Prof. Dr. KH Fathorrahman Ghufron (Wakil Katib PWNU Yogyakarta dan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga)
DALAM tulisan berjudul “Suara Islah NU DIY” di SKH Kedaulatan Rakyat (10/12/25), saya menguraikan komitmen dan peran NU DIY yang begitu gigih mendorong terjadinya Islah di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang berselisih. Perjuangan panjang yang diupayakan oleh NU DIY agar Islah segera terwujud, kini menemukan tempat peraduan yang sangat nyata.
Bertepatan dengan perayaan hari Natal (25/12/25), para sesepuh NU kembali bertemu dengan pikiran dan hati dalam suasana kesejukan. Rais ‘Aam PBNU, KH Miftahul Akhyar hadir bersama Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf untuk saling meredakan hingar-bingar perselisihan yang dianggap telah melampaui tenggat waktu yang nyaris tak masuk akal.
Islah yang selama ini dianggap sesuatu yang mustahil terjadi, bahkan ada beberapa figur penting NU yang turut menyangsikan adanya islah, namun atas izin dan qudrat Allah SWT, kedua pucuk inti PBNU pun saling berpelukan. Keduanya saling berkomitmen untuk menyelesaikan amanah kepengurusan NU dengan husnul khatimah.
Peristiwa penting di Lirboyo itu, tentu menjadi momentum bersejarah dalam proses penyelesaian konflik di tubuh PBNU. Apalagi menjalani dan melewati suasana perselisihan PBNU di era digital sangat menguras energi yang berlebih. Hal ini berbeda ketika suasana ketegangan psiko sosial PBNU pernah didera konflik di tahun 80an, 90an, dan 2000an. Konflik yang terjadi di tahun-tahun tersebut, arus tegangnya hanya melingkar di kaum tertentu. Pada wilayah itu, para pihak mampu mengelola konflik dengan baik dan bisa mereda dalam suasana senyap.
Adapun konflik PBNU yang terjadi di tahun 2025, di mana dunia digital telah dilengkapi dengan berbagai platform, setiap perkembangan info konflik pun menjadi sasaran empuk. Para netizen pun menjadi juru tembak jitu untuk membidik setiap celah konflik dengan rudal pelintiran kebencian. Dampaknya, adab dan akhlak hilang dan nyaris tidak diakui lagi sebagai modal besar dalam menyampaikan kebenaran (tawashaw bil haq).
Dari NU DIY untuk Indonesia
Di tengah brutalitas para netizen dalam memperlakukan perselisihan di tubuh PBNU secara despotik, Pengurus Wilayah NU (PWNU) DIY selalu berkonsolidasi dengan berbagai pengurus cabang di lingkungan DIY agar semuanya berada dalam satu barisan untuk menggaungkan islah. kegigihan para punggawa PWNU DIY seperti KH Mas’ud Masduqi (Rais Syuriah), KH Muhtar Salim (Katib Syuriah), KH Zuhdi Muhdlor (Ketua Tanfidziyah), KH Muhajir (Sekretaris Tanfidziyah), dan semua unsur kepengurusan lainnya dalam menavigasi islah ke berbagai level pengurus dan warga NU DIY tidak sekedar untuk meredakan konflik di tubuh PBNU saja. Akan tetapi, yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana menjaga spirit perdamaian untuk Indonesia. Sebab, disadari atau tidak, ketika NU mengalami turbulensi internal, dapat berdampak pada sendi-sendi kehidupan berbangsa pula.
Karena itu, Islah menjadi the ultimate concern yang begitu lantang disuarakan PWNU DIY agar lentingan nada islahnya bisa terdengar oleh semua pengurus dan warga NU di berbagai daerah dan belahan dunia. Dan, ketika islah benar-benar terwujud pada tanggal 25 Desember yang lalu, ada kebahagiaan yang sangat membuncah di benak warga NU DIY.
Namun demikian, untuk merefleksikan kebahagiaan tersebut, PWNU tetap berkonsolidasi dengan PWNU Jawa Tengah, agar saling menguatkan keputusan islah tersebut. Di antara ikhtiar yang dilakukan oleh PWNU DIY adalah menyampaikan pernyataan sikap yang dihasilkan dalam pertemuan konsolidasi antara PWNU DIY dan PWNU Jateng (25/12/25). Pertama, mengapresiasi terwujudnya islah sebagai jalan untuk mengakhiri perbedaan internal serta mengembalikan pengelolaan jam’iyah NU agar berjalan sesuai dengan konstitusi organisasi.
Kedua, menyampaikan terimakasih kepada para mustasyar PBNU atas bimbingan, arahan, dan kebijaksanaan dalam menjaga keutuhan dan marwah jam’iyah. Ketiga, menyampaikan terimakasih kepada KH Miftahul Akhyar dan KH Yahya Cholil Staquf atas jiwa besar dan keteladanan dalam menerima bimbingan serta arahan para mustasyar PBNU sehingga terwujud islah demi kemaslahatan jam’iyah
Keempat, mendukung sepenuhnya hasil rapat konsultasi syuriyah dan mustasyar PBNU yang menyepakati penyelenggaraan muktamar NU ke 35 oleh mandataris muktamar Lampung dalam waktu secepatnya. Kelima, mengajak seluruh PWNU, PCNU, PCINU untuk bersama-sama mengawal dan mengamankan keputusan hasil rapat konsultasi syuriyah dan mustasyar PBNU demi kejayaan jam’iyah dan jamaah NU.
Semoga kelima point tersebut menjadi amal jariyah untuk menginspirasi siapapun agar meneggakkan spirit islah. Sebab, Islah merupakan pondasi penting dalam membangun kehidupan bermasyarakat, beragama, dan beragama. Terlebih lagi, islah merupakan kado istimewa dalam menatap semangat baru di tahun 2026 agar NU semakin kokoh. (*)








