Ketika Dian Sastro Menyelami Makna Terjemah Al-Qur'an

Ketika Dian Sastro Menyelami Makna Terjemah Al-Qur’an

Posted on

Ketika Dian Sastro Menyelami Makna Terjemah Al-Qur’an.

Kemarin ini, kawan saya mengirimkan sebuah screenshoot sebuah status instagram dari Mbak Dian Sastro yang tengah menyelami makna al-Qur’an melalui terjemah. Sungguh mbak artis dengan nama ig @therealdisastr ini selalu membuat decak kagum siapapun laki-laki normal dengan cantiknya yang dari dulu ‘awet’ kayak gitu-gitu aja, ini orang cantiknya kok gak selesai terus sih.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Kalau pribadinya? tentu penuh prestasi, sekaligus cerdas dan kritisnya itu lho.

Pada dasarnya saya percaya bahwa Allah swt. membuka banyak jalan bagi hambaNya, untuk lebih mengenalNya dengan berbagai media yang tak terhitung jumlahnya. Setiap orang yang dikenalkan dengan al-Qur’an tentu adalah orang-orang yang mendapatkan hadiah juga keselamatan, tak kurang dan tak lebih.

Bisa saja orang yang mengetahui banyak objek keimanan, malah dirinya semakin terhijab, tertutupi dengan memiliki kualitas di bawah manusia yang sedikit mengetahui objek keimanan. Namun, diberikan kepekaan oleh Allah untuk semakin mengenalNya. Tidak ada seseorangpun yang dapat mengetahui secara pasti kadar kualitas hadiah dan keselamatan dari Allah swt pada individu yang lain.

Tentang Mbak Dian Sastro yang menyelami makna al-Qur’an menggunakan terjemah al-Qur’an berbahasa Indonesia, tentu hal ini merupakan sebuah efek dari perkembangan media. Jika dahulu orang ingin mengenal makna al-Qur’an hendaknya dilakukan dengan upaya berguru ‘ngangsu kawruh’ dengan ‘ulama, yang biasa dikenal dengan istilah talaqqi. Masa ini merupakan era dimana media juga memiliki andil mengambil peranan ‘ulama dalam perkenalan masyarakat Islam terhadap Kitab Sucinya yang itu adalah Kalamullah.

Tak terhitung jumlahnya mulai dari yang berbasis cetak maupun digital saling memfasilitasi masyarakat muslim untuk mengenal al-Qur’an lebih jauh. Apalagi dampak dari pandemi Covid-19 ini tak bisa dipungkiri meningkatkan pamor media online digital. Sebab pertemuan langsung antara pencari makna al-Qur’an dengan sang ‘ulama pakar ilmu al-Qur’an sedang diminimalisir untuk menghindari penyebaran virus.

Hal ini bisa dilihat pada riset dari Alvara Strategic yang menyorot mengenai kebiasaan masyarakat Islam Indonesia terhadap kebutuhan spiritual melalui media digital, ternyata memperlihatkan Gus Baha’ dan Prof. Quraish Shihab yang mewakili ulama dalam bidang al-Qur’an sebagai top five konten yang paling banyak dicari selama bulan Ramadlon kemarin ini.

Kembali pada penggunaan al-Qur’an berbasis terjemahan berbahasa Indonesia, dalam studi al-Qur’an hal ini biasa disebut dengan istilah ‘terjemah tafsiriyah’, yakni tafsir al-Qur’an dengan selain bahasa al-Qur’an. Barang pasti bahasa Indonesia atas al-Qur’an dengan proses memindahkan satu ucapan dari satu bahasa ke bahasa lain atau mensinonimkannya tentu tidak bisa disebut sebagai al-Qur’an itu sendiri.

Baca Juga >  Katanya Bela Nabi, Kok Sering Dijadikan Tunggangan Memuaskan Nafsu?

Lanjut, dalam hal ini terdapat dua kategori terjemah al-Qur’an yang disebut:

1) bilmitsli yakni menerjemahkan kalimat al-Qur’an ke bahasa lain persis dengan prediksi atas perbendaharaan susunan katanya -juga dengan mempertimbangkan gaya bahasa/uslubnya-;

Dan 2) ghairu-mitsli yaitu menerjemah susunan al-Qur’an sesuai kemampuan dan penguasaan bahasa penerjemah.

Pada kategori pertama atau bil-mitsli, al-Qur’an tidak mungkin diterjemahkan secara persis. Sebab salah satu kemukjizatan al-Qur’an itu sendiri ialah pada susunan kalimatnya yang indah. Secara teori, setiap bahasa memiliki sisi keindahan dan kefasihannya masing-masing, sehingga karakteristik Arab-nya tidak bisa disaling-sepadanankan pada bahasa yang lain. Sekalipun diupayakan dengan leterleux (harfiyah) pasti akan hilanglah kekhususan yang istimewa wa wa wa wa dan lunturlah unsur mukjizat balaghi dari al-Qur’an itu sendiri.

Sedang pada tataran kategori kedua yang ghairul mitsli, inilah ranah interpretasi, ranah tafsir juga ta’wil atau dalam bahasa kontroversinya adalah hermeneutika. Yang di sini unsur dominan latar belakang seorang mufassir sebagai pengalih-bahasa pertama ke bahasa yang lain, akan mewarnai corak makna yang dihasilkan dari al-Qur’an. Kodratnya sebagai hamba yang tentu memiliki keterbatasan akal manusia tak bisa dikesampingkan dalam wilayah ini untuk selalu berupaya untuk menguraikan pesan misterius al-Qur’an.

Disinilah salah satu alasan saya mengambil jurusan Hermeneutika al-Qur’an di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, bahwa setiap tafsir atas al-Qur’an tentu saja adalah wujud hasil dari upaya manusia atas kecintaannya pada al-Qur’an, dan bukan Kalamullah itu sendiri. Potensi bias ideologi, faktor kesejarahan, otoritas dan kepentingan selalu akan melingkupi produk akal manusia atas al-Qur’an.

Sehingga jika Mbak @therealdisastr ini ingin mengupas dan mengetahui langsung berkenalan al-Qur’an dan mengurangi potensi bias, distorsi dan distraksi yang bisa terjadi akibat medianya yang terbatas. Tentu saya tidak bisa menolak jika Mbak Dian Sastro menginginkannya, hahahahaha (sopo sih sek ra pengen ketemu langsung karo Mbak Dian Sastro? ngapusi kok ngasi wong lanang menolak ketemu the real beauty of javanese women, wkwkwkwk).

Tentu sebagai manusia yang penuh kepentingan, tulisan ini ditulis sebagai upaya pansos, wujud ‘ujub dan riya’ alias pencitraan pada netizen semuanya, hehehe.

Sampai jumpa di dunia nyata para netizen. yuhu.

Penulis: Kang Mujib Romadlon, GP Ansor PAC Panjatan Kulonprogo.
dian sastro ngaji quran