini diriwayatkan oleh Sayyidatuna Aisyah RA. Dalam membahas Haidts ini, saya menuliskan dalam catatan pinggir:

قال شيخنا ماجد: قال العلماء إن هذا الحديث إما من مراسيل الصحابة لأن سيدتنا عائشة لم يعاصر هذا الأمر أو أخذته من رسول الله مباشرة.

“Syaikhuna Majid berkata: Para Ulama berkata bahwa Hadits ini (memiliki dua kemungkinan) adakalanya ini termasuk Marāsil Shahabat sebab Sayyidatuna Aisyah tidak ada satu masa dengan peristiwa ini atau beliau mengambil kisah ini langsung dari Rasulullah.”

Ya, tentunya kita tahu, bahwa Hadits ini mengisahkan awal mula baginda Nabi saat menerima Wahyu. Saat Sayyidatuna Khadijah masih hidup. Dan lalu menyelimuti baginda Nabi, saat Baginda Nabi pulang dari gua Hira’. Nah, anehnya Hadits ini diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah, yang tentunya secara pasti belum pernah “menangi” kejadian ini. Ada yang Musykil dalam riwayat ini, “Bagaimana mungkin Siti Aisyah meriwayatkan sesuatu yang beliau tidak menangi sama sekali?”. Jawabannya ada pada penjelasan Syaikhuna Majid Kamil yang saya catat di atas.

Dalam catatan berikutnya, saya juga mencatat:

عند شيخنا ماجد عن شيخه(السيد) محمد علوي (المالكي الحسني) : إن خديجة أول من أسلم على الإطلاق

“Menurut guru kami, Syaikhina Majid dari guru beliau, (Sayyid) Muhammad Alawi (Al-Maliki al-Hasani) : bahwa (Sayyidah) Khadijah adalah orang pertama yg masuk Islam, secara Mutlak”

Ya, dalam masalah siapakah sosok pertama orang yang masuk Islam, memang terjadi banyak pendapat para Ulama. Ada yang mengatakan Sahabat Abu Bakar, ada yang mengatakan Sahabat Ali, Sayyidah Khadijah dan masih banyak yang lain. Tetapi, berangkat dari Hadits permulaan Wahyu tersebut di atas, Abuya Majid Kamil memilih pendapat – Sebagaimana Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki – bahwa Siti Khadijah lah sosok pertama yang masuk Islam secara mutlak. Ini tentunya menarik, sebab tidak seperti yang kita ketahui selama ini.

Baca Juga >  "Kacang Ora Ninggal Lanjaran", Menyibak Sosok Dibalik Mbah Moen-Kiai Sahal

2. Ketelitian pada Ta’līq Hadits atau bukan.

Hal menarik dalam majlis ngaji Bukhari Abuya Majid adalah analisa beliau. Sering sekali beliau menyebutkan bahwa Hadits ini, ada potensi Mu’allaq jika begini, tapi jika begini tidak. Contoh pada Hadits ke-2 dari Bab ke-1 kitab Shahīh Bukhari. Saat sampai pada redaksi:

قالت عائشة رضي الله عنها ولقد رأيته ينزل عليه الوحي…. إلخ

Dalam catatan pinggir, saya menuliskan keterangan:

في وجود الواو وعدمه خلاف. من قال بوجوده يفهم أن هذا الحديث بسند قبله. ومن قال بعدمه بينهم خلاف. بعضهم قال إن هذا من معلقات البخاري لكن للاستئناس. وقال غيره إن هذا الواو محذوف ومقدر. اتنهى شيخنا ماجد.

“Dalam masalah adanya huruf واو (sebelum kalimat قالت ) dan tidak adanya, terjadi Khilaf. Ulama yang berpendapat bahwa ada huruf Wawu, maka ia memahami bahwa dawuh Sayyidah Aisyah di atas, itu diriwayatkan dengan sanad seperti sanad sebelumnya. Adapun orang yang berpendapat tidak ada wawu, maka antara mereka sendiri juga ada khilaf. Sebagian mengatakan bahwa dawuh Sayyidah Aisyah di atas ini termasuk Hadits-hadits Mu’allaq dalam Shahīh Bukhari. Tetapi disebutkan, untuk sekedar Isti’nas (penguat) saja. Adapun yang lain, mengatakan bahwa huruf Wawunya dibuang dan dikira-kirakan (artinya dawuh Aisyah, diriwayatkan dengan sanad sebelumnya dan bukan Mu’allaq)”

Coba, keren bukan kajian beliau. Sampai sedetil ini, beliau membahas, beliau jelaskan, paparkan dengan lugas, asyik dan sangat-sangat luas. Dan andaikan Shahīh Bukhari dikaji dengan pola seperti beliau ini, saya yakin, sebenarnya kalangan santri tidak akan kalah kajian Haditsnya dengan kaum sebelah, yang gembar-gembor selalu mengajak kembali pada Hadits Nabawi. Keren sekali.

Seingat saya, ada 3 kitab pokok yang selalu beliau bawa saat hendak mengkaji Shahīh Bukhari di Mushalla setiap Bakda Maghrib. Yakni Fathu-l-Bāri karya Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqallani, Irsyādus Sāri karya Imam Al-Qasthallāni Dan Umdatu-l-Qāri karya Badruddin al-‘Aini. Terkadang juga beliau menyertakan kitab Syarah Tarājimi-l-Bukhari yang kalau tidak salah dianggit oleh Imam Waliyyudīn Ad-Dihlāwi.

Ada banyak catatan menarik dalam kajian beliau ini, insya Allah, kapan-kapan kalau ada kesempatan lain, saya akan tulis lagi. Mari kita sama-sama tengadahkan tangan kita, kita berdoa dan bacakan al-fatihah untuk guru kita yang baru saja kembali pulang untuk bertemu sang kekasih, Baginda Nabi, Simbah Maimoen dan Abuya Sayyid Muhammad al-Maliki. Semoga kelak, kita bersama-sama digandeng oleh beliau-beliau ke surga Allah SWT. Karena pada hakekatnya, saat kita mendoakan beliau-beliau ini, kita sedang menyambungkan ikatan batin (Rābithah Qalbiyyah) kepada beliau-beliau. Agar kelak masih dianggap sebagai santri-santri beliau.

اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه وأكرم نزله ووسع مدخله واجعل الجنة مثواه. آمين. 😢

Demikian kisah KH Majid Kamil Maimoen Zubair, Sang Pengkaji Shahih Bukhari yang Sangat Teliti, semoga bermanfaat.

Penulis: Dhiya Muhammad.