Cara Mbah Maimoen Didik Anak-anaknya

Cara Mbah Maimoen Didik Anak-anaknya

Posted on

Cara Mbah Maimoen Didik Anak-anaknya.

Ada wali santri Pondok Pesantren Al-Anwar sowan kepada Syaikhona Maimoen Zubair. Ia mengadukan kenakalan anaknya kepada Yai: “Pangapunten Mbah, anak kulo nakal sanget”.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

“(Mohon maaf Mbah, anak saya nakal banget)”.

Syaikhona Maimoen pun menanggapi keluhan wali santri tersebut: “Ora…Ora nakal. Nek iseh gelem neng pondok berarti yo ijeh apik”.

“(Tidak…tidak nakal. Bila masih mau berada di pondok berarti ya masih baik)”.

Begitulah ajaran akhlak yang dicontohkan Beliau. Semoga kita bisa mencontoh.

Anak Mbah MoenPutra Mbah Moen
Foto: Sebagian putra-putra Yai berkumpul makan bersama menggunakan satu nampan setelah tahlilan di Ndalem. Tahlilan dilaksanakan sampai hari ke 40 setiap selesai Isya’ di Ndalem Yai.

رحم الله شيخنا وأسكنه مع الأبرار، في روضة من رياض جنة ربنا العزيز الغفار، وحفظ أهله وأولاده وأحفاده وأسباطه وذرياته وطلابه ومحبيه ورعاهم جميعا من كل البلايا والفتن، ظاهرا وما بطن، وجعلهم وإيانا خلفاءه الصالحين الراشدين المرشدين، بجاه سيد المرسلين وإمام المتقين حبيبنا وشفيعنا محمد صلى الله وسلم عليه وعلى آله وأصحبه أجمعين.

Ditulis oleh kanthongumur didasarkan pada keterangan ustadz Ahmad Fachrur Rozi,
Malam Senin Legi, 18 DzulHijjah 1440 H/ 19 Agustus 2019 M, di Kramatsari III.

________________

Semoga artikel Cara Mbah Maimoen Didik Anak-anaknya ini memberikan manfaat dan barokah untuk kita semua, amiin..

BONUS ARTIKEL TAMBAHAN

Kisah Abdurrahman bin Auf, Sahabat yang Gagal Jadi Orang Miskin!.

“Kalaulah anak Adam lari dari rezekinya (untuk menjalankan perintah Allah) sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya.” (HR Ibnu Hibban No. 1084)

Miskin kaya sudah ada yang mengaturnya. Dan sosok Abdurrahman bin Auf adalah profil seorang sahabat Nabi yang selalu gagal jadi orang miskin. Jika tiba-tiba kondisi ekonomi “down”, saya selalu terhibur (kembali bersemangat) mengingat kisah bisnis Abdurrahman bin Auf, tentang investasinya membeli kurma busuk.

Suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, Abdurrahman bin Auf  RA akan masuk surga terakhir karena terlalu kaya. Ini karena orang yang paling kaya akan dihisab paling lama.

Maka mendengar ini, Abdulrahman bin Auf  pun berfikir keras, bagaimana agar bisa kembali menjadi miskin supaya dapat masuk surga lebih awal.

Baca Juga >  Kisah Habib Umar dan Totalitasnya Dalam Berdakwah

Setelah perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan sahabat menjadi busuk. Lalu harganya jatuh. Abdurrahman bin Auf pun menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat tadi dengan harga kurma bagus.

Semuanya bersyukur. Alhamdulillah. Kurma yang dikhawatirkan tidak laku, tiba-tiba laku keras! Diborong semuanya oleh Abdurrahman bin Auf. Para Sahabat Nabi gembira. Abdurrahman bin Auf  pun juga gembira. Sahabat lain sungguh gembira, sebab semua dagangannya laku. Abdurrahman bin Auf  gembira juga, sebab berharap jatuh miskin!

Masya Allah! Hebat seorang Abdurrahman bin Auf. Coba kalau kita? Usaha goyang dikit, udah teriak tak tentu arah. Abdurrahman bin Auf merasa sangat lega, sebab tahu akan bakal masuk surga dulu, sebab sudah miskin.

Namun. Masya Allah! Rencana Allah SWT itu memang terbaik. Tiba-tiba, datang utusan dari Yaman membawa berita, Raja Yaman mencari kurma busuk. Rupa-rupanya, di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular, dan obat yang cocok adalah kurma busuk! Utusan Raja Yaman berniat memborong semua kurma Abdurrahman bin Auf dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.

Orang lain berusaha keras jadi kaya. Sebaliknya, Abdurrahman bin Auf berusaha keras jadi miskin tapi selalu gagal.

Jadi, yang banyak memberi rezeki itu datangnya dari kurma yang bagus atau kurma yang busuk? Allah Subhanahu wa ta’ala lah yang memberi rizki.

Pelajaran dari kisah ini sangat spesial buat kita, sebab kisah ini membuat kita harus yakin bahwa rezeki itu mutlak dari Allah. Bukan hanya karena usaha kita itu sudah cukup bagus atau produk kita yang terbaik yang akan memberi kita omzet yang banyak.

Semoga kisah ini dapat menyuntik kembali semangat dalam diri kita semua, yang sedang diuji dalam pekerjaan dan usaha kita, untuk lebih mengutamakan urusan kepada Allah dibanding urusan dunia yang sementara ini. Amin.

Penulis: Abdurrahman Al Ghorib

___________________

Semoga artikel Kisah Abdurrahman bin Auf, Sahabat yang Gagal Jadi Orang Miskin! ini memberikan manfaat dan barokah untuk kita semua, amiin..

simak artikel terkait di sini

simak video terkait di sini