Jejak Kiai Dimyathi Tremas di Uzbekistan

Jejak Kiai Dimyathi Tremas di Uzbekistan

Posted on

Jejak Kiai Dimyathi Tremas di Uzbekistan.

Uzbekistan, sebagaimana diketahui merupakan kawasan penting dan menjadi salah satu negara yang dilewati jalur sutra perdagangan pada masa lampau. Jalur Sutra yang dikenal sebagai urat nadi perlintasan dagang antara timur dan barat itu melewati empat kota tua yg cukup masyhur, seperti Kiva, Tashkent, Bukhara, dan Samarkand.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Tahun lalu, tepatnya 7 Februari 2019, pernah diadakan Halaqah Kebudayaan Islam yang diselenggarakan oleh Kedubes Uzbekistan bekerjasama dengan Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal TMII, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an dan Balitbang Kemenag RI.

Halaqah yang bertajuk “ Jejak Ulama Uzbekistan di Nusantara” salahsatunya bertujuan mengenalkan tentang sejarah relasi mata rantai keilmuan ulama nusantara dengan ulama di negara Asia Tengah tersebut.

Berbicara tentang Uzbekistan, ingatan saya langsung tertuju kepada Mahaguru Pondok Tremas, KHM Dimyathi Abdulloh. Beliau, -sebagaimana pernah diceritakan oleh Gus Mus, saat berbincang dengan salahsatu santri Mbah Dim, Alm Kyai Chambali asal Pemalang,- dalam pengembaraannya menuntut ilmu di Timur Tengah, pernah menyinggahi negri yang banyak melahirkan ilmuwan Islam abad pertengahan tersebut, sekitar dua tahun lamanya.

Meski sejarah tidak mencatat, kepada siapa beliau berguru di sana, pilihan rihlah ilmiah ke Uzbekistan bisa dirunut dari kedekatan beliau dengan ulama-ulama asal Asia Tengah yang mukim di Makah. Sebut saja Syekh Mahmud ‘Abd al-Hamid al-Syirwani (w 1314 H/ 1896 M). Ayahnya, Syekh Abdul Hamid Syirwani terhitung satu angkatan dengan Sayid Ahmad bin Zainî Dahlân (w 1886 M), yang merupakan mufti Mazhab Syafi’i di Makkah dan menjadi mahaguru beberapa ulama Nusantara seperti Syaikh Nawawi Banten (w.1897), Sayyid Utsman Betawi (w 1913), Syekh Ahmad Khatib Minangkabau (w. 1916), dan lain-lain.

Ulama asal pegunungan Kaukasus lainnya adalah Syaikh ‘Abd al-Karim Hamzah al-Daghastani tsumma al-Makki (w 1338 H/ 1920 M), yang dikenal sebagai kawan dekat Syeikh Mahfuzh al-Tarmasi, Syeikh Ahmad Nahrawi al-Banyumasi Syeikh Muhtar Bogor dan banyak ulama nusantara lainnya.

Dari dua relasi ulama asal Asia Tengah dengan ulama nusantara yang terkoneksi di Makah-Madinah tersebut, memberi akses bagi Kiai Dimyathi melanjutkan pengembaraan intelektualnya hingga ke negri yang dikenal sebagai tempat kelahiran Imam Bukhari itu.

Baca Juga >  Ketika Sayyidah Aisyah Berterima Kasih Kepada Syaikh Buthi

Pilihan ke Uzbekistan merupakan ikhtiar beliau memperdalam semua cabang ilmu yang telah dikuasainya selama di Makkah. Ada kemungkinan beliau khusus ingin memperdalam kajian hadis dan ilmu hadis langsung ke simpul daerah yang banyak melahirkan ulama-ulama hadis kelas dunia. Kemungkinan lain juga memperdalam ilmu-ilmu khusus yang belum dikaji mendalam selama di Makkah, seperti filsafat, sosiologi atau cabang-cabang ilmu non maenstream lainnya. Semua itu ditempuh sebagai bentuk tanggungjawab beliau sebelum kembali ke tanah air, meneruskan kepemimpin Pondok Tremas pasca wafatnya sang ayah, Kiai Abdulloh.

Mengenai rihlahnya ke Uzbekistan, minat pada kajian hadis nampak lebih dekat mengingat sang kakak, Syeikh Mahfuzh sangat masyhur sebagai seorang Muhaddis. Dugaan ini menguat ketika telah pulang ke tanah air, beliau mengirim adiknya, Kiai Abdur Razzaq, untuk memperdalam hadis di bawah bimbingan langsung Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari (w.1947). Tradisi pada pendalaman hadis ini dilanjutkan putranya, Kiai Habib Dimyathi, yang mengikuti jejak pamannya, mengikuti kajian hadis di Tebuireng pada tahun-tahun akhir sebelum Hadratussyeikh wafat.

Puncaknya, kecintaan pada pendalaman di bidang hadis ini nampak pada sosok Kiai Harist Dimyathi, yang spesialis mbalah kitab-kitab hadis otoritatif ( kutubussittah ), utamanya Sahih Bukhari-Muslim.

Bila melihat realitas banyaknya ilmuwan Islam yang lahir di Uzbekistan dan tersebar di kota-kota yang cukup masyhur di kalangan ulama, seperti Bukhara, Tashkent, Tirmiz, Samarqand, Farghana hingga Khawarizm (Khiva), tak mengherankan bila kawasan tersebut tak kalah menarik dengan kota-kota semacam Kairo, Baghdad, Basra, Damaskus, Isfahan, Khurasan maupun Makkah-Madinah bagi tujuan ulama nusantara dalam memperdalam dan memperkaya khazanah ilmu pengetahuannya, termasuk Mbah Guru Dimyathi, Tremas.

Wallahu a’lam

Penulis: Ahmad Muhammad, alumni Pesantren Tremas Pacitan.

Jejak Kiai Dimyathi Tremas di Uzbekistan. Kredit Foto Searah Thawaf : KHR Dimyathi Abdullah, KHR Abdur Razzaq Abdullah, KH Habib Dimyathi, KH Harits Dimyathi.