Belajar Hidup Bertoleransi dari Sopir Truck

PERJALANAN panjang kali ini, ku tempuh dengan suka cita, karena adik bontotku menemukan tambatan hatinya. Tanpa sopir pengganti, saya dan suami saling ganti mengemudi.

Keluar dari tol Sragen, kami menemukan pemandangan yang tidak biasa. Banyak sekali truck gandeng dan mobil dengan muatan berat melintasi Purwodadi menuju arah Pati. Ternyata imbas dari banjir rob yang sudah menjadi langganan di Kaligawe Semarang.Kendaraan berat tersebut terdiri dari truck muatan pasir, mobil muatan sembako dan bahan bangunan.

Berbagai macam tulisan di belakang truck yang membuat saya sedikit terobati dengan jenuhnya perjalanan, yang kami tempuh kurang lebih sembilan jam, melewati pemandangan pohon jati yang sedang trubus daunnya.

Tepat di depanku, ada sebuah truck dengan tulisan yang klise yaitu cintamu tak seberat muatanku. Tiba-tiba sign kanan dinyalakan, saya pun paham, bahwa sopir truck tersebut sedang memberi tanda, jangan nyalip dulu ya…bebanku berat, aku ambil kanan dulu, supaya aku tidak oleng ke kiri.

Berkali-kali sign kanan dipasang. Padahal jelas di depannya tidak ada mobil yang lewat dari arah berlawanan. Jiwa mudaku meronta, ingin ku salip truck tersebut, tapi lagi-lagi sign kanan dihidupkan. Dengan terpaksa kulambatkan gas mobilku. Untung rem mobilnya pakem, dan suspensinya empuk. Jadi mudah untuk mengendalikan kendaraan. Kurang lebih sepuluh menit saya berada di belakang truck tersebut. Jenuh dan bosan, tapi lama kelamaan menjadi sabar.

Begitu pula dalam kehidupan, terkadang kita tidak terima dengan keadaan, ingin mengeluh karena jenuh, ingin lari biar cepat sampai, tanpa mempertimbangkan cepat sampai dengan selamat, atau cepat sampai menuju akhirat. Khuliqal insanu min ‘ajal (QS al-Anbiya; 37). Artinya manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa.

Berjalan perlahan bukan berarti tak bertujuan, berhenti sejenak bukan berarti malas tanpa alasan. Ambil nafas dalam-dalam, sambil menghembuskannya perlahan, dengan dibarengi mengucap lafadz Allah jauh sangat menenangkan.

Saatnya tiba, sopir di depanku menyalakan sign kiri, mempersilahkan saya dengan sopan untuk mendahuluinya. Ku klakson dua kali sebagai tanda terima kasih.

Aku belajar tentang saling menghormati meski tidak saling mengenali. Saya yakin semua sopir mempunyai tujuan yang sama, yaitu sampai di tujuan dengan selamat dari mara bahaya.

Dalam pernikahan tidak hanya menikmati manisnya saja, tapi juga sepaket dengan pahitnya. Sakinah akan tercipta, atas dasar kesalingan dari keduanya. Alhamdulillah, dihadiri dan didoakan oleh KH. Ahmad Badawi Basyir dan juga Ibu Nyai Hj. Hindun Anisah. Semoga keluarga ini mendapatkan limpahan berkah, maslahah, sakinah, mawaddah warahmah.

Pesan untuk kedua adikku adalah pesan yang sama, yang disampaikan oleh Bapakku, waktu pertama kali pergi mondok ke rumah suamiku, sing sabar, sing tenang, moco-moco. Insya Allah ditulung sing Kuoso. (Catatan Istiah Marzuki)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *