ulama

Banyak Ahli Ilmu, Tapi Gak Punya Mental Pegadang

Posted on

Mental Pedagang. Abdurrahman bin Auf saat awal hijrah ke Madinah punya mental pedagang. Tidak punya modal uang alias modal dengkul. Tapi idenya bagus dan mentalnya baja.

Ranting dan kayu kering dikumpulkannya, diikat jadi beberapa ikatan, terus dibawanya ke pasar dan dijual.

Awalnya penduduk Madinah bingung, kayu kering dan ranting kan dimana-mana banyak, ngapain dijual?

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Eh ternyata ada saja orang beli kayu bakar. Dalam imaji saya, pasti awalnya banyak pada tanya, ente jualan apaan, mas? Jawabnya enteng saja,”Ini memang kayu bakar. Bisa mungut dimana-mana, silahkan saja”.

“Tapi dari pada repot mencari di kebun dan semak-semak, sudah saya kumpulkan. Mending Anda beli punya saya. SUdah dipilihkan yang bagus-bagus”. Ya, kira-kira gitu lah dialognya. Dialog imaginer tentu saja.

Dasar pedagang, apa saja jadi duit, asalkan mau dagang. Dan konsumen itu dimana-mana itu punya karakter yang kurang lebih sama saja. Pokoknya apa saja yang dijual orang, pasti dibelinya. Asalkan tersedia barangnya dan kelihatan.

Tidak di kaki lima tidak juga di mall mewah atau di supermarket, kalau ada barang dipajang di etalase, pasti ada saja yang beli.

Nah, di dunia dakwah, karakter pasarnya mirip-mirip kayak gitu lah. Siapa saja bisa jual dagangan ‘dakwah’nya dengan berbagai macam resep dan masakan. Mau sesat, mau lurus, tetap saja ada pengikutnya.

Bahkan dukun pun bisa dakwah, padahal dukun itu kan kerjaannya nyembur orang, jampe-jampe, nyantet, full komat-kamit dan asap dupa. Ternyata ada saja yang mau jadi pengikutnya. Karena dia jualan dan gelar dagangan.

Teroris pun bisa saja jadi pendakwah. Padahal kerjaannya bunuh-bunuhin orang, minimal kita semua dibilang kafir lah sama dia. Eh ternyata ada saja pengikutnya. Karena dia jualan dan gelar dagangan.

Baca Juga >  Mengapa Mereka Membenci Kiai Said? Ini Alasannya!

Tukang motivator pun bisa saja jadi pendakwah. Padahal kan kerjaan dia bagaimana biar orang termotivasi ini dan itu lewat berbagai trik khas motivator. Eh ternyata ada saja pengikutnya. Karena dia jualan dan gelar dagangannya.

Artis pun bisa saja jadi pendakwah. Padahal tugas artis itu kan nyanyi, joget, akting dan sejensnya lah. Tapi ada saja pengikutnya. Karena dia jualan dan gelar dagangan.

Masyarakat Islam di negeri kita itu ibarat pembeli yang royal. Kayak orang kebanyakan duit, dakwah model apa saja, sesat tida sesat, ngasal atau ngilmu, ngawur atau lempeng, asalkan dijajakan dan digelar dagangannya, pasti ada saja yang beli.

Tinggal masalah mental saja, apakah seorang alim sarat ilmu punya mental pedagang apa tidak. Profesor saya itu ilmu tinggi banget, tapi beliau tidak punya mental pedagang. Hehe beliau orang nya rada risih kalau kudu jualan atau gelar dagangan. Padahal barangnya nomor satu. Wajar kalau muridnya sedikit bisa dihitung jari. Beliau tidak terkenal, malah tidak ada orang yang kenal sebagai pendakwah.

Padahal kalau tahu siapa sosok beliau sesungguhnya, kita bisa ‘nyembah-nyembah’. Ini bukan nyembah manusia dalam arti syirik. Ini nyembah dalam arti takluk, tunduk dan takzhim kepada ilmunya.

Beliau bukan mental pedagang. Itu saja masalahnya.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc.,MA