HALAL BIHALAL PWNU DIY, Kyai Mas’ud: Pengurus NU Harus Seperti Mua’zin

KH Ubaidillah Shodaqoh memberi mau'idzoh hasanah.

Bangkitmedia.com, BANTUL – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY menyelenggarakan Halal bihalal dan Pamitan Calon Haji NU di Gedung Bapendan, Wonokromo, Pleret, Bantul, Ahad (27/4/25). Hadir dalam acara tersebut seluruh jajaran Syuriah PWNU DIY. Tampak Rois KH Mas’ud Masduki dan Ketua Tanfizdiyah Dr. KH. Zuhdi Muhdor, M.Hum beserta jajarannya.

Hadir juga Kepala Biro Kesra Setda DIY mewakili Gubernur, H Faishol Muslim. Hadir juga para mustasyar PWNU DIY, antara lain KH Asyhari Abta, Prof. Dr. Mohammad Maksum, Prof. Dr. H. Susetiawan, Prof. Dr.  Purwo Santoso, KH Yasin Nawawi, dan KH Masharun Ghozalie. Sejumlah pengurus PCNU se-DIY, baik Rois Syuriah maupun Tanfidziyah juga hadir. Acara juga dihadiri Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag RI, Prof. Dr. H. Waryono Abdul Ghofur yang juga pengurus Syuriah PWNU DIY. Hikmah halal bihalal disampaikan Romo KH Ubaidillah Shodaqoh, Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah masa khidmah 2024-2029.

Dalam sambutannya Kyai Zuhdi Muhdlor menekankan akan pentingnya peran pengurus NU dari berbagai tingkatan untuk tertib administrasi dan mendata kembali  atau  menyelamatkan aset-aset NU yang kini beralih tangan, misalnya ada tanah wakaf NU untuk lembaga pendidikan negeri. “Banyak sekali aset NU yang ghaira jalis atau tidak jelas,” gurau Kyai Zuhdi.

Seperti ada beberapa sekolah/madrasah NU belum bisa kembali ke pangkuan LP Ma’arif NU, ketika dulu pernah  menggunakan strategi untuk tidak  menggunakan label NU. Karena banyaknya tekanan rezim Orde Baru ke NU.

“Mendata  dan menyelamatkan  aset-aset NU sekarang, sama sulitnya dengan mengatur strategi gerilya untuk tetap eksis di bawah tekanan pemerintah era Presiden Soeharto,” sambungnya. Akses politik,sosial dan budaya warga NU terpinggirkan.

Damanhuri, Rois Syuriah PCNU Bantul, yang juga mewakili calon jamaah Haji NU, memohon doa restu kepada semua masyarakat agar ibadah  hajinya bisa berjalan lancar dan mabrur di sisi Allah swt.

Kyai Ubaidillah Shodaqoh yang memberikan tausyiah pada kesempatan ini, menyampaikan bahwa di NU mempunyai dua sanad. Yang pertama adalah sanad struktural dari SK pengurus NU di atasnya, dan yang kedua sanad ruhaniyah (kultural).  Sanad ruhiyah ini yang energinya terkadang lebih besar ketimbang yang struktural.

Dan yang membuat prihatin kyai Ubaid adalah generasi NU kita sekarang banyak yang kehilangan sanad ruhaniyah ini. Mereka mengenal NU dari literasi yang ditulis oleh orang-orang non NU. Yang sifatnya tendensius dan mengaburkan Sejarah pejuang-pejuang awal NU.

Acara ditutup dengan doa yang dipimpin KH. Mas’ud Masduki, sesaat setelah azan zuhur berkuandang. Dengan spontan beliau mengutip ayat QS. 33 “Siapakah yang  lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjkan amal yang saleh dan berkata; “sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?”.

“Itu semestinya filosofi kita sebagai pengurus NU tidak hanya bisa memanggil dan  mengajak saja, tapi ikut aktif berkiprah di NU mengemban amanah tersebut. Seperti  mu’azin tentu ia tidak pulang usai azan, tapi tetap mengikuti salat berjamah dulu, candanya kyai yang sambut tepuk tangan dan gelak tawa hadirin semua. (Ariffaozi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *