prof rochmat wahab

Ini Cara Komunikasi Efektif Antara Orang Tua dan Anak

Posted on

Keluarga adalah institusi sosial terkecil yang idealnya terdiri atas orangtua dan anak.

Keluarga yang baik seharusnya mampu menjamin komunikasi efektif antara suami dengan isteri dan orangtua dengan anak. Untuk mengharapkan iklim seperti ini tidaklah mudah, karena secara terbuka cukup banyak ditemukan praktek komunikasi suami dan isteri kurang harmonis dan komunikasi orangtua dan anak terjadi searah dan kurang lancar. Padahal semua menginginkan terbangun keluarga sakinah mawaddah wa rahmah yang diindikasikan dengan hubungan dan komunikasi suami dan isteri yang sehat dan baik, demikian juga hubungan dan komunikasi orangtua dan anak intim, membahagiakan, dan terjadi dua arah.

Hubungan dan komunikasi suami dan isteri seharusnya terbangun dengan harmoni dan penuh kasih sayang (Wa’aasyiruuhunna bil ma’ruuf, QS, An Nisaa’, 19). Berkat kesibukan dan karirnya, sering kali tidak selalu bisa hidup bersama-sama secara fisik, suami tinggal di tempat A dan isteri di tempat B. Secara fisik boleh berbeda tempat, tetapi secara non fisik seharusnya dapat diupayakan hubungan dan komunikasi yang intens dan bermakna dengan menggunakan jasa IT. Bila dikelola dengan baik, efektivitasnya bisa melebihi dibandingkan dengan cara tatap muka, cara konvensional.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Komunikasi efektif suami dan isteri bisa dengan ekspresi komunikasi menggunakan lisan atau tulis atau non verbal yang mampu menyampaikan ide yang dimaksud dan mendapatkan respon seperti yang dimaksud.

Komunikasi efektif suami dan isteri diwarnai dengan rasa empati, komunikasi yang dilandasi rasa cinta, berkomunikasi dengan cara fleksibel (lisan atau tulis sesuai denga kondisi), menciptakan hubungan yang egaliter, rasa tawadlul’, diksi sesuai dengan konteksnya, menjadi pendengar yang baik, hindari ungkapan yang menyinggung perasaan, menghindari kritik dan celaan, gunakan bahasa dan media yang tepat, dan sampaikan keinginan pada waktu dan tempat yang tepat.

Komunikasi efektif antara orangtua dan anak dapat dilakukan dalam berbagai upaya, di antaranya: mendengar serius apa yang disampaikan anak, tidak berasumsi apapun ketika berkomunikasi dengan anak, membiarkan anak bicara sampai selesai, berusaha terus menjaga kontak mata, mulai komunikasi yang efektif sedini mungkin, menghargai pendapat anak, menghargai potensi dan prestasi anak, menggunakan bahasa yang komunikatif, tidak malu kalau minta maaf kepada anak, mengajak anak ngobrol tentang kebutuhan dan masalah yang dihadapi, mendampingi anak membahas berbagai hal yang sedang ngetrend di komunitasnya, memberikan kesempatan kepada anak mengekspresikan apa yang dirasakan dan dipikirkan daripada orangtua lebih mendominasi dan melakukan kontrol anak dalam penggunaan IT.

Baca Juga >  Aku Bangga, Anakku Bahagia dan Keluargaku Sejahtera

Saat-saat yang strategis bagi orangtua dalam membangun komunikasi efektif dengan anak-anaknya perlu diupayakan terus. Ngobrol dengan anak-anak baik dilakukan ketika makan bersama keluarga, sehabis sholat berjamaah, saat-saat antar jemput sekolah, ketika mendampingi anak yang sedang sakit, liburan akhir minggu, liburan semesteran, dan liburan hari raya.

Selain komunikasi dilakukan secara konvensional, dapat juga dilakukan melaui medsos, sehingga terus bisa berkomunikasi kapanpun dan di manapun, dengan tetap kendalikan untuk hindari penggunaan jasa IT yang tidak perlu atau merugikan, bahkan bisa membahayakan, karena taruannya korban meninggal dan kehancuran moral. Tindakan preventif perlu terus diupayakan. Jika dzorurat, maka perlu segera tindakan recovery. Jika tidak mampu kelola dengan baik, maka tunggu keutuhan keluarga terkoyak, bahkan dalam batas tertentu kelancaran studi anak dan masa depan anak menjadi taruhan. Semoga hal-hal yang kurang baik dalam berkomunikasi bisa dihindari.

Akhirnya untuk menciptakan komunikasi efektif baik antara suami-isteri dan orangtua-anak, perlu dibangun trust (trust each other), komunikasi dua arah yang dilandasi sikap demokratis, kesantunan dan ketawadluan, saling respek dan menyayangi serta bicara yang baik-baik atau diam, yang semuanya dilandasi dengan spirit “quu anfusakum wa ahlikum naara” untuk mengharapkan ridlo Allah swt.

Penulis: Prof Rochmat Wahab, Guru Besar UNY.