Bangkitmedia.com, PURWOREJO – Hujan deras yang mengguyur Yogyakarta dan sekitarnya sejak siang hingga malam hari menyibak rahasia Illahi yang sangat besar pada Selasa (19/8/2025). Fenomena yang tidak biasa, hujan di tengah musim kemarau tersebut ternyata membawa isyarat alam saat seorang kekasih Allah SWT yang alim alamah berpulang.
Hal tersebut yang mengiringi kepulangan ulama besar nan kharismatik, KH Thoifur Mawardi ke pangkuan Illahi Robbi pada Selasa (19/8/2025) pukul 16.22 WIB di RSUD Tjitrowardojo. Waktu meninggal yang diyakini menjadi hari baik karena begitu banyaknya ulama, wali dan orang alim yang meninggal di hari Selasa. Innalillahi wainnailaihi roojiiuun.
Bukan hanya bagi warga Purworejo, meninggalnya Abah Thoifur, panggilan akrab beliau, pengasuh Pondok Pesantren Daarut Tauhid Kelurahan Kedungsari Kecamatan Purworejo tersebut juga meninggalkan duka bagi seluruh bangsa Indonesia. Terlebih saat bangsa ini sedang gegap gempita merayakan HUT ke-80 Kemerdekaan RI.
“Bangsa Indonesia kehilangan salah satu ulama besar yang menjadi cahaya dan panutan umat,” ujar Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin dalam keterangannya di Jakarta, seperti dilansir dari sejumlah sumber, Selasa (19/8/2025).
Kebesaran nama KH Thoifur Mawardi sudah sangat mashur di seantero negeri. Dilansir dan disarikan dari berbagai sumber, ulama yang lahir di Purworejo, 8 Agustus 1955 tersebut merupakan putra KH R Mawardi. Jika ditilik dari dari garis keturunan sang ayah, KH Thoifur masih dzurriyyah KH R Imam Maghfuro, ulama besar Karesidenan Kedu yang juga memiliki darah trah Sultan Agung Hanyokrokusumo Mataram.
Sejak kecil, KH Thoifur sudah dikenal tekun menuntut ilmu agama. Diawali pendidikan dasar dari keluarga, kemudian beliau melanjutkan pengembaraan intelektual di berbagai pesantren besar di Jawa. KH Thoifur sempat menimba ilmu di Pondok Pesantren Sugihan Kajoran Magelang. Setelah itu melanjutkan ke Pesantren Lasem Rembang guna memperdalam ilmu syariah, hadis dan tasawuf.
Pada KH Thoifur ke Makkah untuk belajar di Ma’had Rushaifah di bawah bimbingan langsung ulama besar dunia Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Selama 12 tahun (1976–1988), KH Thoifur bermukim di Makkah dan mendalami kitab-kitab induk Islam, khususnya hadis, sirah nabawiyyah dan tasawuf. Karena penguasaannya yang luas, beliau juga kerap dijuluki “Kitab Berjalan”.
Tidak hanya dikenal karena luas dan dalamnya keilmuan yang dimiliki, KH Thoifur juga memiliki karomah dan pengalaman spiritual yang tinggi. Seperti halnya beliau dikenal sangat ahli bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Bahkan saat di Rushaifah Makkah, beliau bermimpi didatangi Rasulullah SAW yang memerintahkan menggali tanah di lokasi tertentu. Dan benar, setelah digali, memancar sumber air yang hingga kini menjadi sumur utama bagi para santri serta dikenal sebagai Bi’ru Thoifur (Sumur Thoifur).
KH Thoifur Mawardi bisa dikatakan permata ulama dari Purworejo. Bukan hanya guru bagi santri, tetapi beliau juga guru bangsa, yang menanamkan pentingnya persatuan, cinta Rasulullah, serta istiqamah dalam dakwah. Selamat jalan Abah Thoifur. Teladan panjenengan akan selalu kami kenang dan jalankan. (*)
* Diolah dari berbagai sumber








