intelektual

Kemalasan Kaum Intelektual

Posted on

Proyek depolitisasi yang dilakukan oleh Orde Baru berbuah panjang. Dampaknya merusak kesadaran. Bergabung dalam pemerintahan dianggap pengkhianatan.

Mereka yang terdampak oleh proyek tersebut menyebut dirinya intelektual. Meski kelihatannya kritis pada Orde Baru, sesungguhnya mereka merindukan masa itu, masa ketika mereka bisa tampil sebagai pahlawan yang berdiri gagah di luar garis kekuasaan. Diam-diam mereka tidak mau masa kegagahan itu lewat begitu saja.

Dulu cukup menulis pamflet tentang rakjat, atau membaca buku Pram, maka sesorang sudah merasa berhak disebut intelektual. Saat itu batas antara kebaikan dan kejahatan sedemikian jelas. Oleh karena itu, mereka yang tergoda masuk ke dalam sistem, tergoda oleh bujuk rayu intel, sangat mudah dituduh pengkhianat.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Tetapi sekarang zaman berubah. Demokrasi membuat kekuasaan tidak lagi sama dengan kejahatan. Tetapi pada saat yang sama demokrasi juga membuat intelektual kehilangan kharismanya.

Sebab di era demokrasi menjadi intelektual tidak cukup menulis pamflet tentang rakjat atau membaca buku Pram, tetapi juga harus terlibat dari proses pembuatan kebijakan yang melelahkan. Itu artinya, menjadi intelektual tidak cukup berdiri gagah di forum diskusi anak mahasiswa semester awal, tetapi juga mau bersitegang dengan para birokrat kuasa pengguna anggaran dan para politisi pencari rente di Senayan.

Baca Juga >  Kenapa Mereka Tak Mampu Memahami Islam Nusantara?

Dan, saya cukup tahu persis, banyak orang yang mengaku intelektual terlalu malas untuk melakukan hal itu. Sudah jarang tersorot kamera, kerja teknokratis dalam proses pembuatan kebijakan juga tidak menghasilkan uang. Tetapi para intelektual malas tidak mau tahu. Terus terang susah, bahkan tidak perlu karena buang waktu, mengajak mereka untuk memahami dan menerima realitas yang ada saat ini. Teriak pengkhianatan, padahal yang terjadi adalah kemalasan!

Penulis: Amin Mudzakkir, Peneliti LIPI.