Dari Ibn Athoillah “Hikam” ke Sujiwo Tejo “Dalang Edan”- Sudah sejak lama sebenarnya saya menduga-duga bahwa sejumlah kalimatnya Mbah Tejo berasal dari olahan kata Al-Hikam, Ibn Athoillah. Tapi dugaan saya itu kemudian melentur ketika melihat rekam jejak Mbah Tejo yang kemungkinan tidak pernah membaca al-Hikam. Tapi dugaan itu juga sekaligus menguat bila direnungkan pelan-pelan.
Menghina Tuhan tidak perlu menginjak-injak kitab suciNya, besok khawatir tidak bisa makan/ tidak dapat jodoh—kau sudah menghina Tuhan.
Tanpa sedikit pun mereduksi takzim saya ke Ibn Athoillah, saya hendak mendirikan afinitas sebagai langkah bandingan terhadap kalimatnya Mbah Tejo di atas. Bukan pula ingin memaksa-maksa biar terkesan relevan, tapi sudah sejak lama saya memikirkan bahwa ini tampak identik satu sama lain.
اجتهادك فيما ضمن لك وتقصيرك فيما طلب منك دليل على انطماس البصيرة منك .
Ijtihaduka, olehe siro nemen-nemeni. Fiima, ing ndalem barang. Dhumina, kang den tanggung opo Maa. Laka, tertantu siro. Wa taqshiiruka, lan pepekone siro. Fiima, ing ndalem barang. Tuliba, kang den suprih opo maa. Minka, saking siro. Iku Dalilun, dadi pertondo. Ala inthimasil bashiroti, ing atase kebusake peningal ati. Minka, saking siro.
Ngototmu dalam mengerjakan sesuatu yang sudah dijamin hasilnya oleh Allah—sementara kamu teledor di dalam perkara yang diperintah oleh Allah, yang demikian merupakan tanda bahwa mata hatimu terhapus. Tidak punya cahaya.
simak artikel terkait Dari Ibn Athoillah “Hikam” ke Sujiwo Tejo “Dalang Edan” di sini
Allah sudah menjamin setiap rizki makhluknya—yang ada di bumi ini. Itu prinsipnya. Lalu kini sampai pada satu elaborasi betapa banyak hewan yang tidak mampu membawa makanannya sendiri dalam perjalanannya: anjing tidak pernah sangu makanan ketika pergi. Begitu pula burung, bahkan kecoa saat ngelencer tidak pernah mbontot sesuatu untuk perbekalan. Mereka, para hewan tersebut, pergi ya tinggal pergi, dan faktanya Allah memberikan rizki pada mereka. Dari sisi ini bisa jadi manusia kalah tawakkal dari hewan. Bisa jadi para hewan tersebut begitu kuat rasa khusnudzonnya kepada Allah, dan boleh jadi para hewan itu bisa demikian dalam rangka menyindir manusia soal tawakkal.
Manusia tidak bisa seperti hewan dalam sisi tawakkal mungkin karena memiliki akal, dari akal tersebut kemudian timbul rasa takut, khawatir dan sejenisnya. Anjing kalau memiliki akal mungkin saja akan membawa perbekalan: bawa koper atau tas. Akal bagi manusia merupakan alat penimbang, sehingga ketika mau bepergian lebih dulu melakukan kalkulasi: kalau perginya sehari berarti bawa makanan/uang segitu, kalau cuma setengah hari maka cuma bawa segini.
Manusia sejak bayi hingga sekarang sudah diberi makan dan minum oleh Allah. Itu memang jaminan, dan tidak pernah telat. Tapi, tiba-tiba hari ini khawatir besok tidak bisa makan. Padahal, kita percaya pada janji orangtua yang akan mengirimi tiap tanggal satu, dan selama tiga tahun orangtua mengirimi anaknya tiap tanggal satu dan tidak pernah telat. Kita percaya pada orangtua, tapi khawatir Allah akan telat memberikan rizki. Padahal orangtua adalah makhluk—yang artinya memiliki sifat lupa dan dendam dan pelit, itu saja kita masih memberikan kepercayaan.
Begitu pula umat jomblo, sudah tembak sana tembak sini tapi ditolak, lalu akibat penolakan demi penolakan itu menimbulkan kekhawatiran akan jadi jaka tua/perawan tua. Lagian, ia mencari jodoh itu untuk ibadah atau takut dikatakan jaka tua? Maghrib tidak bisa dimaghrib-maghribkan sebelum tiba waktu maghrib. Jodoh tidak bisa dijodoh-jodohkan kalau belum jodohnya. Itu kalau menurut Ibn Athoillah, mata hati jomblo tersebut terhapus, dan kalau menurut Mbah Tejo, ia menghina Tuhan.
Kenapa dikatakan menghina Tuhan? Karena seorang bos pasti tersinggung bila janjinya memberikan gaji tiap bulan pada tanggal sekian diragukan anak buahnya.
Cerita ini sangat masyhur: ada seekor semut ditanya Nabi Sulaiman, berapa jatah makan semut dalam setahun. Sebutir nasi, jawab semut. Baiklah, dalam jangka dua tahun ini aku yang menjamin makanmu. Nabi sulaiman menimpali. Setahun kemudian Nabi Sulaiman mendatangi semut untuk memberi sebutir nasi lagi, tapi beliau melihat sebutir nasi yang diberikannya masih separo, lalu beliau bertanya mengapa masih separo? Katanya jatahmu setahun sebutir nasi.
Aku khawatir panjenengan lupa, selama ini yang menjamin aku Allah, jadi aku habiskan sebutir nasi tanpa keraguan. Tapi begitu yang menjamin makanku panjenengan, aku jadi khawatir. Jawab semut.
Dunia ini berlangsung dengan syarat harus ada khusnudzon, tanpa itu dunia ini akan mandek. Kenapa seseorang berani bepergian? Karena ia khusnudzon akan selamat sampai tujuan. Kenapa seseorang berani makan dan minum? Karena ia khusnudzon makanan dan minumannya tidak mengandung racun. Kenapa seseorang jadi penarik becak? Karena ia khusnudzon akan ada penumpang. Kenapa orang berani buka toko? Karena ia khusnudzon akan ada pembeli. Dan seterusnya.
Seseorang bertamu tiga kali saja ia langsung bisa percaya bahwa kunjungannya yang selanjutnya pasti diberi suguhan. Padahal, sekali lagi, Allah memberikan sesuatu sejak manusia masih dalam bentuk embrio, tidak terhitung jumlahnya tapi..
simak artikel terkait Dari Ibn Athoillah “Hikam” ke Sujiwo Tejo “Dalang Edan” di sini
Teruskan sendiri saja.
Manusia kalau tidak dipercaya saja bisa jengkel. Seseorang mau hutang tapi diragukan akan mampu mengembalikannya pasti ia jengkel sebab tidak mendapat kepercayaan. Dengan memakai logika demikian, apakah Allah tidak memiliki perasaan seperti itu? Meski dipercaya atau tidak Allah tetap akan memberikan rizkiNya.
Secara teori, mencari rizki itu setidaknya ada tiga jenis: adakalanya mengandalkan kekuatan, adakalanya mengandalkan pengalaman, adakalanya mengandalkan kepintaran.
Kuli dapat memanggul semen dua karung, bosnya kadang berjalan saja susah. Kuli makan tempe, bosnya makan sate. dan betapa sangat banyak kerja direktur sangat santai justru gajinya lebih banyak tinimbang kuli yang gedabukan—padahal tanpa kuli, direktur tidak dapat uang. Rizki kalau dipandang hanya memakai kekuatan, tentu manusia tidak kebagian. Kalah oleh gajah, kalah dari jerapah, dan dinosaurus. Itulah bukti kalau rizki tidak bisa serta merta dilihat dari kuat atau lemahnya makhluk, bahwa setiap orang sudah dapat jatahnya sendiri. Orang yang kerja di pabrik, punya jam yang sama—yang satu ngoyo dan lainnya kerja sewajarnya, gajinya akan tetap sama.
Secara teori, pemilik warung semakin tua semakin pengalaman, dengan semakin pengalaman harusnya rizkinya lebih banyak. Tapi sering kali pemilik warung baru, dengan pengalaman yang masih sedikit, menjadi lebih ramai pengunjungnya karena boleh jadi mereka makan sambil melihat penjualnya yang masih semlohay.
Kemudian soal kepintaran, kita lihat secara seksama: sarjana ekonomi. Kenapa kebanyakan dari mereka tidak bisa membuat lapangan pekerjaan atau mendirikan pabrik, melainkan cuma jadi buruh, dan kalau agak mujur jadi sekertaris perusahaan. Siapa yang jadi komisarisnya? Kadang-kadang SD saja tidak lulus. Ahli ekonomi skala nasional seringkali kekayaannya tidak sampai skala nasional. Itulah fakta yang ada.
Dari ketiga simulasi itu, semakin terang bahwa banyak dan sedikitnya rizki tidak bisa ditempuh semata hanya melalui kekuatan, pengalaman, atau kepintaran. Bahwa, sekali lagi, rizki menjadi hak prerogatifnya Allah.
Lalu, apakah dengan demikian artinya tidak usaha saja, tawakkal saja? Tidak demikian aturannya. Yang dilarang adalah ngoyo atau ngotot. Gusti Allah dawuh: semua rizkimu sudah dijamin. Tapi menjamin kan tidak harus disuap? Nasi sudah dihidangkan, akan repot bila Tuan Rumah juga harus menyuapi tamunya. Gambaran sederhananya seperti wong nduwe gawe. Tuan Rumah menjamin akan ada makan, dan penentuan kelas makanan RT atau Lurah atau bupati dan seterusnya berada di dapur. Bila seseorang mendapatkan undangan, tentu ia akan mendapatkan makanan sesuai dengan kelasnya. Tidak boleh merebut piring sesama undangan. Antara duduk saja dan berdiri ngacung ke arah dapur, sama-sama akan mendapatkan jatahnya, dan kadang-kadang yang duduk saja di pojok lebih dulu dapat bagiannya ketimbang yang antri.
simak artikel terkait Dari Ibn Athoillah “Hikam” ke Sujiwo Tejo “Dalang Edan” di sini
***
Mbah Tejo dengan quotes terkenalnya itu mengumandangkan sesuatu yang sudah tuntas dibicarakan oleh al-Hikam—Sudah sangat klise, tapi menjadi sangat keren karena Mbah Tejo tidak lebih dulu membaca al-Hikam. Karena tidak membaca al-Hikam itulah akhirnya saya penasaran dari mana Mbah Tejo mendapatkan inspirasi untuk membentuk kalimat tersebut. Sesuatu yang sejak dulu mau saya tanyakan tapi ndilalah selalu lupa tiap ketemu. Tapi, jangan-jangan Mbah Tejo sudah membaca al-Hikam, lalu disampaikan dengan bahasa zaman sekarang sehingga dapat lebih mudah dicerna oleh masyarakat semasa. Atau Mbah Tejo mendapat bisikan entah dari siapa untuk melengkapi maqolah al-Hikam sesuai dengan konteks zamannya. Entah.
Karena kekuatan pesan yang disampaikan Mbah Tejo itu terhubung erat dengan maqolah al-Hikam di atas, saya kemudian merencanakan mengajak ziarah Mbah Tejo ke bukit Muqottom, nyekar ke makamnya Ibn Athoillah, tahun 2017 lalu. Tapi rencana tinggal rencana, sebab selain sudah petang, Mbah Tejo punya jadwal makan sore dengan bupati Kulon Progo di kapal tepi sungai Nile. Saya agak sedih sebenarnya rencana nyekar itu gagal.
Hingga pada suatu ketika, Mbah Tejo meminta saya untuk mengatur pertemuan dengan Kiai Imron Jamil, Jombang. Kiai dengan keahlian khusus dalam bidang menerangkan al-Hikam. Pertemuan akhirnya terjadi di pesantren Kiai Mojo, Jombang. Saya tak tahu apa saja yang dibicarakannya, tak tahu juga apakah Kiai Imron mengadakan dialog berbasis al-Hikam dengan Mbah Tejo. Gus Izza Sadewa hanya memberikan informasi: Bapak tadi ngerayu-rayu Mbah Tejo untuk Jum’atan. Itu saja, dan tak ada lagi liputan yang disampaikan Gus berambut punk itu tentang pertemuan sunyi antara Kiai dan Dalang tersebut.
Tapi sejak saat itu, Mbah Tejo bilang bahwa apa yang sudah disampaikan di buku dan di seminar dan dipewayangan, ternyata sudah disampaikan oleh Ibn Athoillah. Kata Mbah Tejo, “aku seperti merasa sia-sia menulis dan berbicara selama ini, jebul semua sudah diterangkan Ibn Athoillah”. Artinya, pandangan alternatif saya yang mengatakan bahwa Mbah Tejo sudah baca al-Hikam telah gugur. Maka dengan demikian, quotes di atas memang benar-benar murni hasil olah rasa. Dari kegiatannya merenung, juga intensitasnya dalam menangkap ayat kauniyah.
Akhir kalam, antara khawatir besok tidak bisa makan dan ngototmu dalam mencari sesuatu yang sudah dijamin Allah—terkandung visi yang sama. Antara menghina Tuhan dan mata hatinya terhapus—memiliki kesamaan esensi. Antara Ibn Athoillah dan Sujiwo Tejo—dalam hal dua maqolah yang sudah saya sebut itu, semacam tangis dan airmatanya. Dan saya tentu bersyukur untuk sudah diberi anugerah menjadi sedu-sedannya.
Maret, 2020/ Kairo
_________________
Semoga artikel Dari Ibn Athoillah “Hikam” ke Sujiwo Tejo “Dalang Edan” ini memberikan manfaat dan barokah untuk kita semua, amiin//
simak artikel terkait Dari Ibn Athoillah “Hikam” ke Sujiwo Tejo “Dalang Edan” di sini
kunjungi juga channel youtube kami di sini
Penulis: Usman Arrumy, Kairo Mesir.








