Mbah Maimoen dan Putra2nya

Belajar dari Para Putra Mbah Moen: Saat Tahlilan, Ahli Waris Harus Dekat Rois

Posted on

Para putra Syaikhuna Maimoen Zubair yang tidak berangkat ke Makkah yakni Gus Ubab, Gus Najih, Gus A. Ghofur, dan Gus Idror praktis menjadi tuan rumah selama tahlil 7 hari. Masing-masing bahkan menyempatkan haturkan terima kasih kepada para habaib, kiai dan ulama serta masyarakat luas yang selalu hadir di Pesantren Al Anwar Sarang Rembang Jawa Tengah. Pula masing-masing berkenan bercerita, berbagi kisah menakjubkan yang dialami abahnya.

Seperti cerita Gus Idror, misalnya. Putra bungsu Syaikhuna ini ngendika: “Keranten abah kawulo sampun kapundut, kawulo wantun cerito. Qoshidah Sa’duna fiddunya, menawi wonten teks-teks ingkang mboten sami kalih teks-teks Al-Anwar, panci abah kawulo angsal mboten saking alam dzohir, tapi abah kawulo dipun imla’ saking alam ruhani”.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

“Karena Abah Saya sudah dipanggil kembali oleh Yang Maha Hidup, saya baru berani bercerita. Dalam Qoshidah “Sa’duna Fid-dunya” mungkin ada teks/redaksi yang tidak sama dengan teks yang di Pondok Al-Anwar. Hal itu karena Abah mendapatkan teks itu bukan dari alam dzohir seperti ini, tetapi didikte (Imla’) dari alam ruhani (ghoib)”.

Di sisi lain, Ketua Umum PBNU Kiai Said Aqil Siraj yang turut hadir acara tahlil hari ke 7 untuk Mbah Maimoen meyakini, generasi putra Mbah Moen sangat siap menjawab tantangan zaman. “Beliau-beliau sosok yang alim, tak diragukan lagi. Bahkan satu orang Gus Najih saja sudah sangat diakui kealimannya. Apalagi ditambah dengan yang lainnya,” tegas Kiai Said.

Lalu apa teladan utama yang ditunjukkan para putra Mbah Maimoen? Soal kecerdasan mungkin kita angkat tangan. Soal kealiman, apalagi. Sudah dikaruniai istiqomah istighfar 100x saban hari saja sudah alhamdulillah. Lalu apa yang bisa kita contoh dari mereka?

Baca Juga >  Lima Karomah Syeikh Abdul Qodir al-Jilani Saat Dilahirkan

“Saat tahlilan, ahli waris harus dekat rois,” kata Pak Kiai—ini kiai yang sama dengan cerita tuyul, buto ijo dan pencuri kotak infaq tempo lalu—pada penulis. Ya, para putra Mbah Maimoen sudah menunjukkan contoh nyata kepada kita. Jika mengadakan majelis dzikir tahlilan mendoakan orang tua, maka kita semestinya duduk berdekatan dengan rois tahlil. Atau setidaknya berada di ruangan yang sama. Bisa atau tidak bisa ngaji, lancar atau tidak baca yasin, dan akrab atau justru asing dengan kalimah thoyyibah, yang penting ahli waris harus dekat dengan rois.

“Karena ruh orang tua kita akan tersenyum bahagia melihat anak-anaknya kirim doa untuknya dengan posisi dekat rois tahlil,” terang Kiai. “Bukan malah sibuk di luar ngurusi parkir kendaraan jamaah, atau pas tahlil malah asyik WA-nan dengan ponsel,” lanjut kiai.

Tentu yang terakhir ini menjadi otokritik bagi masyarakat kita, para ahli waris yang masih enggan duduk berdekatan dengan sang rois. Kalau kita tidak mampu meniru kecerdasan dan kealiman putra-putra Mbah Moen, cukuplah kita meneladani akhlaknya: duduk dekat rois atau mbah kaum.

Ngoto,  malam 13 Dzulhijjah 1440 H

Bramma Aji Putra, Pegawai Kemenag DIY dan Pengurus LTN PWNU DIY