Ini Alasan Kecintaan Mbah Maimoen Terhadap Keturunan Rasulullah Saw

SImbah Maimoen Zubair

Oleh KH. Zuhrul Anam Hisyam, Pengasuh Ponpes At Taujieh Al Islamy 2, Leler, Randegan, Banyumas, Jawa Tengah

Di tengah duka mendalam meninggalnya orang tua sekaligus panutan kita semua, Syaikhuna KH. Maimoen Zubair, saya sangat bahagia melihat bagaimana respon para muhibbin, pejabat sekaligus para santri yang demikian membantu, terlibat, baik pasif maupun aktif, dan bahkan yang memantau perkembangan informasi Syaikhuna KH. Maimoen Zubair sampai ke peristirahatan terakhir. Tak tertinggal berjuta terima kasih untuk Bapak Dubes, DR. Agus Maftuh Abegebriel yang sangat bekerja keras dan nampaknya memiliki kedekatan khusus dengan Syaikhuna Maimoen Zubair dan saya beberapa kali mendengar langsung cerita dari beliau tentang kedekatan itu, di samping memang masih ada hubungan famili.

Bacaan Lainnya

Bagaimana tidak bahagia, beliau meninggalkan kita semua diantar, dishalati, dan didoakan oleh tokoh tokoh yang sangat beliau cintai semasa hidupnya, terutama kalangan Ahlul Bait, keluarga Nabi Agung Muhammad Saw., Sering kita mendengar dari orang orang terdekat beliau, bagaimana kecintaan Syaikh Maimoen pada Ahlul Bait.

Seperti kita tahu, mencintai Ahlul Bait merupakan keniscayaan dari mencintai Nabi Muhammad Saw., Layaknya kita mencintai seorang guru maka akan dengan sendirinya mencintai keluarganya. Apalagi di Alam Barzakh semua tabir akan terbuka (inkisyâf al-Ghithâ’). Di saat itu, tak ada yang diinginkan terkecuali Ridla Nabi Muhammad Saw., Kedekatan dengan Ahlul Bait merupakan salah satu pintu mendapatkan Ridla Nabi Muhammad Saw., Maka Imam Suyuthi mengatakan, andaikan tabir gaib ini dibuka, niscaya semesta terlihat akan terpenuhi oleh Nur Muhammad.”

Sebagai murid, saya bisa merasakan betapa bahagianya Syaikhuna Maimoen menyaksikan para Ahlul Bait mengiring, menshalati dan mendoakan secara langsung kepulangan beliau. Seseorang yang jika mendengar kasidah Ahlul Bait bisa menangis tersedu-sedu. Hal itu tak bisa diperoleh tanpa kecintaan mendalam Syaikh Maimoen terhadap Nabi beserta keluarganya. Atas dasar itulah, menurut informasi dari salah satu putra Gus Wafi, Habib Hanif dan Habib Rizieq Shihab, diminta oleh pihak keluarga untuk memimpin doa kepulangan beliau ke peristirahatan terakhir.

Semua orang ingin memberi penghormatan kepada sosok yang tanda kewaliyannya begitu jelas. Terlihat bagaimana ribuan santri, Muhibbin, pejabat, dan para peziarah, semua ingin mendapatkan ‘nadhrah’ Syaikh Maimoen. Dalam sebuah riwayat dikatakan, “Allah mempunyai sejumlah manusia pilihan yang jika menatap akan mengantarkannya pada kebahagiaan hakiki.”

Seyogyanya, rasa saling membenci antar sesama umat Islam tidak dipelihara, terlebih pada Ahlul Bait. Kita semua, kelak, akan mencari Nabi dan mengharapkan belas kasihannya.

Makkah, 7 Dulhijjah 1440 H.

Keterangan Foto: Syaikhona Maimoen Zubair saat memberikan ijazah Hizb Syafi’i dan wiridnya Mbah Manab Lirboyo kepada Gus Anam. Tulisan ini asli berjudul “Kesantunan Syaikhona Simbah KH. Maimoen Zubair dan Ahlul Bait.”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *