gus dur

Gus Dur; Ruh Dakwahnya yang Sebening Air, Selembut Angin

Kala itu di kisaran tahun 2007, ketika saya sedang mengenyam kuliah di Jakarta. Bersama kawan-kawan pejuang tahfidz, kami tinggal di asrama dibawah bimbingan senior Imam Nafi’ Junaidi.

Mas Nafi’ ini, selain aktif di kegiatan extra kampus, dia juga tercatat sebagai santri Ciganjur, ini karena rutinitasnya di hari-hari tertentu mengaji di Pesantren Gus Dur.

Suatu hari, mas Nafi’ mengajak saya untuk mengaji khataman al-Qur’an di bilangan perumahan elite Jakarta.

“Ini atas perintah Gus Dur,” katanya. Karenanya tak ada alasan bagi saya untuk menolak.

Sesuai alamat yang telah ditunjukkan oleh Gus Dur kepada Mas Nafi, kami tiba di lokasi. Bapak tuan rumah menyalami kami, mempersilakan kami duduk, dan menyuguhkan beragam hidangan yang sepertinya betul-betul telah dipersiapkan sebelumnya. Kami ngobrol bersama, si tuan rumah mengaku dekat dengan Gus Dur.

“Gus Dur itu guru saya di banyak hal,” katanya.

Namun, sedari tadi ada satu perkara yang sangat mengganjal di hati kami, yaitu tepat di tembok ruang tamu rumah ini terpampang jelas lambang “salib”. Iya Salib, simbol ideologis Kristiani. Dan parahnya lagi, dijejer berdampingan dengan kaligrafi “Allah” dan “Muhammad”. Hehe, temannya Gus Dur memang lucu-lucu ya, sekaligus aneh pula. Sampai disini anda ketawa?

Nampaknya, si tuan rumah membaca ekspresi keganjalan kami. Beliau seketika membuka pembicaraan:

“Maaf mas-mas yang saya hormati, sebelum acara mengaji dimulai, ijinkan saya sedikit bercerita. Begini mas, acara mengaji di rumah saya ini memang inisiatifnya Gus Dur. Saya sendiri sebenarnya non-muslim, tepatnya Kristen.”

Kedekatan saya dengan Gus Dur sungguh hubungan yang penuh kedamaian, beliau tidak pernah menyudutkan saya dalam hal agama. Jangankan kok meminta masuk Islam, tanya agama saya aja baru kemarin. Kebanyakan obrolan kami adalah canda tawa. Itulah yang saya suka dari Gus Dur.

Baca Juga >  Gus Dur dan Perkataan “Aba’uka Tsalatsatun (Bapak-bapakmu Ada Tiga)…”

Ketiga anak saya, semua nge-fans Gus Dur. Setiap saya ada agenda untuk bertemu Gus Dur, ketiganya ikut. Nah, saking nge-fans-nya anak-anak ini sama Gus Dur, sampai-sampai ketiga anak saya ini masuk Islam”. Bapak ini menghentikan pembicaraan, diselingi dengan tawa. Haha. Tulus dan tanpa beban.

Sampai disini kami tercengang. Bapak si tuan rumah meminta ijin memanggil anak-anaknya. Keluarlah ketiga anaknya, menyalami kami satu-persatu. Singkat cerita, kami bercengkerama, hingga ketiganya larut mengaji bersama kami.

Demikianlah yang selalu saya kenang dari Gus Dur; ruh-dakwahnya yang sebening air, selembut angin. Kesabarannya membimbing, keluasannya merengkuh sesama. Hingga akhirnya terbentuk menjadi sebuah catatan inspiratif yang saya susun sendiri; “Jika tidak terraih bapaknya, semoga akan terrengkuh anaknya”.

Saya pun jadi teringat kisah Nabi Muhammad SAW, satu tarikh ketika Nabi hijrah ke Thaif. Saya mengingat penuh spiritnya, hanya sedikit lupa detail narasinya. Ada yang mau menambahkan kisah Nabi di Thaif?

Monggo ya, saya tunggu…

Penulis: Moammar Elba.