para ulama NU

Dilema Penceramah di Era Skrinsut dan Tautan

Posted on

GAGAL JADI PENCERAMAH

Bulan Maulid kemarin, saya sempat diundang berceramah di beberapa tempat, tiga kali kalau tidak salah. Awalnya saya tidak mau dengan alasan; dalam tradisi keluarga kami, tidak ada satu pun kakek buyut yang jadi penceramah. Pada akhirnya, karena si pengundang memaksa, saya menyerah, setuju tapi bersyarat: durasi ceramahnya sebentar saja atau dibagi dua dengan satu kali istirahat, misalnya ceramah 45 menit x 2 + jeda 15 menit.

Setelah dapat berita viral ceramah Gus Muwafiq yang dianggap melecehkan Baginda Nabi, rencana mau jadi penceramah di tahun depan praktis saya gagalkan. Saya tidak siap dicaci maki netizen. Biar yang punya kebesaran hati dan kelapangan dada saja yang mau jadi penceramah.

Biar tahu saja, ya! Tugas berceramah itu berat. Dia harus monolog selama satu sampai dua jam tanpa jeda, tidak bisa sambil ngemil dan ngopi, beda dengan narasumber di seminar-seminar. Penceramah tidak boleh salah, tidak boleh membuat ngantuk, sedangkan para hadirin enak sekali: sambil main WA, sambil main tangkapan layar (skrinsut), dan berbagi tautan.

Baca Juga >  Perlunya Mengukuhkan Kembali Islam Nusantara

Di peradaban skrinsut dan peradaban tautan, menjadi penceramah itu harus siap lahir-batin. Ingat, bicara terus tanpa jeda itu sulit karena tidak ada tombol undo / “control + Z” di atas panggung. Dan dalam pada itu, para pendengar dan netizen punya segala-galan.

Penulis: Kiai M Faizi, Annuqoyah Sumenep Madura.