Kalender Hijrah Global Tunggal, Tidak Logis

Bangkitmedia.com, YOGYA – Pakar astronomi KH Mutoha Arkanuddin menilai, penggunaan Kalender Hijrah Global Tunggal (KHGT) tidak masuk akal. Sebab bumi itu bundar dan matla’ setiap wilayah berbeda-beda. Kalau KHGT dipergunakan, yaitu satu hari satu tanggal, berarti menganggap bumi itu datar.

“Saya termasuk yang tidak setuju dengan pemberlakuan matlak global. Karena tidak sunnatullah, yaitu memaksakan,” kata KH Mutoha Arkanuddin, pada Dialog Interaktif Hisab dan Rukyatul Hilal tentang Penentuan Awal Bulan Ramadan dan Syawal melalui perhitungan astronomi dan rukyah usai pengajian Ahad Wage di Aula PWNU DIY Jl. MT Haryono 40 Yogyakarta baru-baru ini.

Menurutnya, memaksakan satu hari satu tanggal itu berarti menggunakan standar ganda. Hari itu standar Masehi, karena mulainya dari Kepulauan Fiji Jepang. Sedang awal bulan yang kita gunakan itu Qomariyah. Kita tidak bisa mencampuradukkan itu, karena berarti menggunakan dua standar.

Secara sunnatullah kenapa hilal dijadikan acuan awal bulan Hijriyah, menurutnya karena dia dinamis. Kadang dia kelihatan di timur, kadang di tengah, kadang di barat, dengan segala konsekuensinya. Kalau pertama kali dia muncul di timur, maka yang di tengah dan barat akan lebih besar potensi samanya. Tapi kalau yang di timur belum terlihat, yang tengah sudah, maka yang barat akan ikut yang di tengah, sedang yang timur belum. Sedang kalau hanya baru yang di barat yang melihat hilal, maka yang tengah dan timur dirugikan kalau dibuat tanggal yang sama.

Kenapa dirugikan, lanjutnya, karena masyarakat di wilayah timur setiap bulan akan selalu menjadi kawasan yang hilalnya terlihat terendah. Artinya, yang di timur masih negatif, tetapi yang di barat sudah positif. Kita yang di timur harus selalu mengikuti yang di barat, sementara itu orang barat aman, karena hilal di sana lebih tinggi terus. Kalau barat sudah muncul hilal, lantas memaksa yang di timur, ini tidak logis. Kalau yang di timur sudah muncul, otomatis di wilayah barat terlihat lebih tinggi.

Jadi kita berada di pihak yang dirugikan kalau menggunakan kalender global, karena kita sering negatif sedang di sana sudah. Masak kita dengan alasan transfer rukyah (matla’ global), Jadi hasil rukyat yang di barat digunakan oleh masyarakat yang di timur. Ibarat kereta panjang masuk terowongan, kepala sudah masuk terowongan, tapi yang di belakang belum, tetapi dikatakan kereta sudah masuk terowongan. Jadi kerugiannya itu.

Karena itu saya termasuk yang kurang sepakat dengan pemberlakuan matlak global. Pertama karena alasan hisab yang bukan pedoman kita, Pedoman kita rukyat. Jadi bagi kita tidak ada gunanya membahas mau memberlakukan KHGT. Misalnya saat rukyat di honolulu, kita di sini sudah terbit matahari. Jadi matla’nya tidak bersamaan. (Lutfi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *