Jalan Hidup Paska HTI

Posted on

01-Aksi-Unras-HTI5

Untuk adik-adik HTI, bagaimana menyikapi keputusan pemerintah itu secara dewasa dan positif? Renungkanlah ini : “Dulu saya berfikir untuk mengubah dunia, dan tidak ada hasil apa-apa. Kemudian bercita-cita merubah diri saya, dan saya berhasil mengubah dunia”.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Kalimat Syaikh Jalaluddn Rumi ini menyampaikan pelajaran yang sangat berharga. Keinginan untuk mendirikan khilafah tidak akan pernah menghasilkan apapun. Rumusan diatas adalah teori psikologi yang sangat mendasar. Mana mungkin Allah menyuruh sesuatu yang tidak menghasilkan apapun jua? Lebih baik mendirikan khilafah itu dalam diri sendiri. Laksanakan semua sunnah Nabi secara maksimal pada diri sendiri.

Kata sahabat saya: “Lebih baik melakukan tindakan kecil namun bermanfaat bagi sesama, daripada memperjuangkan impian besar yang belum tentu bermanfaat bagi sesama”. Energi untuk khilafah bisa dialihkan diantaranya untuk meraih ridho Alloh dengan cara berikut ini :

  1. Berbakti kepada bapak-ibu. Pengabdian kita pada mereka pasti sangat kurang. Ingat beliau berdua saja sangat jarang, apalagi mendoakan dan melayani beliau berdua. Para wali-wali Allah, mereka orang yang kesalehannya tidak diragukan, mereka orang yang terbaik kasih sayangnya pada ayah ibu. Ada wali yang suka menggendong ibunya, ada yang menungguin ibunya tertidur sambil memegang gelas minuman yang dipesan sebelum tidurnya. Dari pada menyibukkkan jiwa dengan khilafah yang oleh ulama jumhur dibilang tidak diajarkan Nabi saw, lebih baik menyibukkan jiwa dengan ayah ibu kita. Berani jamin, mereka yang berbakti pada orang tuanya pasti akan jadi orang hebat. Kalau mau melakukan apa-apa, ijin dulu minta ridho orang tua. Tanya kepada beliau berdua, sudah bolehkah “berta’aruf” dengan orang lain? Pulang ke rumah, peluk erat-erat beliau. Itu sangat membahagiakan mereka.
  2. Kita sedikit syukurnya, banyak keluh kesahnya. Berjuang untuk bisa banyak syukurnya, banyak amal sholehnya.
  3. Kita banyak hasad iri dengkinya. Gunakan waktu untuk hilangkan hasad iri dengki. Itu lebih bermafaat.
  4. Lihat kesalahan pribadi lebih dahulu, jangan sibuk melihat kesalahan orang lain. Ini perjuangan yang sangat berat, lebih baik energi digunakan untuk mengusahakan ini daripada memikirkan khilafah yang pasti tidak akan menghasilkan apa-apa.
  5. Shalat kita tidak khusu’. Berjuanglah untuk mewujudkan shalat khusuk daripada capek untuk usaha yang mubazir.
  6. Kita malas, pelit dan maunya menang sendiri. Berjuanglah menjadi orang yang bersemangat, santun dan bermanfaaat bagi sesama.
  7. Kita belum mengenal Allah. Lebih baik mengingat Allah dan Dia akan mengingatmu. Mengingat khilafah perbuatan sia sia.
  8. Kita belum mengenal Rasulullah saw. Berjuanglah untuk bisa merasakan cinta padanya. Ini perkara sulit, belajarlah kepada guru dan mursyid yang mumpuni. Bukan pada orang yang baru belajar agama.
  9. Lakukan hal kecil namun bermanfaat untuk mencari ridho Allah. Jebakan manusia akhir zaman adalah sibuk dengan cita-cita yang besar, melupakan hal yang kecil. Solusinya lakukan hal-hal kecil bermanfaat dengan cinta yang besar.
  10. Fokus, fokus dan fokus pada cita-cita, untuk mewujudkan suatu kebermanfaatan dan inovasi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Baca Juga >  Belajar dari Kisah Gajah yang Kalah

Pastikan tujuan utama hidup adalah Allah, bukan khilafah. Kata guru saya Maulana Syaikh Hisyam Kabbani: “Allah sudah sangat rindu kita sampai pada-Nya, kita datang pada-Nya”. Tanpa ini kalian tidak akan pernah berbahagia. Tidak akan pernah bisa shalat khusu’, tak akan pernah kenal Allah, tak kan pernah kenal dengan diri sendiri. Dulu pun aku merasakannya. Selalu menginginkan pemberlakuan syariat Islam tapi diri sendiri jauh dari sifat-sifat Rasul. Orang lain salah terus.

Adanya pelarangan HTI adalah waktunya kalian melihat diri sendiri, dan mengingat Allah. Bukan khilafah. Menginginkan khalifah itu sama dengan mengingginkan segala sesuatu sesuai keinginan kita. Anak istri orang tua tetangga, teman, orang satu RT orang satu kampung, satu bangsa sesuai keinginan kita. Seperti menginginkan segala sesuatu yang terjadi pada kita sesuai keinginan kita. Suatu hal yang sangat mustahil bisa terwujud.

Esensi Islam adalah berserah diri. Berhentilah mengatur-atur. Rela dan ikhlaslah dengan ketetapan Allah. Kalian tidak mengetahui kesibukan dengan khalifah itu skenario untuk menyibukkan kalian dengan pekerjaan yang tidak akan mungkin tercapai agar kalian tidak sempat melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk diri kalian sendiri dan orang lain.

Saatnya belajar agama kepada para ulama, kiai dan syaikh yang sangat mendalam ilmu dan kebijaksanaannya. Sanad mereka sambung menyambung kepada Rasulullah saw. Mereka memelihara cahaya agama dalam hati mereka dengan adab, disiplin, semangat, dan istqomah yang tinggi. Mereka berhasil menaklukkan ego mereka. Mereka sudah lama mendirikan “khilafah” dalam diri mereka. Mereka terlimpahi cahaya dan rahmat Allah.

Mereka akan membantumu bisa merasakan bahagia, bisa merasakan shalat khusu’, lebih sayang kepada orang tua, mereka juga akan membantumu mewujudkan cita-citamu jadi hamba Allah yang sukses dunia akhirat.

Tabik,

Semoga Alloh merahmati kita semua

Moh Yasir Alimi, Dosen UNNES