Hafal Alfiyah Ibnu Malik Bisa Jadi Ilmu Pelet
Dulu ketika masih di pesantren, salah satu kitab yang dianggap “serem” dan dipercaya memiliki “tuah” oleh kebanyakan santri adalah kitab Alfiyah ibnu Malik — sebuah kitab karangan Muhammad bin Abdullah bin Malik al-Andalusi yang berisi 1002 bait syair nahwu-sharaf. Santri-santri yang sanggup menghapalnya secara utuh memiliki “keistimewaan” dan mengundang decak kagum para santri dan ustadz.
Untuk menghapalnya, cerdas saja tidak cukup, tapi butuh ketekunan, kesungguhan, serta kedisiplinan tinggi. Ada sebuah cerita yang sering diulang-ulang ustaz saya di pesantren. Sewaktu Mbah Manab atau Kiai Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, nyantri di Bangkalan Madura, beliau hanya memiliki sepasang pakaian dan sarung. Ketika sarung atau pakaiannya sudah kotor, ia mencuci dan mengeringkannya di tepi sungai. Sambil menunggu kering, ia berendam di sungai sembari menghapal dan “ngelalar” (memperlancar hafalan) Alfiyah.
Sangking cintanya pada kitab Ibnu Malik ini, mulutnya tak pernah berhenti merapal bait-bait Alfiyah. Bahkan, kata Ustadz saya, dikuburnya pun Mbah Manab masih suka dibacakan syair-syair kitab ini. Karena itu, satu pemandangan menarik ketika saya baru datang ke Lirboya, di makbarohnya banyak sekali santri yang sedang membaca atau menghapal Alfiyah, yang biasanya di kebanyakan makbaroh para peziarah membaca Al-Quran atau aurad (tahlil).
Kebanyakan santri percaya, sama seperti menghapal Al-Quran, untuk menyimpan seribu bait Alfiyah dibutuhkan pikiran dan hati yang bersih. Pikiran-pikiran lain yang bisa menghambat proses “downloading” bait-bait Alfiyah ke dalam memori otak harus disingkirkan terlebih dulu.
Hambatan, cobaan dan godaannya bisa bermacam-macam. Biasanya, godaan paling sering dialami santri putra adalah jatuh cinta/dicintai perempuan. Ketika sudah jatuh cinta/dicintai perempuan, pikirannya akan ambyar dan susah berkonsentrasi. Akibatnya, Alfiyah susah masuk ke dalam memori otak karena sudah dihuni oleh bayangan perempuan. Namun, sebagian teman saya bersemangat sekali menghapal kitab ini karena berharap mendapat cobaan seperti ini. Afiyah semacam “pelet” untuk memikat banyak perempuan. Entah, saya tidak tahu, apakah ini juga berlaku bagi santri putri.
Demikian artikel tentang Hafal Alfiyah Ibnu Malik Bisa Jadi Ilmu Pelet
Penulis: Jamaluddin Mohammad.









Menurut saya itu juga berlaku untuk santri putri, karena saya merasakan ketika saya lulus dari pondok dan selesai 1002 bait alfiyah. Saya tidak pernah sengaja menghafal untuk itu, dan wallahua’lam apakah itu benar atau tidak. Untuk godaan (lelaki) juga saya kurang tau apakah sama atau tidak, yg jelas godaan terbesarnya adalah MALAS.