Ketika Saya Gagal Melayani Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.
Bahwa saya gagal berkhidmah dalam dua hal, artinya saya tidak melakukannya dengan baik dan akhirnya Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki tidak menyuruh saya untuk melakukannya lagi.
Yang pertama adalah khidmah memijat untuk mengantar beliau istirahat. Pada awalnya saya sendiri yang ingin melakukan itu setiap hari. Bagi saya, memijat Abuya menjelang beliau istirahat itu adalah suatu kehormatan dan kebanggan, karena ketika itu adalah saat dimana Abuya tidak sibuk memikirkan sesuatu, terkadang beliau sambil menanyakan sesuatu yang bersifat pribadi lebih detail, sehingga terjadi percakapan yang santai dan lebih dari hati ke hati.
Menurut saya, santri yang biasa memijat Abuya menjelang istirahat itu memiliki “romantisme” tersendiri bersama beliau. Itulah sebabnya saya ingin setiap hari memijat beliau menjelang beliau istirahat malam atau istirahat pagi. Namun setelah beberapa kali saya memijat ketika beliau hendak istirahat malam, suatu ketika, saat saya memijat kaki beliau menemani santri yang memang tugasnya memijat, beliau merebahkan badan miring ke kanan seperti biasa, tiba-tiba badan beliau berbalik dan dengan serta merta menerjang tubuh saya seraya berkata: “Pijatanmu tidak enak!..”
Terjangan beliau membuat tubuh saya yang masih kurus terpental sekitar satu meter ke belakang dan sayapun jatuh terlentang, saya yang saat itu masih baru merasa takut dan mengira beliau marah, namun ternyata beliau tidak marah dan menyuruh saya keluar dengan suara yang ramah. Sejak saat itu saya tidak pernah disuruh memijat beliau menjelang istirahat, walaupun saya bersama beliau hingga menjelang beliau tidur, misalnya setelah saya selesai menulis dan beliau hendak tidur maka beliaupun langsung menyuruh saya pergi untuk beristirahat.
Yang kedua, saya ingin menjadi munsyid (pelantun qasidah) bagi Abuya. Sejak remaja saya suka melantunkan qasidah dan suara saya lumayan bagus, tapi saya pemalu untuk berqasidah didepan orang, saya merasa wajah saya terlihat tidak bagus ketika bermain suara, apalagi ketika menarik suara dengan tinggi. Perasaan itu sering mengganggu saya, sehingga lagu yang sudah sangat saya hafal sekalipun akan menjadi kurang bagus kalau saya lantunkan didepan orang.
Sebelum saya berangkat ke Makkah, salah seorang putra bibi sepupu saya baru pulang dari Abuya, beliau adalah Kiyai Saiful Maslul dan beliau termasuk munsyid terbaik Abuya. Beliau menceritakan pengalaman menjadi munsyid Abuya dan cerita beliau itu membuat saya ingin mengikuti jejak beliau. Setelah saya di Rushaifah, suara saya mulai didengar Abuya ketika saya beberapa kali disuruh mengimami sholat. Di tempat Abuya memang santri yang mengimami sholat dengan gantian dan Abuya selalu jadi makmum, hal itu bisa melatih santri untuk berani menjadi imam atau pemimpin.
Barangkali saja Abuya menilai suara saya bagus, maka suatu ketika sayapun disuruh melantunkan qasidah, dengan sangat gerogi sayapun berqasidah, saya sadar bahwa rasa gerogi itu membuat lantunan saya tidak maksimal dan tidak memuaskan. Tidak lama kemudian saya disuruh qasidahan lagi, hal itu terulang beberakali, namun setiap saya berqasidah selalu gerogi dan gagal untuk maksimal. Akhirnya saya tidak disuruh qasidahan lagi. Namun kini, setelah umur empat puluh tahun lebih saya baru terbiasa melantunkan kasidah di panggung, itupun terpaksa, karena saya memiliki karangan Maulid dan Syair Aqidah dalam bahasa Indonesia, saya ingin memperkenalkan dua karya saya itu di majlis-majlis tapi saya tidak memiliki munsyid, sayapun melantukannya sendiri dan lama-lama terbiasa “manggung” melantunkan qasidah.
Itulah dua gagal khidmah saya, saya tidak dapat memuaskan Abuya dengan dua hal itu, beliau juga tidak memaksa saya untuk menguasai dua hal itu, melainkan cukup dengan kemampuan dan bakat lain yang ada, yaitu menulis. Menulis yang dimaksud adalah menulis halus, bukan mengarang. Saya juga punya bakat mengarang sejak SD, sebelum ke Makkah saya sudah banyak mengarang, ada yang rampung menjadi buku tapi naskahnya hilang di angkot ketika hendak membawanya ke kantor sebuah penerbit, yang sempat diterbitkan hanya buku ilmu Faraidh dalam Bahasa Madura, itupun dengan cetakan foto copy dan ketika itu digunakan sebagai buku pelajaran di MISDAT (Pesantren Abuya Ali Karrar).
Setelah beberapa bulan di Rushaifah saya membeli mesin ketik elektrik untuk melanjutkan hoby menulis, maka di tahun pertama saya menyelesaikan sebuah tulisan, yaitu buku saya yang berjudul “Endless Love, Mengabadikan Cinta Karena Allah”, diterbitkan oleh Penerbit Bina Ilmu Surabaya. Kemudian, ketika Abuya pergi ke Arika Selatan selama dua minggu, saya yang biasanya menulis untuk Abuya jadi memiliki banyak waktu luang.
Sayapun berfikir untuk menulis serius dengan bahasa Arab, karena sebelumnya saya sudah sering menulis dalam bahasa Arab tapi tidak serius dan teratur, baik tulisan biasa maupun syair, bahkan ketika baru masuk kelas di Rushaifah, saya langsung mengerjakan PR mengarang, sehingga saya dipuji oleh salah satu guru kelas yang bernama Syekh Ibrahim Syu’aib Al-Maliki, kata beliau, santri baru itu biasanya baru bisa mengerjakan PR mengarang setelah dua tahun. Seingat saya, di kelas Syekh Muhammad Dhiya’ Ash-Shabuni, yang sering mengarang syair dan mengajukannya pada Syekh Ash-Shabuni adalah saya dan Habib Zain Baharun, bahkan terkadang saya dan Habib Zen saling membalas syair didepan Syekh Ash-Shabuni.
Nah, ketika Abuya pergi ke Afrika selama selama dua minggu itu, kebetulan saat itu ada kitab yang baru terbit dan ditahqiq oleh salah seorang santri Abuya yang namanya -kalau tdak salah- Syekh Ali Syukri, kitab itu tipis dan padat, yaitu salah satu karya Al-Imam Abdullah Al-Haddad tentang aqidah. Sayapun berfikir untuk menulis syarah kitab ini dan mulailah menulis hingga rampung dalam seminggu dan saya beri nama “Al-Minhatul Faridah, Syarh Aqidatil Haddad As-Sadidah”, kitab itu langsung saya tunjukkan pada Syekh Ibrahim Syu’aib Al-Maliki untuk dikoreksi, kemudian saya tulis ulang dengan tulisan yang bagus. Setelah Abuya pulang dari Afrika sayapun menunjukkan kitab karangan saya itu pada beliau. Betapa gembiranya beliau melihat apa yang telah saya lakukan, beliau membuka dan membaca beberapa halaman dengan wajah gembira, saya merasa puas karena telah membuat beliau gembira.
“Kamu sudah biasa menulis?” Tanya Abuya kemudian.
“Ini yang pertama kalinya dalam bahasa Arab, Abuya.” Jawab saya.
“Masyaallah, selama aku tidak ada ternyata kamu gunakan waktumu untuk menulis sendiri. Dan kamu belum dua tahun di sini tapi sudah bisa mengarang kitab.” Lanjut Abuya. Saya diam saja dan Abuya masih membaca. Kemudian Abuya berkata: “Murid-muridku banyak yang alim (pandai), tapi tidak banyak yang berbakat mengarang, kamu baru pertama menulis tapi bahasa tulisanmu sudah bagus.”
Hati sayapun berbunga-bunga mendapat pujian demikian dari Abuya, apalagi Abuya menyebut beberapa santri senior yang sudah menjadi Kiyai besar di Indonesia, kata Abuya, mereka itu alim-alim tapi tidak bisa menulis seperti saya. Kemudian Abuya memberi motivasi dan tip pada saya, kata beliau: “Kamu harus banyak membaca sebagai bekal menulis, bacalah semua kitab syarah Hadits.”
Saya hanya mendengarkan saja apa yang diucapkan Abuya dengan hati berbunga-bunga. Kemudian Abuya berkata: “Kamu jangan buru-buru mencetak kitab ini, simpan saja dulu. Aku sendiri tidak langsung mencetak semua kitab yang sudah selesai kutulis, masih banyak kitab karanganku yang sudah lama kutulis tapi naskahnya kusimpan di lemari dan belum aku cetak.”
Sementara, beberapa hari sebelum Abuya datang dari Afrika, saya kedatangan tamu dari Jakarta, beliau adalah adik nenek saya yang bernama Syekh Abdul Lathif bin Ali Ar-Rahbini, sayapun menitipkan naskah kitab itu untuk dicetak di jakarta. Ketika Abuya berkata “jangan buru-buru dicetak” maka sayapun merasa bersalah, namun ketika itu susah untuk menghubungi Syekh Abdullathif dan ternyata beliau langsung mencetak kitab itu begitu tiba di Jakarta. Namun, sekitar dua bulan kemudian saya juga pulang ke Indonesia karena ada masalah keluarga. Insyaallah nanti akan saya ceritakan secara khusus tentang kronologi kepulangan saya.
Intinya, keberkahan dan motifasi Abuya sangat berpengaruh didalam meningkatkan semangat menulis saya. Hingga kini saya telah menulis lebih dari sepuluh judul buku walaupun kegiatan saya di luar cukup padat, sehingga banyak teman saya yang berkata: “Kok masih sempat menulis…”
Sekali lagi, ini termasuk barokahnya Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki. Saya merasa tidak banyak mendapat ilmu Abuya, karena saya hanya dua tahun bersama beliau, saya bahkan merasa tidak berhak mengaku “santri Abuya”, saya hanya pernah berkhidmah pada beliau. Maka saya tidak pernah membawa-bawa nama Abuya ketika berkenalan dengan komunitas baru, kecuali ada yang bertanya “pernah di mana di Arab” maka terkadang saya jawab “pernah berkhidmah sebagai juru tulis Abuya”.
Saya hanya membawa keberkahan para leluhur dan para guru, termasuk Abuya, tanpa mebawa-bawa nama mereka agar saya lebih terima oleh siapapun, bahkan saya tidak mau dihormati lebih karena ayah saya. Saya diterima di banyak tempat bukan karena mengaku murid Abuya, bahkan banyak orang yang mengundang saya dan mereka tidak kenal Abuya. Saya selalu ingat nasehat yang pernah dikatakan ayah saya: “Kalau kamu mengandalkan nasabmu maka kamu tidak akan pernah bisa berprestasi melebihiku.”
Membawa-bawa nama orang tua saja saya merasa malu, apalagi membawa-bawa nama guru. Tapi saya akui, dua tahun bersama Abuya Sayyid Muhammad telah merubah semuanya, dan semua yang saya capai setelah itu adalah karena barokah Abuya.
Demikian kisah Ketika Saya Gagal Melayani Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, semoga bermanfaat.
KH Ali Badri Pasuruan, santri Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.








