kiai sahal kajen

KH Mahfudh Salam, Ayah Kiai Sahal yang Istimewa

Posted on

KH Mahfudh Salam adalah anak KH Abdussalam, Kakak KH Abdullah Zain Salam, dan ayah KH MA Sahal Mahfudh. Keluarga ini identik dengan Al Qur’an. KH Abdussalam menurut KH Ahmad Zakki Fuad Abdillah menghafalkan Al Quran Karena tertarik dengan hafalan santrinya KH Hasbullah.

Kiai Abdussalam menghafalkan Al Qur’an ketika sudah Tidak muda lagi. Namun semangat menghafalkan Al Qurannya sangat tinggi. Bahkan, Kiai Abdussalam sering dijuluki Kiai Sarno (nek pasaran ono).

Hal ini tidak lepas dari kebiasaan Kiai Abdussalam menghafalkan Al Qur’an di pasar ketika sedang ramai (Dino pasaran), tepatnya di tempat jualan ikan yang ramai. Jika sudah mampu menghafalkan Al Quran di tempat yang ramai, maka hafalan Al Qurannya sudah bagus. Sebuah latihan yang menantang Dan kreatif.

KH. Mahfudh Salam menghafalkan Al Qur’an ketika mengantar adiknya KH Abdullah Zain Salam mondok di Sampangan Madura, di Pondoknya Kiai Said. Ketika mengantar, kemudian menunggu adiknya sebentar di Sampangan, lalu pulang, Kiai Mahfudh sudah dikenal Hafidhul Quran (hafal Al Qur’an).

Kiai Mahfudh Salam ketika ditanya masalah, maka jawabannya langsung mengutip Al Qur’an disertai dengan istinbath hukumnya. Hal ini tidak lepas dari kekuatan ilmu beliau dalam Bidang Al Qur’an, Bahasa arab, fiqh, Dan ushul fiqh. Maka wajar jika Kiai Mahfudh Salam menjadi pemimpin para Ulama Kajen.

Menurut KH Ahmad Zakki Fuad Abdillah, Kiai Mahfudh membuka pengajian Al Qur’an di PMH Putra. Metode pengajarannya sangat disiplin, tegas, dan bisa dikatakan keras. Dalam mengajar anak-anaknya, metode ini diterapkan Kiai Mahfudh Salam, sehingga kadang putra-putranya ketika menerima sanksi mencari perlindungan ke kakeknya, KH. Abdussalam. Ketika anak-anaknya sudah ke rumah kakeknya, Kiai Mahfudh Salam tidak berani mengejar.

Baca Juga >  Mbah Moen: Tegas dalam Prinsip, Lentur dalam Sikap

KH Mahfudh Salam dikenal orang yang sangat menghormati orangtua. Ketika makanan sudah selesai dimasak, maka tidak boleh dimakan sebelum diberikan terlebih dahulu kepada orangtuanya. Ketika dalam pengungsian, Kiai Mahfudh Salam menyerah kepada Belanda ketika ayahnya dijadikan alat Belanda. Jika Kiai Mahfudh tidak menyerahkan diri, maka ayahnya akan terus dihukum dan tidak dibebaskan.

Sebuah teladan Agung birrul walidain yang harus Dicontoh para santri dan bangsa ini di tengah krisis moral akut sekarang.

الي روح الشيخ العالم العلامة الحافظ محفوظ سلام عبد الله ووالديه ومشايخه الفاتحة … امين

(Jamal Ma’mur Asmani, Santri Kiai Sahal)