Jangan Sampai Meninggal Tapi Masih Punya Tanggungan.
Sewaktu muda, Kiai Zainal Abidin Munawwir Krapyak memang lebih suka naik sepeda onthel kemana-mana. Bahkan ketika sudah jadi anggota dewan pun beliau masih ngonthel. Sekitar 4-5 kilometer dari Pondok Pesantren Krapyak ke kantornya.
Suatu hari pedal sepeda yang ditumpanginya rusak. “Kang, tolong belikan pedal sepeda yang baru,” pinta Kiai Zainal pada salah seorang santri.
“Maaf, Kiai. Ini saya punya. Monggo,” sahut santrinya itu, sambil menyodorkan sepasang pedal yang masih bagus dan belum terpakai.
Tawaran itu pun diterima, sepasang pedal dipasang di sepeda Kiai Zainal. Tentu saja si santri gembira betul.
Beberapa waktu berlalu, Kiai Zainal hendak naik haji. Beliau memanggil si santri lagi.
“Ada apa, Kiai?” tanya santri.
“Ini pedalmu kukembalikan,” jawab Kiai Zainal sambil menyerahkan pedal yang dulu ia pinjam.
Si santri hening. Ia bahkan sudah merelakan pedal itu buat kiainya, tak terpikir untuk memintanya kembali.
“Aku mau pergi haji,” sambung Kiai Zainal, “Biar nggak ada tanggungan lagi.”
Ternyata Kiai Zainal sedang mengembalikan semua benda pinjaman kepada pemiliknya masing-masing. Tak hanya pedal si santri. Beliau juga mengembalikan barang-barang milik pondok, tetangga, dan saudara-saudaranya.
“Jangan sampai nanti kalau aku meninggal di sana, tapi masih punya tanggungan barang-barang yang bukan milikku,” demikian katanya.
Semoga para calon jamaah haji yang tertunda berangkat tahun ini bisa berangkat tahun depan, dalam keadaan sudah aman dari pandemi di seluruh penjuru bumi.
14 Dzulhijjah 1441
Keterangan Foto: Mbah KH. Zainal Abidin Munawwir sedang mengomando kerja bakti di halaman masjid Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta.
Penulis: Zia Ul Haq, alumni Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta.








