Kiai Asyhari Marzuqi DIY

KH Asyhari Marzuqi, Rais Syuriah PWNU DIY 1992-2004

Perjalanan NU DIY tidak bisa dilepaskan dari sosok KH Ali Maksum. Kalau proses perintisan dilakukan oleh KH Imam Wonokromo, tetapi pengembangan NU DIY digerakkan oleh KH Ali Maksum, yang kemudian dilanjutkan oleh santri-santrinya. Tahun 1981, Kiai Ali menjadi Rais Aam PBNU, padahal saat itu beliau juga Rais Syuriah PWNU DIY.

Sejak tahun 1981, roda syuriah PWNU DIY dijalankan KH Nawawi Abdul Aziz, Ngrukem. Kiai Nawawi resmi menjadi Syuriah PWNU DIY mulai tahun 1984 sampai 1992. Dalam konferensi wilayah NU DIY di Kaliurang, Kiai Asyhari Marzuqi melanjutkan kepemimpinan syuriah PWNU DIY. Kiai Asyhari Marzuqi adalah santri Kiai Ali, juga menantu Kiai Nawawi. Kiai Nawawi juga santri Kiai Ali.

Praktis, sejarah NU DIY selalu bergerak dalam proses kaderisasi yang sudah dibangun Kiai Ali. Sepanjang hayatnya, Kiai Ali sangat menekankan kaderisasi.

Ketika menjadi Rais Syuriah PWNU DIY, Kiai Asyhari Marzuqi dikenal sosok yang tegas, disiplin, tapi moderat. Sebagai syuriah, Kiai Asyhari selalu membimbing jajaran pengurus PWNU DIY untuk selalu aktif, kreatif dan berpegang teguh dengan pedoman organisasi sebagaimana sudah ditegaskan dalam Qonun Asasi NU dan AD/ART. Saat itu, masih masa orde baru, Kiai Asyhari terus berusaha membangun keseimbangan dalam tubuh NU, jangan sampai goyah dalam permainan politik orde baru. Apalagi, warga nahdliyyin DIY sudah ditinggalkan Kiai Ali yang wafat tahun 1989.

Rutin Iuran Bulanan

Sebagai Rais Syuriah, Kiai Asyhari bukan saja memutuskan dan merestui kebijakan PWNU DIY, tetapi beliau menjadi orang paling utama dalam menggerakkan organisasi. Ini tentu saja untuk memberikan semangat berorganisasi kepada santri dan kader muda NU. Dalam buku Guruku Kyaiku karya Abdul Basith Rustami (2016), dikisahkan dari KH Asyhari Abta (Rais Syuriah PWNU DIY periode 2006-2016), bahwa Kiai Asyhari Marzuqi adalah kiai yang paling aktif memberikan sumbangan iuran bulanan kepada PWNU DIY. Jumlahnya tidak sedikit, yakni Rp. 500.000,-.

Bukan saja rutin memberikan iuran bulanan, Kiai Asyhari Marzuqi juga selalu menyiapkan ubo-rampe (snack dan makan) untuk kebutuhan rapat PWNU DIY yang diselenggarakan di ndalem beliau. Walaupun kalau dilihat secara formal, kerja beliau adalah pengasuh pesantren, yakni ngaji dan ngaji. Kecintaannya kepada ilmu dan NU sungguh luar biasa. Ini juga yang sudah ditanamkan oleh KH Ali Maksum.

Semangat iuran bulanan Kiai Asyhari Marzuqi ini menjadi pelajaran sangat berharga bagi warga NU. Para kiai kita sudah memimpikan kemandirian NU sejak lama, bahkan sejak awal berdirinya NU, masa Kiai Hasyim Asy’ari dan KH A Wahab Chasbullah. Dengan NU yang mandiri, maka NU menjadi berwibawa. NU adalah pemilik saham terbesar atas bedirinya NKRI.

Semangat iuran bulanan Kiai Asyhari Marzuqi saat ini, setidaknya bisa dilihat dalam cermin gerakan KOIN NU. Para kader NU yang melakukan pergerakan dalam Pendidikan Kader Penggerak (PKP) NU begitu masif mengartikulasikan dan menerjemahkan semangat para pendiri NU, juga semangat Kiai Asyhari Marzuqi, dalam gerakan KOIN yang terus berkembang. Dimulai dari Sragen, KOIN ini maju dan berkembang di lingkungan NU DIY.

Baca Juga >  Kitab Al-Ibanah Karya Al-Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ari Dipalsukan

Beberapa santri Pesantren Nurul Ummah Kota Gede juga ikut serta dalam gerakan ini. Mereka secara spiritual terus bergerak melanjutkan perjuangan sang guru tercinta, Kiai Asyhari Marzuqi. Lihat saja santri-santri beliau ada Dr Ahmad Bahiej, Achid Mahsun, Amrulloh Furqon dan masih banyak yang lain. Mereka terus berjuang menggerakan warga NU untuk mewujudkan mimpi para kiai, yakni NU yang mandiri yang akan terus berperan besar dalam membangun bangsa dan negara.

Tawadlu’ dengan Kiai

Sikap tawadlu tak pernah sedikitpun geser dalam diri seorang santri. Ini pula yang dipraktekkan Kiai Asyhari Marzuqi. Walaupun memegang pucuk pimpinan syuriah PWNU DIY, tetapi Kiai Asyhari Marzuqi tetap tawadlu’ kepada guru-gurunya.

Dalam persoalan hukum, Kiai Asyhari selalu merujuk kepada gurunya, yakni Kiai Zainal Abidin Munawwir. Suatu hari, ada dermawan yang ingin membantu pembangunan masjid Pesantren Nurul Ummah, maka Kiai Asyhari segera meminta fatwa Kiai Zainal. Setelah Kiai Zainal merestui, baru Kiai Asyhari berani mendirikan masjid Al-Faruq sebagaimana di pesantren saat ini. Demikian juga ketika beliau sakit untuk mengambil rukhshoh tidak puasa, maka beliau mengutus santri untuk meminta fatwa Kiai Zainal. Termasuk juga dalam penentuan hari raya, maka selalu merujuk kepada Kiai Zainal.

Dalam hal al-Qur’an, ketika ada santri putra akan menghafalkan dan setoran hafalan, maka beliau memohon ijin dan fatwa kepada Kiai Nawawi Ngrukem, mertua sekaligus guru beliau. (Abdul Basith Rustami, Guruku Kyaiku, hlm. 21-22).

Itulah sosok  Kiai Asyhari Marzuqi, selalu tawadlu’ kepada guru-gurunya. Padahal, semua kiai juga tahu dan mengakui keilmuan Kiai Asyhari yang luar biasa.

Gelombang Reformasi

Memimpin NU tentu saja penuh dengan perjuangan yang luar biasa, apalagi membawa NU di masa detik-detik reformasi. Inilah masa-masa krusial, di mana Kiai Asyhari terus membangun keseimbangan dalam gerakan NU DIY. Dalam hal ini, Kiai Asyhari sudah diajari oleh KH Ali Maksum, juga bersahabat baik dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH Irfan Zidni, yang pernah sama-sama di Bagdad. Saat itu, Gus Dur adalah Ketua Umum PBNU sejak 1984-1999. Tentu saja, Kiai Asyhari banyak bertukar pandangan dan pemikiran dengan Gus Dur, apalagi juga sama-sama pernah belajar dengan guru yang sama, yakni KH Ali Maksum.

Walaupun gelombang reformasi begitu dahsyat dan akhirnya Gus Dur menjadi Presiden RI, Kiai Asyhari tetap fokus dalam menata NU DIY agar selalu berjalan sesuai dengan garis perjuangan para pendiri NU. Tak lupa, Kiai Asyhari tetap fokus mengajar dan mendidik santrinya yang kelak meneruskan perjuangannya, baik di NU, atau dalam persoalan kebangsaan dan kenegaraan.

Baca Juga >  PC IPNU-IPPNU Bantul Sukses Gelar Pelatihan Kader Muda

Perhatiannya kepada para santri dan kader muda NU sungguh luar biasa. Inilah yang kemudian melahirkan keseimbangan di tengah tari ulur politik yang sangat kuat. Santri-santri Kiai Asyhari bisa menjadi generasi muda NU yang terus bergerak dalam berbagai bidang, sehingga NU tetap melaju dengan dinamis dan kreatif. Jiwa seorang kiai menempatkan Kiai Asyhari sebagai panutan, rujukan, dan teladan, yang menginspirasi gerakan NU dan kaum muda dalam mendesain perubahan yang sangat cepat di era transisi reformasi.

Dalam konteks ini pula, Kiai Asyhari mempunyai partner perjuangan dalam memimpin NU, yakni KH Sofyan Helmy. Kiai Sofyan Helmy menjadi Ketua Tanfidziyah bersamaan dengan Kiai Asyhari sebagai Rais Syuriah, yakni dalam Konferwil di Kaliurang tahun 1992. Setelah Kiai Sofyan Helmy wafat, Kiai Asyhari Marzuqi didampingi oleh Prof Dr Mas’oed Mahfoedz.

Kinerja organisasional yang ditopang para kiai lain, kaum akademisi dan generasi muda NU yang progresif menjadikan NU DIY semakin maju saat itu. Banyak program NU DIY yang menginspirasi lahirnya berbagai pemikiran yang menjadi rujukan secara nasional. Termasuk gerakan Majalah Bangkit yang dinahkodai KH. M. Imam Azis (saat ini Ketua PBNU) pada tahun  1990-an juga mencatat sejarah luar biasa.

Pemikiran-pemikiran yang kreatif dan dinamis juga tumbuh besar, sehingga banyak kader NU Yogya yang terus tampil di berbagai peran kebangsaan dan kenegaraan, baik secara lokal, nasional dan internasional. Kiai Asyhari Marzuqi juga terus mendorong para santri dan kaum muda NU dalam membaca dan menggali pemikiran secara luas.

2014, Akhir Perjuangan

Perjuangan Kiai Asyhari Marzuqi mencatat tinta emas dalam sejarah NU DIY. Semua mengakui itu semua. Waktu yang bergulir, program NU juga terus berjalan dinamis. Kiai Asyhari inginnya terus berjuang dalam organisasi yang dicintainya, NU, tetapi ketetapan Allah harus dita’atinya. Pada Selasam 23 Jumadis Tsani 1425 H bertepatan dengan 10 Agustus 2004, Kiai Asyhari Marzuqi wafat di RS PKU Muhammadiyah pada pukul 05.20 WIB. Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiun.

Perjuangan Kiai Asyhari selalu menjadi inspirasi warga NU dan pengurus NU di lingkungan NU DIY. Semoga kader muda NU selalu meneladani dan melanjutkan perjuangan beliau. Amin.. (md)