Tepat di tanggal 23 Mei 2007 sang guru meninggalkan kami dengan usia 35 tahun.
Ya, KH. Zainal Arifin Thoha atau sapaan akrabnya Gus Zainal telah benar-benar berpulang ke haribaan Sang penguasa waktu. Saya datang ke Jogja dua tahun yang lalu setelah saya dipasrahkan ke pengasuh yang sekarang, Bapak Husni Amriyanto Putra,. MA oleh paman saya di Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’arie Yogyakarta.
Tentu saja saya tidak pernah menjumpai sosok Gus Zainal yang konon salah satu dai kondang, sekaligus penulis yang produktif. Duduk santai berkumpul melingkar, di hadapan pintu depan joglo ternaungi pohon jambu air— dari penuturan para senior, saya baru bisa mengenal sosok Gus Zainal. Kemudian saya bisa membayangkan bagaimana sosok Gus Zainal semasa hidupnya.
Kampanye literasi di pesantren menjadi salah satu tujuan beliau mendirikan Komunitas Kutub di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’arie. Beliau selalu mengutip ungkap Imam Ghozali, “Kalau kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah.” Kutipan tersebut dikuatkan dengan jargon beliau yang mengatakan “Aku menulis, maka aku ada.”
Semangat beliau berkecimpung di dunia kepenulisan dibuktikan oleh sejumlah karya-karya antara lain, Aku Menulis Maka Aku Ada, Runtuhnya Singgasana Kiai, Pesantren dan Kekuasaan, Jagadnya Gus Dur, Kemanusiaan dan Pribumisasi Islam, Ketakutan, Museum dan masih banyak lagi. Tidak heran kemudian dari gemblengan beliau, santri-santrinya menjadi penulis-penulis yang produktif dari generasi ke generasi.
Saya pun kecipratan berkah beliau, meski saya tidak pernah bersentuhan secara langsung dengan beliau. Hanya saja, setiap seusai sholat magrib berjamaah, saya selalu senantiasa menyempatkan diri tawasul terhadap beliau.
Semangat untuk berdakwah juga selalu membumbung di dada Gus Zainal. Tiga aspek spiritualitas, profesionalitas dan intelektualitas menjadi peneguh jiwa beliau yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau sering mengisi pengajian rutin bagi berbagai kalangan. Beliau juga mengajar sebagai dosen Universitas Islam Sunan Kalijaga (UIN) di fakultas dakwah dan sebagai dosen di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Selain itu, beliau juga gemar berziarah ke makam.
Saya membayangkan bagaimana sosok Gus Zainal semasa hidupnya. Beliau sangat humanisme, humoris, dan berwibawa. Gus Zainal juga dikenal sebagai orang yang dermawan, selalu menolong ketika kesusahan. Pribadi yang selalu dicintai oleh sahabat-sahabatnya. Mengabadikan setiap jelah memikirkannya ke dalam tulisan. Karyanya menjadi pelajaran yang penting, karena mengandung hikmah spiritual. Tidak mengherankan jika, beliau beranggapan, apa yang bisa kita tinggalkan kecuali karya.
Menilik pada masa lampau, para ulama-ulama terdahulu meninggalkan banyak karya dan itu penting bagi kehidupan generasi berikutnya. Bagi kami para santri-santrinya, Gus Zainal tetap bersama kami dalam bentuk karya.
Penulis: Anas, Mahasiswa UNU Yogya dan Santri PP. Mahasiswa Hasyim Asy’arie Yogyakarta.








