Ketum PBNU ke PP Muhammadiyah, Sarapan Bersama Pecel dan Soto

Bangkitmedia.com, YOGYA – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama (Ketum PBNU) K.H. Yahya Cholil Staquf bersilaturahmi ke Kantor PP Muhammadiyah Jl. Cik Di Tiro. Pada kesempatan ini Gus Ketum (panggilan akrab K.H. Yahya Cholil Staquf), ngobrol santai dengan Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir. Bagaimana suasananya dan apa saja yang diperbincangkan, berikut catatan Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr H Haedar Nashir yang beredar luas di media sosial:

***

Kemarin pagi Rabu (20/8) di Kantor PP Muhammadiyah di Yogyakarta,  menerima silaturahmi Ketum PBNU, K.H. Yahya Cholil  Staquf.

Kami sarapan bersama, pecel dan soto. Silaturahmi rutin kekeluargaan. Selama ini baik antarinstitusi PP Muhammadiyah dengan PBNU maupun antar Ketua Umum telah terjalin silaturahmi sebagai wujud ikatan persaudaraan sesama ormas Islam besar di Republik ini.

Melalui pertemuan tersebut diharapkan bersambung terus ke bawah dan menjadi contoh baik bagi umat di akar rumput. Umat Islam tidak akan kuat dan maju jika tidak memupuk dan memperkuat ikatan  ukhuwah.

Lebih-lebih di era dunia medsos yang sangat bebas, yang memerlukan panduan etik dan moral keagamaan yang luhur.

Kami berbincang tentang keteladanan KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah)  dan Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahflatul Ulama)  menjalin silaturahmi, dengan saling menghormati dan menjunjung tinggi persaudaraan.

Kami juga memperbincangkan dengan santai kondisi kebangsaan bagaimana Muhammadiyah dan NU maupun ormas lainnya memiliki tanggungjawab yang semakin besar sebagaimana selama ini telah dilakukan.

Sebagai pimpinan ormas Islam besar kami   berbagi informasi dan pandangan untuk meningkatkan peran bersama dalam usaha mengikat persatuan dan memaksimalkan kemajuan bangsa.

Kami menyadari betul peran besar Muhammadiyah dan NU maupun ormas keagamaan lainnya dalam membangun Indonesia sejak perjuangan kebangkitan nasional sampai Indonesia merdeka dan pasca kemerdekaan.

Jika ormas keagamaan kuat maka bangsa pun akan ikut kuat dan maju. Bila kedua ormas Islam  maupun ormas kebangsaan lainnya lemah maka bangsa Indonesia pun akan ikut melemah. Di sinilah posisi dan peran strategis ormas keagamaan di Indonesia yang perlu dijaga dan diperkuat bersama.

Kami juga berbincang ringan tentang masa depan kaum muda Indonesia. Sambil bernostalgia awal merantau di Yogya. KH Yahya cerita waktu  itu pernah menulis di Majalah KUNTUM, yang dikelola oleh Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

Saya sahut, salah satu tulisannya diposting luas di group-group medsos keluarga Muhammadiyah, sewaktu awal Gus Yahya terpilih sebagai Ketum PBNU di Muktamar Lampung.

Selalu ada benang merah dalam jalinan ukhuwah antara NU dan Muhammadiyah di negeri tercinta.

Haedar Nashir

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *