gus kelik dan habib syekh

Doanya Gus Kelik Krapyak Menggetarkan Langit Makkah-Madinah

Posted on

Orang terkasihNya adalah duta rahmatNya. Termasuk juga Allah menitipkan sejumlah rahmatNya untuk orang-orang yang pernah akrab dengan Gus Kelik melalui perantara beliau. Dan rahmatNya itu beraneka ragam, dari mulai kesembuhan, rejeki yang berupa uang dan tercapainya sekian hajat lain yang melingkupi hidup mereka.

Konsep konkret dalam kehidupan Gus Kelik adalah bahwa meminta itu sesungguhnya tak lain adalah memberi. Maka bergembiralah orang-orang yang pernah diminta sesuatu oleh Gus Kelik. Tak heran ketika beberapa waktu yang lalu beliau dipanggil untuk menghadap kepada hadiratNya, mereka yang pernah diminta sesuatu oleh Gus Kelik itu sungguh terharu dan merasa kehilangan, mereka mengantar beliau dengan iringan airmata doa yang teramat menggetarkan.

Jam 02.00 dini hari, saat tetangga-tetangga kontrakan saya di Dusun Balong Lor memasuki peraduan mimpi masing-masing dalam tidur yang pulas, Gus Kelik datang dengan membunyikan klakson mobilnya. Saya segera keluar menyambutnya dengan rasa takzim yang sulit digambarkan. Saya mencium tangannya dengan penuh pengharapan.

Di dalam rumah, di depan buku-buku saya yang jumlahnya ribuan, saya sodorkan minuman dan makanan sekedarnya kepada Gus Kelik. Sambil menikmati hening dini hari, sambil menikmati rokok bersama, sambil bercanda, Gus Kelik tiba-tiba bilang: “Pak Kus, kulo njaluk piring rong gros nggeh?” Dalam keadaan tidak tahu dua gros itu berapa jumlahnya, saya langsung saja jawab, “Sip, Gus, beres.”

Keesokan harinya, oleh Gus Kelik saya diajak ke Progo, sebuah swalayan yang lumayan besar. Saya juga ngajak Pak Aryo yang waktu itu punya mobil Taruna. Di dompet saya ada uang 60.000 (enam puluh ribu) lebih sedikit. Saya menyangka bahwa dua gros itu adalah dua lusin. “InsyaAllah aman,” batin saya. Kepada penjaga swalayan, Gus Kelik menunjuk banyak piring yang mau dibeli.

Baca Juga >  Gus Dur dan Asal Usul “Gitu Aja Kok Repot”

Saya mulai sangsi, jangan-jangan perkiraan saya tentang dua gros itu salah. Saya tanya penjaga swalayan dan dijawab bahwa dua gros itu adalah 24 (duapuluh empat) lusin. Waduh, saya terkejut. Langsung saya pinjam Pak Aryo untuk melunasi piring-piring itu, satu setengah juta. Untung Pak Aryo pas lagi punya. Coba bayangkan kalau di Progo waktu itu tidak ada seorang pun yang bisa saya hutangi.

“Pak Kus kulo dongakke mogi saget teng Mekkah-Madinah nggeh,” kata Gus Kelik setelah saya melunasi piring-piring itu. “Amin,” timpal saya. Hutang pada Pak Aryo baru bisa kulunasi setelah dua bulan kemudian dengan pembayaran dua tahap.

Beberapa tahun kemudian saya betul-betul ditakdir shalat di depan Ka’bah dan sowan pada Rasulullah saw di Masjid Nabawi. Bukan dengan cara menabung terlebih dahulu, tapi Allah mengutus langsung seseorang yang baru saya kenal untuk membiayahi saya umroh. Gus Kelik, tolong kenanglah saya di hadapan hadiratNya.

جعلنا الله به وايا كم من المحبين الى حضرته، امين.

Penulis: Kiai Kuswaidi Syafi’ie, Pengasuh Pesantren Maulana Rumi Sewon Bantul.