Bangkitmedia.com, YOGYA – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU DIY menggelar pameran menggelar Pameran Seni Rupa Ro’an Exhibition di Gallery Prawirotaman Hotel selama sebulan, 28 Oktober sampai 28 November. Pameran di lantai 5 hotel berbintang ini dibuka Ketua PWNU DIY, Dr HA Zuhdi Muhdlor SH MHum, Selasa (28/10) malam.
Dalam even untuk menyemarakkan Hari Santri 2025 ini dipamerkan tak kurang dari 33 karya seni, baik seni lukis, seni patung, maupun seni instalasi. Seniman yang unjukkarya dalam kesempatan ini terdiri Datuk Wira, Ho2x, Stiyoko, Kartiko, Danang (mumu), Rahmat Efendi, Susiyo Guntur, Gus Kholil, Sony P, Lestyono dan Gappo.

Ketua PWNU DIY Dr HA Zuhdi Muhdlor SH MHum dan para tamu undangan bersama para seniman yang memamerkan karyanya.
Ro’an merupakan istilah yang lahir dari rahim pesantren. Secara bahasa Ro’an berarti gotong-royong, mengandai pada pekerjaan yang membutuhkan fisik. Secara istilah, Ro’an merujuk kepada fihak tidak sekedar ikatan fisik, namun juga pada pikiran dan perasaan yang mengikat para santri yang sedang menempuh ilmu di pesantren.
Dewasa ini, sebagai sebuah bangsa Indonesia membutuhkan ruh dari istilah ini untuk mengikat kembali segala hal yang sudah mulai tercerai-berai. Hal tersebut bisa kita dapati pada berbagai tayangan di media sosial, di mana satu sama lain di kalangan masyarakat saling menaruh rasa curiga, lebih mementingkan kehidupan individual ketimbang kolektivitas atau gotong-royong.
Pameran bertajuk Ro’an dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional Tahun 2025 ini merupakan turunan dari tema besar “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia”. Pada kesempatan kali ini dua belas seniman turut serta mengekspresikan segala hal yang berkecamuk dalam kandungan syaraf otak dan hatinya dalam melihat situasi sosial yang tengah terjadi, baik di dalam maupun luar negeri.
Visi dan misi tema pameran kali ini mengusung visi untuk membangkitkan kembali salah satu tradisi lama yang ada di Indonesia dan dikenal dengan sebutan “gotong-royong” dan Ro’an di kalangan santri. (*)








