mbah moen sarang rembang

Gus Ulil Mengenang Keistimewaan KH Maimoen Zubair Sarang

Posted on

Lebaran tahun ini (2018-red)–sebagaimana tahun-tahun sebelumnya,– saya, alhamdulillah, masih berkesempatan untuk sowan kiai paling sepuh dan paling ‘alim dalam ilmu-ilmu keislaman, terutama ilmu fekih (ini pelafalan ala Kiai Sahal Mahfudz yang saya sukai: fekih), di Jawa, bahkan di Indonesia, saat ini. Kiai itu, tiada lain, adalah Kiai Maimoen Zubair, pengasuh Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang.

Saya sowan beliau dengan, seperti biasa, ditemani Mbak Admin Ienas Tsuroiya dan kedua anak saya. Kali ini Mbak Admin sungkan “livestreaming” seperti biasanya. Di hadapan kiai sepuh dan karismatik seperti Mbah Moen, kami tak berani melakukan hal yang macam-macam selain “ngestokaken dhawuh” (mendengarkan ucapan kiai).

Yang selalu menyenangkan saat sowan Mbah Moen (begitu warga nahdliyyin biasa memanggil beliau) adalah satu ini: kita bisa duduk berjam-jam di hadapan beliau, sementara beliau “medhar” (mengurai) banyak hal yang menarik, mulai dari kisah para kiai, sejarah Islam di Indonesia, sejarah politik Islam.

Terakhir sowan Mbah Moen dua hari lalu, saya beruntung bisa menikmati suasana “njagong” yang santai dengan beliau. Saya sengaja sowan beliau agak akhir, seminggu setelah lebaran, menunggu “banjir” tamu agak reda, sehingga ada waktu yang agak senggang untuk bercakap-cakap dengan beliau.

Sejam lebih saya berada di ruang tamu Mbah Moen yang amat sedehana dan begitu-begitu saja sejak dulu, menikmati “ceramah gratis” beliau tentang banyak hal, terutama, yang menarik, mengenai sejarah berdirinya kerajaan Saudi dan pemberontakan bangsa Arab (dalam sejarah modern kerap disebut “Arab’s rebellion”) terhadap Turki Usmani.

Pada umurnya yang ke-94 tahun, Mbah Moen masih memiliki ingatan yang tajam dan jernih. Bahkan, bulan puasa kemaren, masih ngaji selama sebulan kitab tasawwuf yang kondang, ” Al-Risalah al-Qusyairiyyah”.

“Aku iki wis tua. Alhamdulillah aku ya isih kuat mulang. Wingi jarene sing melok ngaji ana wong enem ewu,” kata Mbah Moen. (Saya ini sudah tua. Alhamdulillah saya masih kuat mengajar. Kemaren [waktu bulan puasa], konon yang ikut ngaji ada enam ribu orang).

Baca Juga >  KH Nawawi Abdul Aziz (1925-2015), Rais Syuriah PWNU DIY 1984-1991

Kalau Anda tahu lanskap Pesantren Al-Anwar asuhan Mbah Moen, pasti akan kaget: membayangkan enam ribu santri berdesak-desakan di musalla sempit dan sederhana sekali yang biasa dipakai ngaji selama ini oleh beliau. Saya bayangkan, santri sebanyak itu akan mengular sampai jalan-jalan kampung menuju ke jalan besar: Jl. Daendels atau Jalan Raya Pos.

Sebelum pulang, saya diberi dua hadiah oleh Mbah Moen. Satu: saya dihadiahi kitab karangan beliau yang berjudul, “Al-‘Ulama’ al-Mujaddidun: Majalu Tajdidihim wa Ijtihadihim” (Para Ulama Pembaharu: Cakupan Pembaharuan dan Ijtihad Mereka).

Yang kedua: saya dihadiahi sanad kitab “Al-Risalah al-Qusyairiyyah” yang bulan puasa kemaren “dibalah” atau dikaji oleh Mbah Moen. Saat saya menerima sanad itu, Mbah Moen memerintahkan saya untuk mengucapkan kata “qabiltu” (saya terima).

“Qabiltu, Mbah Maimoen,” kata saya dengan perasaan kegembiraan yang tak terlukiskan. Tak terkira suka-citanya saya mendapatkan dua hadiah yang berharga ini.

Sebelum saya minta undur diri, Mbah Moen masih sempat melontarkan komentar tentang ayah saya, almarhum Kiai Abdullah Rifai. “Ora ana wong sing fanatik karo bapakku kaya Kiai Abdullah Rifai, bapake sampeyan.” (Tak ada orang yang fanatik kepada ayah saya melebihi ayah kamu, Kiau Abdullah Rifai).

Ayahanda Mbah Moen adalah Kiai Zubair, sosok yang memang selalu disebut-sebut dengan penuh kekaguman oleh ayah saya dalam setiap pengajian yang saya ikuti.

أطال الله بقاء الشيخ العالم العلامة كياهى ميمون زبير…

22 Juni 2018

Penulis: Gus Ulil Abshar Abdalla, Pengasuh Ngaji Ihya.